Sabtu, 17 Desember 2016

PENDEKATAN PSIKOLOGIS DALAM STUDI ISLAM

PENDEKATAN PSIKOLOGIS DALAM STUDI ISLAM

I.    Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang  mempelajari masalah-masalah kejiwaan manusia yang tercermin dalam prilaku yang nyata. Objek formal psikologi adalah jiwa manusia.[1] Jiwa manusia bersifat abstrak dan tidak konkrit, karena itu untuk memenuhi unsur empiris psikologi sebagai ilmu pengetahuan, maka psikologi mempelajari gejala gejala jiwa manusia yang tampak secara lahir.[2] Layaknya disiplin ilmu yang lain, disiplin ilmu psikologi dapat dipakai untuk mengkaji gejala keberagamaan masyarakat, termasuk di dalamnya masyarakat muslim. Apa yang dikaji oleh studi Islam menggunakan pendekatan psikologi adalah hubungan antara agama dengan jiwa manusia.[3] Hubungan ini dikaji melalui gejala jiwa manusia yang lahir dalam tingkah-laku dalam hubungannya dengan agama Islam.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa agama sangat mempengaruhi jiwa penganutnya. Jiwa tersebut dapat diamati secara empiris dengan mengamati tingkah-lakunya dengan menggunakan pendekatan psikologis. Bagian ilmu psikologi yang memfokuskan kajiannya pada jiwa manusia dalam hubungannya dengan agama disebut dengan psikologi agama.[4] Lebih lanjut, psikologi agama dapat dikatakan sebagai hasil dari studi keagamaan yang menggunakan pendekatan psikologis. Makalah ini akan mengkaji dan menjelaskan lebih lanjut tentang pendekatan psiologis dalam studi Islam.
B.     Rumusan Masalah
1.         Apa defenisi Psikologis Agama dan pendekatan Psikologis ?
2.         Bagaimana pendekatan Psikologis  dalam Studi Islam ?
3.         Siapa Penulis dan Karya Utama Studi Psikologi Agama Secara Umum ?
4.         Apa Problematika pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam ?
5.         Apa contoh Studi Islam dengan pendekatan Psikologis ?
6.         Bagaimana signifikasi dan kontribusi pendekatan Psikologi agama dalam Studi Islam ?
C.    Tujuan Pembahasan
1.      Untuk mengetahui  defenisi Psikologis Agama dan pendekatan Psikologis
2.      Untuk mengetahui  pendekatan Psikologis  dalam Studi Islam 
3.      Untuk mengetahui Siapa Penulis dan Karya Utama Studi Psikologi Agama Secara Umum
4.      Untuk mengetahui Problematika pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
5.      Untuk mengetahui contoh-contoh  Studi Islam dengan pendekatan Psikologis
6.      Untuk mengetahui signifikasi dan kontribusi pendekatan Psikologi agama dalam Studi Islam

