PENDEKATAN PSIKOLOGIS DALAM STUDI ISLAM
I.
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Psikologi merupakan ilmu pengetahuan
yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan manusia yang tercermin dalam
prilaku yang nyata. Objek formal psikologi adalah jiwa manusia.[1]
Jiwa manusia bersifat abstrak dan tidak konkrit, karena itu untuk memenuhi unsur
empiris psikologi sebagai ilmu pengetahuan, maka psikologi mempelajari gejala gejala
jiwa manusia yang tampak secara lahir.[2]
Layaknya disiplin ilmu yang lain, disiplin ilmu psikologi dapat dipakai untuk
mengkaji gejala keberagamaan masyarakat, termasuk di dalamnya masyarakat
muslim. Apa yang dikaji oleh studi Islam menggunakan pendekatan psikologi
adalah hubungan antara agama dengan jiwa manusia.[3]
Hubungan ini dikaji melalui gejala jiwa manusia yang lahir dalam tingkah-laku
dalam hubungannya dengan agama Islam.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa agama
sangat mempengaruhi jiwa penganutnya. Jiwa tersebut dapat diamati secara
empiris dengan mengamati tingkah-lakunya dengan menggunakan pendekatan
psikologis. Bagian ilmu psikologi yang memfokuskan kajiannya pada jiwa manusia
dalam hubungannya dengan agama disebut dengan psikologi agama.[4]
Lebih lanjut, psikologi agama dapat dikatakan sebagai hasil dari studi
keagamaan yang menggunakan pendekatan psikologis. Makalah ini akan mengkaji dan
menjelaskan lebih lanjut tentang pendekatan psiologis dalam studi Islam.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa defenisi Psikologis Agama dan pendekatan Psikologis ?
2.
Bagaimana pendekatan Psikologis dalam Studi
Islam ?
3.
Siapa Penulis dan Karya Utama Studi Psikologi Agama Secara
Umum ?
4.
Apa Problematika pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi
Islam ?
5.
Apa contoh Studi Islam dengan pendekatan Psikologis ?
6.
Bagaimana signifikasi dan kontribusi pendekatan Psikologi agama
dalam Studi Islam ?
C.
Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui defenisi Psikologis Agama dan pendekatan
Psikologis
2. Untuk mengetahui pendekatan Psikologis dalam Studi
Islam
3. Untuk mengetahui Siapa Penulis dan
Karya Utama Studi Psikologi Agama Secara Umum
4. Untuk mengetahui Problematika
pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
5. Untuk mengetahui contoh-contoh Studi Islam dengan pendekatan Psikologis
6. Untuk mengetahui signifikasi dan
kontribusi pendekatan Psikologi agama dalam Studi Islam
II. PEMBAHASAN
A.
Definisi Psikologi Agama dan
Pendekatan Psikologis
Term
ilmu “Psikologi agama” terdiri dari dua kata, yaitu psikologi dan agama. Kata
Psikologi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu “psyche”, yang
berarti jiwa dan kata ‘logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Dengan demikian,
secara etimologis, kata “psikologi” dapat diartikan sebagai ilmu jiwa.[5]
Dalam terma ilmu pengetahuan, Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang
jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya. [6]
Semua pengkaji psikologi tidak terlalu berbeda dalam
mendefinisikan ilmu psikologi. Seorang psikolog Lahey dalam Surlito,[7] memberikan definisi “ psychology is the
scientific study of behavior and mental processes” ( psikologi adalah kajian
ilmiah tentang tingkah laku dan proses mental). Tingkah laku adalah
segala sesuatu / kegiatan yang dapat diamati, sedangkan proses mental
didalamnya mencakup pikiran, perasaan juga motivasi. Dengan demikian,
objek formal psikologi adalah jiwa manusia. Karena jiwa manusia tidak dapat
diamati secara langsung, maka objek materilnya adalah sikap dan tingkah-laku
manusia yang merupakan cermin atau perwujudan dari jiwa manusia itu sendiri. Ada
banyak hal dan aspek yang sangat mempengaruhi kejiawaan manusia, salah satunya
adalah agama. Agama merupakan fenomena umum bagi manusia. Mayoritas dari
manusia menganut agama sebagai kebutuhannya. Besarnya pengaruh agama terhadap
kejiwaan manusia, dan populernya agama di kalangan manusia, melahirkan
psikologi agama.
Psikologi
agama adalah ilmu yang mengkaji kehidupan beragama pada manusia dan pengaruh
keyakinan agama tersebut dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup
pada umumnya.[8]
Psikologi agama tidak hanya berhenti pada hal tersebut, psikologi agama juga
mempelajari jiwa seseorang dan faktor-faktor yang mempengaruhinya terhadap
keyakinan sebuah agama. Intinya adalah bahwa psikologi agama adalah ilmu yang
mempelajari jiwa manusia dalam hubungannya dengan agama.[9]
Agama
dalam ilmu psikologi tidak memfokuskan pada ajaran-ajaran yang sangat rinci,
akan tetapi merupakan gugusan kepercayaan yang dianut oleh manusia. Agama dalam
psikologi agama tidak ditinjau dari normatifitas atau kebenaran agamanya,
melainkan hanya sebatas pengaruhnya terhadap kejiawaan penganutnya.[10]
Hubungan atau pengaruh agama tersebut dapat diamati pada kejiwaan manusia yang
menggejala dalam bentuk sikap, tindakan, berfikir, merasa atau sikap
emosi.