II. PEMBAHASAN
A.    Definisi Psikologi Agama dan Pendekatan Psikologis
Term ilmu “Psikologi agama” terdiri dari dua kata, yaitu psikologi dan agama. Kata Psikologi sendiri  berasal dari  bahasa Yunani, yaitu “psyche”, yang berarti jiwa dan kata ‘logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Dengan demikian, secara etimologis, kata “psikologi”  dapat diartikan sebagai ilmu jiwa.[5]  Dalam terma ilmu pengetahuan, Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya. [6] 
Semua pengkaji psikologi tidak terlalu berbeda dalam mendefinisikan ilmu psikologi. Seorang psikolog  Lahey dalam Surlito,[7]  memberikan definisi “ psychology is the scientific study of behavior and mental processes” ( psikologi adalah kajian ilmiah tentang tingkah laku dan  proses mental).  Tingkah laku adalah segala sesuatu / kegiatan yang dapat diamati, sedangkan proses mental didalamnya mencakup pikiran, perasaan juga motivasi. Dengan demikian, objek formal psikologi adalah jiwa manusia. Karena jiwa manusia tidak dapat diamati secara langsung, maka objek materilnya adalah sikap dan tingkah-laku manusia yang merupakan cermin atau perwujudan dari jiwa manusia itu sendiri. Ada banyak hal dan aspek yang sangat mempengaruhi kejiawaan manusia, salah satunya adalah agama. Agama merupakan fenomena umum bagi manusia. Mayoritas dari manusia menganut agama sebagai kebutuhannya. Besarnya pengaruh agama terhadap kejiwaan manusia, dan populernya agama di kalangan manusia, melahirkan psikologi agama.
Psikologi agama adalah ilmu yang mengkaji kehidupan beragama pada manusia dan pengaruh keyakinan agama tersebut dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan  hidup pada umumnya.[8]  Psikologi agama tidak hanya berhenti pada hal tersebut, psikologi agama juga mempelajari jiwa seseorang dan faktor-faktor yang mempengaruhinya terhadap keyakinan sebuah agama. Intinya adalah bahwa psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia dalam hubungannya dengan agama.[9]
Agama dalam ilmu psikologi tidak memfokuskan pada ajaran-ajaran yang sangat rinci, akan tetapi merupakan gugusan kepercayaan yang dianut oleh manusia. Agama dalam psikologi agama tidak ditinjau dari normatifitas atau kebenaran agamanya, melainkan hanya sebatas pengaruhnya terhadap kejiawaan penganutnya.[10] Hubungan atau pengaruh agama tersebut dapat diamati pada kejiwaan manusia yang menggejala dalam bentuk sikap, tindakan, berfikir, merasa atau sikap emosi. 
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama mempunyai lapangan yang menjadi bidang penelitiannya. Psikologi agama di sini hanya meneliti bagaimana sikap batin seseorang terhadap keyakinannya kepada Tuhan, hari kemudian, dan masalah ghaib lainnya. Juga bagaimana keyakinan tersebut mempengaruhi penghayatan batinnya, sehingga menimbulkan berbagai perasaan seperti tenang, tenteram, pasrah dan sebagainya, yang mana semua itu  dapat dilihat dalam sikap dan tingkah lakunya.
Untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai batas yang menjadi kajian penelitian psikologi agama, maka digunakanlah dua istilah yaitu kesadaran bergama ( religious conciousness) dan pengalaman beragama ( religious experience).[11] Seperti disebutkan sebelumnya bahwa disiplin ilmu psikologi dapat dipergunakan untuk mendekati studi Islam. Pendekatan psikologis adalah pendekatan yang menggunakan cara pandang ilmu psikologi. Karena ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia, maka pendekatan psikologsi hanya mengkaji tentang jiwa manusia.
Ketika studi Islam  didekati dengan pendekatan psikologis, maka yang menjadi objek dalam kajian tersebut adalah jiwa manusia yang dilihat dalam hubungannya dengan agama. Studi Islam yang didekati dengan pendekatan psikologis, selalu menggunakan teori-teori psikologi dan menghubungkannya dengan agama Islam.
B.     Pendekatan Psikologis  Dalam Studi Islam  
Pendekatan psikologis merupakan pendekatan yang bertujuan untuk melihat keadaan jiwa pribadi-pribadi yang beragama. Dalam pendekatan ini, yang menarik bagi penulis  adalah keadaan jiwa manusia dalam hubungannya dengan agama, baik pengaruh maupun akibat. Lebih lanjut, bahwa pendekatan psikologis bertujuan untuk menjelaskan fenomena keberagamaan manusia yang dijelaskan dengan mengurai keadaan jiwa manusia.
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki beberapa pendekatan, antara lain:[12]
1.      Pendekatan Struktural.
Pendekatan ini dipakai oleh Wilhelm Wundt. Pendekatan struktural adalah pendekatan yang bertujuan untuk mempelajari pengalaman seseorang berdasarkan tingkatan atau kategori tertentu. Struktur pengalaman tersebut dilakukan dengan menggunakan metode pengalaman dan introspeksi. 
2.      Pendekatan Fungsional. 
Pendekatan ini pertama kali dipergunakan oleh William James (1910 M), ia adalah penemu laboratorium psikologi pertama di Amerika pada Universitas Harvard. Pendekatan fungsional adalah pendekatan yang dilakukan untuk mempelajari bagaimana agama dapat berfungsi atau berpengaruh terhadap tingkah laku hidup individu dalam kehidupannya. 
3.       Pendekatan Psiko-analisis. 
Pendekatan ini pertama kali dilakukan oleh Sigmung Freud (1856-1939 M). Pendekatan psiko-analisis adalah suatu pendekatan yang dilakukan untuk menjelaskan tentang pengaruh agama dalam kepribadian  seseorang dan hubungannya  dengan penyakit-penyakit jiwa.  Pendekatan psikologis sangat bergantung erat dengan teori-teori psikologi umum yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana Eropa. Karena itu pendekatan psikologis dalam studi Islam juga menggunakan teori-teori yang sama. Perbedaannya hanya pada beberapa dasarnya dan ruang lingkupnya yang lebih sempit.
Islamisasi psikologi sendiri belum mampu menemukan teori-teori khusus yang bisa digunakan dalam pendekatan terhadap studi ke-Islaman. Akan tetapi hal tersebut bukan hal yang salah atau memalukan karena tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Pendekatan psikologis bertujuan untuk mejelaskan keadaan jiwa seseorang.  Keadaan jiwa tersebut dapat diamati melalui tingkah-laku, sikap, cara berfikir dan berbagai gejala jiwa lainnya.
Dalam penelitian, informasi tentang gejala-gejala tersebut dapat bersumber dari berbagai hal, seperti observasi, wawancara atau dari surat maupun dokumen pribadi yang diteliti.
Lebih rinci, ada beberapa teknik untuk mendapatkan informasi dari sumber informasi yang digunakan dalam penggunaan pendekatan psikologis, yakni:
1.      Studi dokumen pribadi ( personal document)
Teknik ini bertujuan untuk menemukan informasi terkait dengan kejiwaan seseorang pada dokumen yang bersifat pribadi, seperti surat, autobiograpi, catatan harian atau tulisan lainnya yang merupakan karya dari pribadi yang diteliti. 
2.      Kuesioner dan Wawancara 
C.    Penulis Dan Karya Utama Studi Psikologi Agama Secara Umum
Pada tahun 1879, di Universitas Leizing, berdiri sebuah laboratoirum pertama yang diakui sebagai laboratorium psikologi. Laboratorium ini digagas oleh Wilhem Wundt.[13] Hal tersebut merupakan titik awal diakuinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan.
Untuk psikologi agama sendiri, pada tahun 1899, terbit sebuah buku berjudul The Psychology of Religion: An Empirical Study of Growth of Religion Counsciousness (Psikologi Agama: Sebuah Kajian Empriris Tentang Pertumbuhan Kesadaran Agama) yang ditulis Edwin Diller Starbuck dan H. James Leuba.[14] Ini lah awal di mana psikologi agama muncul dan mulai berkembang.  Buku ini mengkaji tentang kesadaran beragama, sebagai bagian dari kejiawaan manusia dalam hubungannya dengan agama.
Pada tahuan 1901, James Leuba menulis artikel dengan  judul “Introduction to a Psychological Study of Religion” (Pengantar Studi Psikologi Agama) yang dimuat dalam The Monist Vol. XI Januari 1901.[15] Artikel ini kemudian dikembangkan hingga menjadi sebuah buku pada tahun 1912 dengan judul  “A Psychological Study of Religion.”
Sementara itu, pada 1905, William James menerbitkan buku berujudul  “The Varieties of Religious Experience”[16] (Variasi Pengalaman Beragama) yang awalnya merupakan bahan-bahan perkuliahan yang akan diajarkan bagi mahasiswa di Universitas Edinburgh. Buku ini megkaji pengalaman beragama berbagai tokoh masyarakat..
 Dengan maraknya diskursus tentang psikologi agama, baik dalam menulis buku dan materi kuliah, psikologi agama mulai dianggap sebagai cabang ilmu psikologi yang berdiri sendiri. Lebih awal, di kalangan Muslim, telah muncul tokoh-tokoh seperti al-Kindy, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawih, al-Raziy, kelompok Ikhwan al-Shafa, Ibnu Thufail, Ibnu Majah dan Ibnu Rusyd yang mengusung aliran psikologi dengan pendekatan falsafi.  Pada dasarnya, tokoh-tokoh tesebut lebih popular sebagai filosof, ketimbang psikolog. Akan tetapi mengingat karya mereka yang sangat berkaitan dengan psikologi. 
Seperti al-Farabi dan Ibnu Sina, kajian tentang an-nafs (diri atau jiwa) mendapat porsi besar dalam karya-karya mereka. Akan tetapi karena ilmu psikologi belum muncul dan berdiri sendiri, maka tokoh-tokoh tersebut lebih dikenal sebagai filosof ketimbang psikolog.  Masih terintegrasi dengan ilmu lain, yakni ilmu Tasawwuf, muncul tokoh-tokoh lain seperti Abu Hamid al-Ghazali, Rabi’ah al-Adawiyah, Dzun Nun al-Mishry, Abu Yazid al-Busthami, al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi, ‘Abd al-Karim al-Jilli, ‘Abd al-Qadir al-Jailani, al-Suhrawardi, Ibn Qayyim al-Jauziyah dan sebagainya yang mengusung psikologi dengan pendekatan tasawwuf.  Dalam pola ini, psikologi muncul dalam struktur al-qalb atau al-dzauq yang puncaknya mampu mencapai ma’rifah, mahabbah, ittihad, hulul, wihdatul wujud dan al-isyraq kepada Allah. 
Untuk wilayah Indonesia, pada tahun 1970, Zakiah Drajat menulis buku dengan judul Ilmu Jiwa Agama (1970), Peranan Agama dalam Kesehatan Mental.  Selanjutnya, pada tahun 1996, Ramayulis menulis buku yang berjudul Psikologi Agama. Pada tahun 2003, Jalauddin Rakhmat menulis buku Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. Dengan karya-karya tersebut, psikologi agama mulai ramai dibicarakan di Indonesia dalam hubungannya dengan studi Islam.
D.    Problematika Pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
Teori-teori psikologi kontemporer banyak dikembangkan di negara-negara Barat yang mayoritas penduduknya adalah penganut agama Kristen. Teori-teori ini lah yang kemudian diadopsi ke dalam psikologi agama yang digunakan dalam mengkaji studi Islam. Teori-teori psikologi kontemporer yang berasal dari Barat dapat mengurangi pengertian Islam dari keseluruhan pengertiannya, hingga menampilkan Islam secara parsial atau tidak utuh. Selain itu, kerena titik berangkatnya pembahasan ini adalah konsep psikologi, sehingga sering kali membuat kita terjebak, yaitu memandang persoalan lebih berangkat dari pemahaman terhadap psikologi dari pada Islamnya.
Sebagai ilmu pengetahuan yang berkembang dan menemukan wujud epistemologi dan metodologinya di Barat, psikologi agama yang berkembang sekarang, tidak mengambil sumber dari Alquran atau sumber-sumber pengetahuan lain yang khusus diakui oleh Islam. Karena perbedaan metodologi dan sumber, teori-teori psikologi agama masih belum cukup untuk menjelaskan fenomena keberagamaan masyarakat Muslim yang dipengaruhi oleh berbagai aspek yang berpengaruh kepada jiwa.  
Sebagai ilmu yang dibangun dan dikembangkan dalam masyarakat dan budaya Barat, maka sangat mungkin kerangka pikir psikologi agama ini dipenuhi dengan pandangan-pandangan atau nilai-nilai hidup masyarakat Barat. Kenyataan yang sulit dibantah adalah psikologi lahir dengan didasarkan pada paham-paham masyarakat Barat yang sekularistik. Tak jarang kita temui pandangan-pandangan psikologi berbeda bahkan bertentangan dengan pandangan Islam.  Karena itu perlu dirumuskan teori-teori yang lebih utuh, sesuai dengan epitemologi dan metodologi ilmu pengatahuan dalam Islam. Perumusan ini tidak melarang adopsi teori-teori yang telah ada dalam psikologi agama konvensional.
E.     Contoh Studi Islam Dengan Pendekatan Psikologis
Pendekatan psikologis adalah pendekatan yang memfokuskan pencarian terhadap masalah kejiwaan manusia. Karena itu, psikologi agama mencari tahu masalah kejiwaan dalam hubungannya dengan agama. Ada beberapa contoh studi Islam yang dapat didekati dengan pendekatan psikologis, antara lain:
1.      Tentang masalah perasaan seorang ahli tasawwuf yang merasa bahwa Allah selalu
dekat dengannya dan hadir dalam hatinya dan ia melakukan zikir secara terus menerus dan secara sadar. Masalah pokok dalam kajian ini adalah perasaan (dekat dengan Allah)  manusia ( ahli tasawwuf ) dan bagaimana perasaan tersebut muncul.
2.       Masalah lainnya adalah masalah kepuasan seorang hamba terhadap kehidupannya. Di mana bisa dibandingkan antara dua gejala yakni seorang yang sederhana tapi mempunyai tingkat ibadah yang lebih tinggi dengan seorang yang cukup tapi mempunyai tingkat ibadah yang rendah.  Masalah pokok yang dicari adalah pengaruh tingkat ibadah tersebut terhadap rasa puas dalam kehidupan.
F.      Signifikasi Dan Kontribusi Pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
Pertanyaan tentang pengaruh kejiwaan terhadap kehidupan beragama atau sebaliknya, pengaruh agama terhadap kejiwaan penganutnya tidak bisa dijelaskan kecuali oleh psikologi agama. Tujuan dari pendekatan piskologis adalah mencari bagaimana pengaruh keberagamaan terhadap proses dan kehidupan kejiwaan sehingga terlihat dalam sikap dan tingkah laku lahir (sikap dan tindakan serta cara bereaksi) serta sikap, dan tingkah laku batin (cara berfikir, merasa atau sikap emosi) atau sebaliknya.
Dengan demikian, penggunaan pendekatan psikologis dalam studi Islam telah menyumbang bagi perkembangan kebudyaaan dan ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh umat Islam untuk memberikan penjelasan ilmiah terhadap berbagai problema dan untuk meningkatkan sumber daya manusia Muslim. 
Banyak gejala keberagamaan masyarakat Muslim tidak bisa dijelaskan dengan pendekatan hukum, teologis atau pendekatan lainnya. Kasus-kasus teorisme misalnya. Kasus ini bila didekati dengan pendekatan hukum, hanya akan menghasilkan kesimpulan benar atau tidaknya aksi teror dalam hukum Islam. Pendekatan ini tidak memberikan solusi bagi penyelesaian masalah terorisme hingga akarnya. Pendekatan yang lebih sesuai adalah pendekatan teologis, dengan membandingkan ideologi para teroris dengan teologi Islam pada umumnya. Akan tetapi pendekatan ini juga tidak sempurna dalam menjelaskan masalah, karena masalah teorisme tidak murni masalah teologi, akan tetapi psikologi.  Pendekatan-pendekatan lain tidak bisa menjelaskan mengapa para teroris berani untuk melakukan bom bunuh diri, bagaimana seseorang bisa direkrut untuk dimasukkan ke dalam jaringan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab oleh pendekatan psikologis.
Pendekatan psikologi agama mempunyai peranan penting dan memberikan banyak sumbangan dalam studi Islam. Psikologi agama berguna untuk mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, difahami, dan diamalkan seseorang muslim, misalnya kita dapat mengetahui pengaruh dari ibadah shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya dalam kehidupan seseorang. Pendekatan psikologis juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi kadar dan tingkat ajaran Islam yang sesuai dengan tingkat umur seseorang. Hingga ajaran Islam tidak berubah menjadi semata-mata sistim-sistim nilai tanpa teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun kontribusi pendekatan psikologi agama dalam studi Islam adalah:
1.      Untuk membantu di dalam meneliti bagaimana latar belakang keyakinan
beragama seorang muslim.
2. Untuk membantu  menyelesaikan  masalah-masalah keberagamaan seorang muslim, seperti penyakit mental dan hubungannya dengan keyakinan beragama. 
3. Untuk mengetahui bagaimana hubungan manusia dengan Tuhannya dan bagaimana pengaruh hubungan tersebut terhadap prilaku dan cara berpikir.
Selain itu, psikologi agama juga telah digunakan sebagai cara pengobatan sakit jiwa dan mental di rumah sakit dan lembaga pemasyarakatan. Hal itu dikarenakan psikologi agama dapat digunakan sebagai alat pembina jiwa dan mental manusia.