Sebagai
disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama mempunyai lapangan yang menjadi
bidang penelitiannya. Psikologi agama di sini hanya meneliti bagaimana sikap
batin seseorang terhadap keyakinannya kepada Tuhan, hari kemudian, dan masalah
ghaib lainnya. Juga bagaimana keyakinan tersebut mempengaruhi penghayatan
batinnya, sehingga menimbulkan berbagai perasaan seperti tenang, tenteram,
pasrah dan sebagainya, yang mana semua itu dapat dilihat dalam sikap dan
tingkah lakunya.
Untuk
menjelaskan lebih lanjut mengenai batas yang menjadi kajian penelitian
psikologi agama, maka digunakanlah dua istilah yaitu kesadaran bergama (
religious conciousness) dan pengalaman beragama ( religious experience).[11]
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa disiplin ilmu psikologi dapat dipergunakan
untuk mendekati studi Islam. Pendekatan psikologis adalah pendekatan yang
menggunakan cara pandang ilmu psikologi. Karena ilmu psikologi adalah ilmu yang
mempelajari jiwa manusia, maka pendekatan psikologsi hanya mengkaji tentang
jiwa manusia.
Ketika
studi Islam didekati dengan pendekatan psikologis, maka yang menjadi
objek dalam kajian tersebut adalah jiwa manusia yang dilihat dalam hubungannya
dengan agama. Studi Islam yang didekati dengan pendekatan psikologis, selalu
menggunakan teori-teori psikologi dan menghubungkannya dengan agama Islam.
B.
Pendekatan Psikologis Dalam
Studi Islam
Pendekatan
psikologis merupakan pendekatan yang bertujuan untuk melihat keadaan jiwa
pribadi-pribadi yang beragama. Dalam pendekatan ini, yang menarik bagi penulis adalah keadaan jiwa manusia dalam hubungannya
dengan agama, baik pengaruh maupun akibat. Lebih lanjut, bahwa pendekatan
psikologis bertujuan untuk menjelaskan fenomena keberagamaan manusia yang
dijelaskan dengan mengurai keadaan jiwa manusia.
Sebagai
disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki beberapa
pendekatan, antara lain:[12]
1.
Pendekatan Struktural.
Pendekatan
ini dipakai oleh Wilhelm Wundt. Pendekatan struktural adalah pendekatan yang
bertujuan untuk mempelajari pengalaman seseorang berdasarkan tingkatan atau
kategori tertentu. Struktur pengalaman tersebut dilakukan dengan menggunakan
metode pengalaman dan introspeksi.
2.
Pendekatan Fungsional.
Pendekatan ini pertama kali
dipergunakan oleh William James (1910 M), ia adalah penemu laboratorium
psikologi pertama di Amerika pada Universitas Harvard. Pendekatan fungsional
adalah pendekatan yang dilakukan untuk mempelajari bagaimana agama dapat
berfungsi atau berpengaruh terhadap tingkah laku hidup individu dalam
kehidupannya.
3.
Pendekatan
Psiko-analisis.
Pendekatan ini pertama kali
dilakukan oleh Sigmung Freud (1856-1939 M). Pendekatan psiko-analisis adalah
suatu pendekatan yang dilakukan untuk menjelaskan tentang pengaruh agama dalam
kepribadian seseorang dan hubungannya dengan penyakit-penyakit
jiwa. Pendekatan psikologis sangat bergantung erat dengan
teori-teori psikologi umum yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana Eropa. Karena
itu pendekatan psikologis dalam studi Islam juga menggunakan teori-teori yang
sama. Perbedaannya hanya pada beberapa dasarnya dan ruang lingkupnya yang lebih
sempit.
Islamisasi psikologi sendiri belum mampu menemukan teori-teori khusus yang bisa digunakan dalam pendekatan terhadap studi ke-Islaman. Akan tetapi hal tersebut bukan hal yang salah atau memalukan karena tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Pendekatan psikologis bertujuan untuk mejelaskan keadaan jiwa seseorang. Keadaan jiwa tersebut dapat diamati melalui tingkah-laku, sikap, cara berfikir dan berbagai gejala jiwa lainnya.
Islamisasi psikologi sendiri belum mampu menemukan teori-teori khusus yang bisa digunakan dalam pendekatan terhadap studi ke-Islaman. Akan tetapi hal tersebut bukan hal yang salah atau memalukan karena tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Pendekatan psikologis bertujuan untuk mejelaskan keadaan jiwa seseorang. Keadaan jiwa tersebut dapat diamati melalui tingkah-laku, sikap, cara berfikir dan berbagai gejala jiwa lainnya.