III. PENUTUP
A.    Kesimpulan
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.  Objek formal psikologi adalah jiwa manusia, sedangkan objek materilnya adalah sikap dan tingkah-laku manusia yang dianggap sebagai cermin atau perwujudan dari jiwa manusia itu sendiri. Sedangkan psikologi agama adalah ilmu yang mengkaji kehidupan beragama pada manusia dan pengaruh keyakinan agama tersebut dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan  hidup pada umumnya.
Pendekatan psikologis adalah pendekatan yang menggunakan cara pandang ilmu psikologi, yakni pendekatan yang melihat kajian pada jiwa manusia. Pendekatan psikologis dalam kajian agama merupakan pendekatan yang bertujuan untuk melihat keadaan jiwa pribadi-pribadi yang beragama. Pendekatan ini mengambil jiwa manusia yang dilihat dalam hubungannya dengan agama sebagai objek.
Ada beberapa pendekatan dalam ilmu psikologi, yakni:
1.    Pendekatan Struktural.  
2.    Pendekatan Fungsional. 
3.    Pendekatan Psiko-analisis. 
Meskipun psikologi berkembang di Barat, hingga terpengaruh pada cara-pandang kehidupan dan keberagamaan mereka, pendekatan psikologis memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat Muslim.
B.        Saran
Penulisan makalah ini tentu masih jauh dari kesempurnaan, oleh karennya bagi para pembaca kiranya dapat memberikan kritikan dan masukan demi kesempurnaan makalah ini. Atas saran dan kritik dari pembaca sekalian penulis terlebih dahulu menyampaikan banyak terikasih.




DAFTAR RUJUKAN



Ahmadi, Abu,  Psikologi Umum. Jakarta : Rineka Cipta, 2003.
Ancok, Djamaluddin dan Fuat Anshori Suroso, Psikologi Islami : Solusi Islam atas Problema-Problema Psikologi, cet II. Yogyakarta:pustaka Pelajar, 1995.
Darajat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : Bulan Bintang, 1979.
Dingagunasa, Singgih, Pengantar Ilmu Psikologi. Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1996.
Hidayat, Komaruddin, et.al., Perkembangan Psikologi Agama dan Pendidikan Islam Di Indonesia. Ciputat : Logos Wacana Ilmu, 1999.
Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar.  Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002.
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.
Ramayulis,  Ilmu Jiwa Agama.  Jakarta : Kalam Mulia, 1996
___________, Pengantar Psikologi Agama. Jakarta : Kalam Mulia, 1996.
Rahmat, Jalaluddin, Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. Bandung : Mizan , 2003
Wirawan, Surlito, Pengantar Ilmu Psikologi, cet II. Jakarta : Bulan Bintang, 1982





[1] Dingagunasa, Singgih, Pengantar Ilmu Psikologi. 1996 ( Jakarta: Mutiara Sumber Widya ), hlm. 3
[2] Dingagunasa, Singgih,  hlm. 4
[3] Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. 2002 ( Jakarta : Raja Grafindo Persada ), hlm. 7
[4] Rakhmat, Jalaluddin. , hlm. 7

[5] Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. 2002 ( Jakarta : Raja Grafindo Persada ), hlm. 7
[6] Rakhmat, Jalaluddin. , hlm. 8
[7] Wirawan, Surlito, Pengantar Ilmu Psikologi, cet II. 1982 ( Jakarta : Bulan Bintang ), hlm. 5

[8] Darajat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama.2001`( Jakarta : Bulan Bintang ), hlm. 14
[9] Darajat, Zakiah, , hlm. 15
[10] Mujib  & Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam. 2002 ( Jakarta: Raja Grafindo Persada ), hlm. 12

[11] Hidayat, Komaruddin, Perkembangan Psikologi Agama dan Pendidikan Islam  Di Indonesia.  1999 ( Ciputat : Logos Wacana Ilmu ), hlm. 41
[12] Ancok, Djamaluddin dan Fuat Anshori Suroso, Psikologi Islami : Solusi Islam atas Problema Problema Psikologi, cet II. 1995 ( Yogyakarta:pustaka Pelajar ), hlm. 76

[13] Ahmadi, Abu,  Psikologi Umum. 2003 (Jakarta : Rineka Cipta ), hlm.24

[14] Rahmat, Jalaluddin, Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. 2003 ( Bandung : Mizan ), hlm.12
[15] Rahmat, Jalaluddin, hlm. 13
[16] Ramayulis,  Ilmu Jiwa Agama. 1996 ( Jakarta : Kalam Mulia ),hlm.27


I. PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Kepemimpinan dan organisasi merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Istilah kepemimpinan sesungguhnya telah lama menjadi bahan perbincangan oleh banyak orang ilmuam dan praktisi. Kepemimpinan acapkali diasosiasikan dengan orang-orang yang dinamis dan kuat yang memimpin bala tentara, mrngendalikan perusahaan besar, atau menentukan arah suatu bangsa dan masyarakat.
          Untuk menunjukan berapa pentingnya kepemimpinan dan betapa manusia membutuhkannya, sampai ada pendapat yang keras mengatakan bahwa dunia atau umat manusia di dunia ini pada hakekatnya hanya ditentukan oleh beberapa orang saja, yakni berstatus sebagai pemimpin. Dalam organisasi kepemimpinan sangat dibutuhkan untuk memeberikan pengarahan terhadap usaha-usaha semua pekerja dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Tanpa Pemimpin atau bimbingan, hubungan antara tujuan perseorangan atau tujuan organisasi mungkin menjadi renggang.
          Oleh karena itu, Kepemimpinan sangat diperlukan bila suatu organisasi ingin sukses. Terlebih lagi pekerja-pekerja yang baik selalu ingin tahu bagaimana mereka dapat menyumbang dalam pencapaian tujuan organisas, dan paling tidak gairah para pekerja memerlukan kepemimpinan sebagai dasar motivasi eksternal untuk menjaga tujuan-tujuan mereka tetap harmonis dengan tujuan organisasi. Ciri dan sifat kepemimpinan adalah Kepemimpinan yang efektif yaitu kemampuan seseorang pemimpin untuk mempengaruhi atau memotivasi (bawahan) untuk bisa bekerja dengan benar dan baik, sehingga tujuan bisa dicapai sesuai dengan perencanaan.
          Untuk memahami beberapa hal tentang kepemimpinan dalam makalah ini dibahas beberapa hakekat kpemimpinan, teori kepemimpinan, bagaimana menjadi pemimpin sejati, dan hubungan pemimpin dalam kearifan lokal.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang penulis uraikan di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana Defenisi Pemimpin dan Kepemimpin?
2.      Adakah teori sebab-miusabab munculnya Pemimpin ?
3.      Adakah teori tipe dan gaya Kepemimpinan?
4.      Bagaiaman sifat-sifat  Kepemimpinan seseorang agar menjadi sukses?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui defenisi Pemimpin dan Kepemimpinan
2.      Untuk mengetahui teori  Sebab-musabab munculnya Pemimpin
3.      untuk mengetahui teori tipe dan gaya Kepemimpinan
4.      untuk mengetahui sifat-sifat Kepemimpinan saeseorang agar menjadi sukses

II. PEMBAHASAN
A.    Defenisi Pemimpin dan Kepemimpinan
Kepemimpinan selalu menjadi objek pembicaraan yang menarik sepanjang sejarah manusia di manapun. Hal ini antara lain disebabkan betapa besarnya pengaruh seorang pemimpin baik dalam satu kelompok masyarakat, dalam sebuah organisasi atau negara bahkan dunia. Betapa besarnya pengaruh seorang pemimpin, lihat saja misalnya Presiden Amerika Serikat George Bush, disebabkan keputusannya, ribuan nyawa manusia hilang dengan sia-sia di Irak. Kita pernah mendengar kisah pemimpin yang arif bijaksana, otoriter sampai pemimpin yang kejam
Selanjutnya, untuk memberikan pemahaman secara mendalam tentang pengertian Pemimpin dan kepemimpinan berikut ditulis berbagai pendapat sebagai berikut:
1.      James J Cribin mengatakan kepemimpinan adalah kemampuan memperoleh konsensus dan keterikatan pada sasaran bersama, melalalu syara-syarat organisasi, yang dicacpai dengan pengalaman sumbangan dan kepuasan di pihak kelompok kerja.[1]
2.      Miftah Thoha mendefinisikan kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok.[2]
3.  James A.F Stoner mengatakan bahwa kepemimpinan manajerial adalah suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh kepada kegiatan – kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugassnya.[3]
4.  Chung dan Megginson mengatakan bahwa Kepemimpinan adalah kesanggupan mempengaruhi perilaku orang lain dalam suatu arah tertentu.[4]
5. Pengertian pemimpin menurut Suradinata adalah orang yang memimpin dua orang atau lebih, baik organisasi maupun keluarga. Sedangkan kepemimpinan adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengendalikan, memimpin, mempengaruhi fikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.[5]
6. Menurut Winardi (1990:32) bahwa pemimpin terdiri dari pemimpin formal (formal leader) dan pemimpin informal (informal leader). Pemimpin formal adalah seorang (pria atau wanita) yang oleh organisasi tertentu (swasta atau pemerintah) ditunjuk (berdasarkan surat-surat keputusan pengangkatan dari organisasi yang bersangkutan) untuk memangku sesuatu jabatan dalam struktur organisasi yang ada dengan segala hak dan kewajiban yang berkaitan dengannya untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi tersebut yang ditetapkan sejak semula. Sedangkan kepemimpinan adalah merupakan suatu kemampuan yang melekat pada diri seorang yang memimpin yang tergantung dari macam-macam faktor, baik faktor intern maupun faktor ekstern.[6]
7.  Siagian berpendapat bahwa kepemimpinan adalah keterampilan dan kemampuan seseorang mempengaruhi perilaku orang lain, baik yang kedudukannya lebih tinggi maupun lebih rendah daripadanya dalam berfikir dan bertindak agar perilaku yang semula mungkin individualistik dan egosentrik berubah menjadi perilaku organisasional.[7]
8. Horsey dan Blacharrd mengemukakan bahwa kepemimpin adalah hasil dari tuntutan-tuntutan situasional. Factor-faktor situasional lebih menentukan siapa yang akan muncul sebagai seorang pemimpin daripada warisan genetic atau sifat yang dimiliki seseorang.[8]
9. Mintzberg mengemukan bahwa, kepemimpinan adalah kemampuan untuk melangkah keluar dari budaya yang ada dan memulai proses perubahan evolusioner yang lebih adaptif.   Para pengembang teori transformasional melihat bahwa pemimipin memiliki tugas menyelaraskan, menciptakan, dan memberdayakan.[9]

B.        Teori Sebab- Musabab Munculnya Pemimpin
Beberapa literature yanag membahas tenang teori kepemimpinan pada prinsipnya sama, yakni: ada empat asumsi dasar dalam teori tersebut yang berusaha menenerangkan factor yang memungkinkan munculnya kepemimpinan dan sifat dari kepemimpinan. Pertama, ada teori yang berasumsi bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan dibuat, Kedua, ada teori yang berasumsi bahwa pemimpin ada (timbul) karena situasinya memungkinkan ia ada. Ketiga, ada teori yang berasumsi bahwa kepemimpinan itu terjadi karena adanya kelompok orang-orang, dalam melakukan pertukaran dengan yang dipimpin. Keempat, ada pula teori yang berasumsi bahwa kepemimpinan itu dapat dilihat lewat perilaku organisasi.[10]
            Untuk memberikan gambaran secara rinci tentang teori-teori kepemimpinan, berikut dikutipkan beberapa pendapat sebagai berikut:
1.      Teori Sifat (Traits Theory)
     Teori ini mengajarkan bahwa kepemimpinan itu memerlukan serangkaian sifat-sifat, cirri-ciri atau perangai tertentu yang menjamin keberhasilan pada setiap situasi. Seorang pemimpin akan berhasil apabila memiliki sifat-sifat, ciri-ciri perangai tersebut. Teori ini berkesimpulan bahwa kepemimpinan “orang besar” didasarkan ada sifat-sifat yang di bawa sejak lahir, jadi merupakan suatu yang diwariskan. Itulah sebabnya teori ini dikenal sebagai “teori genetis”. Artinya, pemimpin-pemimpin adalah dilahirkan dan dibentuk.
2.      Teori Lingkungan (Environmental Theory)
                  Teori ini berasumsi bahwa munculnya pemimpin-pemimpin itu merupakan hasil dari waktu, tempat, dan keadaan atau situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi tertentu melahirkan tantangan-tantangan tertentu. Dan dengan sendirinya diperlikan orang-orang yang memiliki sifat-sifat atau cirri-ciri tertentu yang cocok. Kebangkitan dan kejatuhan seorang pemimpin dixebabkan oleh situasi dan kondisi. Sejalan dengan teori ini adalah teori social, yang menyatakan bahwa pemimpin-pemipin dibentuk bukannya dilahirkan (leader are made not born).. seseorang akan muncul sebagai pemimpin jika ia berada dalam lingkungan social, yaitu sustu kehidupan kelompok, dan memanfaatkan situasi dan kondisi social untuk bertindak dan berkarya mengatasi masalah-masalah social yang timbul.
3.      Teori Pribadi dan Situasi (Personal situation Theory)
Teori ini berasumsi bahwa kepemimpinan merupakan produk dari terkaitnya tiga factor yaitu:

a.       Perangai (sifat-sifat) pribadi dari pemimpin.
b.      Sifat dari kelompok dan anggota-anggotanya.
c.       Kejadian-kejadian (atau masalah-masalah) yang dihadapi oleh kelompok.
Penganut teori ini ada yang menyatakan bahwa: studi tentang kepemimpinan harus berkenaan dengan status, interaksi, persepsi dan perilaku individu-individu dalam hubungan dengan anggota-anggotanya lain dari kelompok yang terorganisasi. Pemimpin harus mengenal dirinya (dalam arti sifat-sifatnya, mengenal kelompok yang dipimpin, mengenla situasi dan kondisi) untuk selanjutnya mengembangkan sifat-sifatnya sendiri kearah yang sesuai dengan kelompok yang dipimpinnya dan sesuai pula dengan situasi dan kondisi dimana ia memimpin.

C.    Tipe  dan  Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan seseorang sangat mempengaruhi kemampuan dan keberhasilannya dalam memimpin, karena setiap pemimipin memiliki model dan gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Oleh kerena itu di bawah ini penulis akan mengemukakan beberapa model dan gaya kepemimpinan yang dikutip dari beberapa literatur.
1.      Kartini kartono membagi tipe kepemimpinan menjadi delapan.[11] Yaitu:
a.       Tipe karismatis                           e. Tipe paternalistis dan maternalistis
b.      Tipe militeristis                          f. Tipe laisser faire
c.       Tipe populistis                            g. Tipe administrative
d.      Tipe demokratis ( group developer )
2.      John Maxwell  pernah mengatakan  ” The only way that I can keep leading is to keep growing. The  day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is way it always it.” Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tsb.
3.      Selanjutnya menurut  Ishak Arep dan Tanjung  menyatakan  bahwa dalam mencapai tujuannya seorang pemimipin, yakni untuk dapat menguasai atau mempengaruhi serta memotivasi orang lain, maka dalam penerapan Manajemen SDM lazimnya digunakan 4(empat) macam gaya kepemimpinan.[12]yaitu:
a.       Democratic Leadership  adalah suatau gaya kepemimpinan yang menitikberatkan kepada kemampuan untuk menciptakan moral dan kemampuan untuk menciptakan kepercayaan 
b.      Dictatorial atau Autocratic Leadership, yakni suatu gaya leadership yang menitikberatkan kepada kesanggupan untuk memaksakan keinginannya yang mampu mengumpulkan pengikut-pengikutnya untuk kepentingan pribadinya dan/atau golongannya dengan kesediaan untuk menerima segala resiko apapun.
c.       Paternalistic Leadership, yakni bentuk antara gaya pertama (democratic) dan kedua (dictatorial) diatas. Yang pada dasarnya kehendak pemimpin juga harus berlaku, namun dengan jalan atau melalui unsur-unsur demokratis. Sistem dapat diibaratkan diktator yang berselimutkan demokratis. 
d.      Free Rein Leadership, yakni salah satu gaya kepemimpinan yang 100% menyerahkan sepenuhnya seluruh kebijakan pengoperasian Manajemen Sumber Daya Manusia kepada bawahannya dengan hanya berpegang kepeda ketentuan-ketentuan pokok yang ditetapkan oleh atasan mereka. Pimpinan disini hanya sekedar mengawasi dari atas dan menerima laporan kebijaksanaan pengoperasian yang telah dilaksanakan oleh bawahannya. Gaya kepemimpinan ini terutama diterapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.
4.      W. J. Reddin dalam What Kind of Manager   mengemukakan  bahwa gaya kepemimpinan meliputi:[13]
a.       Berorientasikan tugas (task orientation
b.      Berorientasikan hubungan kerja (relationship orientation
c.       Berorientasikan hasil yang efektif (effective orientation
Berdasarkan ketiga orientasi tipe pemimpin tersebut maka terdapat delapan tipe kepemimpinan,yaitu:
1)  Tipe Deserter (Pembelot) Sifatnya : bermoral rendah, tidak memiliki rasa keterlibatan, tanpa pengabdian, tanpa loyalitas dan kekuatan, sukar diramalkan. 
2) Tipe Birokrat Sifatnya : correct, kaku, patuh pada peraturan dan norma-norma; ia adalah manusia organisasi yang tepat, cermat, berdisiplin, dan keras. 
3) Tipe Misionaris (Missionary) Sifatnya : terbuka, penolong, lembut   hati, ramah tamah. 
4) Tipe Developer (Pembangun) Sifatnya : kreatif, dinamis, inovatif, memberikan/melimpahkan wewenang dengan baik, menaruh kepercayaan pada bawahan. 
5) Tipe Otokrat Sifatnya : keras, diktatoris, mau menang sendiri, keras kepala, sombong. Bandel. 
6) Benevolent Autocrat (otokrat yang bijak) Sifatnya : lancar, tertib, ahli dalam mengorganisir, besar rasa keterlibatan diri. 
7) Tipe Compromiser (kompromis) Sifatnya : plintat plintut, selalu mengikuti angin tanpa pendirian, tidak mempunyai keputusan, berpandangan pendek dan sempit. 
8) Tipe Eksekutif Sifatnya : bermutu tinggi, dapat memberikan motivasi yang baik, berpandangan jauh, tekun.

D. Sifat- sifat Pemimpin agar menjadi Sukses.
Upaya menilai sukses atau gagalnya pemimpin itu antara lain dilakukan dengan mengamati dan mencatat sifat-sifat dan kualitas/mutu perilakunya. Usaha-usaha yang sistematis tersebut membuahkan teori yang disebut sebagai the traitist theory of leadership ( teori sifat/kesifatan dari kepemimpinan ). Di anatara penganut teori ini dapat kita sebutkan yaitu Ordway Tead dan George R. Terry.
            Ordway Tead dalam tulisannya mengemukakan 10 sifat yaitu:[14]
1.      Energy jasmaniah dan mental ( physical and nervous energy )
2.      Kesadaran akan tujuan dan arah ( A sense of purpose and direction )
3.      Antusiasme ( anthusiasm ; semnagat, kegairahan, kegembiraan yang besar)
4.      Keramahan dan kecintaan (friendliness and affection )
5.      Integritas ( integrity, keutuhan, kejujuran, ketulusan hati )
6.      Penguasaan teknis (technical mastery )
7.      Ketegasan dalam mengambil keputusan (decisiveness )
8.      Kecerdasan ( intelligence)
9.      Keterampilan menganjar ( teaching skill )
10.  Kepercayaan (faith)
Selanjutnya, George R.Terry dalam bukunya “ Principles of Management” 1994 menuliskan sepuluh sifat pemimpin yang unggul, yaitu:
1)      Kekuatan
2)      Stabilitas emosi
3)      Pengetahuan tentang relasi insani
4)      Kejujuran
5)      Objektif
6)      Dorongan pribadi
7)      Keterampilan berkomunikasi
8)      Kemampuan mengajar
9)      Keterampilan social   10). Kecakapan teknis
III. PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.
Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.
Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).

B.     Saran
Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak untuk memimpin diri sendiri.








DAFTAR RUJUKAN


Arep, Ishak dan Hendri Tanjung. Manajemen Motivasi, Jakarta : PT.Gramedia Widiasarana Indonesia, 2003. 
Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpina, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1998.
………………. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah Pemimpinan Abnormal Itu? , Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Siagian, S. P. Administrasi Pembangunan, Jakarta: Gunung Agung, 1992. 
Suradinata, Ermaya. Psikologi Kepegawaian dan Peranan Pimpinan Dalam Motivasi Kerja , Bandung : CV Ramadan, 1995. 
Winardi. Kepemimpinan Dalam Manajemen, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1990.









[1] Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah Pemimpinan
Abnormal Itu,1998 ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada ), hlm. 18 
[2] Arep, Ishak dan Hendri Tanjung. Manajemen Motivasi. 2003 (  Jakarta : Penerbit PT.Gramedia Widiasarana Indonesia ) hlm. 23
[3] Arep, Ishak dan Hendri Tanjung. hlm. 24
[4] Suradinata, Ermaya. Psikologi Kepegawaian dan Peranan Pimpinan Dalam Motivasi Kerja 1997, ( CV. Ramadan ), hlm. 11 
[5] Suradinata, Ermaya. Hlm. 12
[6] Winardi. Kepemimpinan Dalam Manajemen, 1990 ( Jakarta : PT. Rineka Cipta ), hlm. 32
[7] Siagian, S. P.  Administrasi Pembangunan. 1986 ( Jakarta : Gunung Agung ), hlm. 12
[8] Abuddin Nata. Filsafat Pendidikan Islam, 1997 ( Jakarta: Logos Wacana Ilmu ), hlm.17
[9] Muhaimin Dkk. Manajemen Pendidikan Aplikasinya Dalam Penyususnan Rencana Pengembanagan Sekolah/ Madrasah, 2009 (. Jakarta: Persada ), hlm. 17

[10] Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah Pemimpinan
Abnormal Itu, 2008 ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada ), hlm. 19 

[11] Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah Pemimpinan
Abnormal Itu, 2008 ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada ), hlm. 80-1 
[12] Arep, Ishak dan Hendri Tanjung. Manajemen Motivasi. 2003 (  Jakarta : Penerbit PT.Gramedia Widiasarana Indonesia ) hlm. 23

[13] Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah Pemimpinan
Abnormal Itu, 2011 ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada ), hlm. 35 

[14] Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah Pemimpinan
Abnormal Itu, 2011 ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada ), hlm. 44