Dalam
penelitian, informasi tentang gejala-gejala tersebut dapat bersumber dari
berbagai hal, seperti observasi, wawancara atau dari surat maupun dokumen
pribadi yang diteliti.
Lebih rinci, ada beberapa teknik untuk mendapatkan informasi
dari sumber informasi yang digunakan dalam penggunaan pendekatan psikologis,
yakni:
1.
Studi dokumen pribadi ( personal document)
Teknik ini bertujuan untuk menemukan
informasi terkait dengan kejiwaan seseorang pada dokumen yang bersifat pribadi,
seperti surat, autobiograpi, catatan harian atau tulisan lainnya yang merupakan
karya dari pribadi yang diteliti.
2.
Kuesioner dan Wawancara
C. Penulis Dan Karya Utama Studi Psikologi Agama Secara Umum
Pada tahun 1879, di Universitas
Leizing, berdiri sebuah laboratoirum pertama yang diakui sebagai laboratorium
psikologi. Laboratorium ini digagas oleh Wilhem Wundt.[13]
Hal tersebut merupakan titik awal diakuinya psikologi sebagai ilmu
pengetahuan.
Untuk psikologi agama sendiri, pada tahun 1899, terbit sebuah buku berjudul The Psychology of Religion: An Empirical Study of Growth of Religion Counsciousness (Psikologi Agama: Sebuah Kajian Empriris Tentang Pertumbuhan Kesadaran Agama) yang ditulis Edwin Diller Starbuck dan H. James Leuba.[14] Ini lah awal di mana psikologi agama muncul dan mulai berkembang. Buku ini mengkaji tentang kesadaran beragama, sebagai bagian dari kejiawaan manusia dalam hubungannya dengan agama.
Untuk psikologi agama sendiri, pada tahun 1899, terbit sebuah buku berjudul The Psychology of Religion: An Empirical Study of Growth of Religion Counsciousness (Psikologi Agama: Sebuah Kajian Empriris Tentang Pertumbuhan Kesadaran Agama) yang ditulis Edwin Diller Starbuck dan H. James Leuba.[14] Ini lah awal di mana psikologi agama muncul dan mulai berkembang. Buku ini mengkaji tentang kesadaran beragama, sebagai bagian dari kejiawaan manusia dalam hubungannya dengan agama.
Pada tahuan 1901, James Leuba
menulis artikel dengan judul “Introduction to a Psychological Study of
Religion” (Pengantar Studi Psikologi Agama) yang dimuat dalam The Monist Vol.
XI Januari 1901.[15]
Artikel ini kemudian dikembangkan hingga menjadi sebuah buku pada tahun 1912
dengan judul “A Psychological Study of Religion.”
Sementara itu, pada 1905, William James menerbitkan buku berujudul “The Varieties of Religious Experience”[16] (Variasi Pengalaman Beragama) yang awalnya merupakan bahan-bahan perkuliahan yang akan diajarkan bagi mahasiswa di Universitas Edinburgh. Buku ini megkaji pengalaman beragama berbagai tokoh masyarakat..
Sementara itu, pada 1905, William James menerbitkan buku berujudul “The Varieties of Religious Experience”[16] (Variasi Pengalaman Beragama) yang awalnya merupakan bahan-bahan perkuliahan yang akan diajarkan bagi mahasiswa di Universitas Edinburgh. Buku ini megkaji pengalaman beragama berbagai tokoh masyarakat..
Dengan maraknya diskursus tentang psikologi
agama, baik dalam menulis buku dan materi kuliah, psikologi agama mulai
dianggap sebagai cabang ilmu psikologi yang berdiri sendiri. Lebih awal,
di kalangan Muslim, telah muncul tokoh-tokoh seperti al-Kindy, al-Farabi, Ibnu
Sina, Ibnu Maskawih, al-Raziy, kelompok Ikhwan al-Shafa, Ibnu Thufail, Ibnu
Majah dan Ibnu Rusyd yang mengusung aliran psikologi dengan pendekatan
falsafi. Pada dasarnya, tokoh-tokoh tesebut lebih popular sebagai
filosof, ketimbang psikolog. Akan tetapi mengingat karya mereka yang sangat
berkaitan dengan psikologi.
Seperti al-Farabi dan Ibnu Sina,
kajian tentang an-nafs (diri atau jiwa) mendapat porsi besar dalam karya-karya
mereka. Akan tetapi karena ilmu psikologi belum muncul dan berdiri sendiri,
maka tokoh-tokoh tersebut lebih dikenal sebagai filosof ketimbang
psikolog. Masih terintegrasi dengan ilmu lain, yakni ilmu Tasawwuf,
muncul tokoh-tokoh lain seperti Abu Hamid al-Ghazali, Rabi’ah al-Adawiyah, Dzun
Nun al-Mishry, Abu Yazid al-Busthami, al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi, ‘Abd al-Karim
al-Jilli, ‘Abd al-Qadir al-Jailani, al-Suhrawardi, Ibn Qayyim al-Jauziyah dan
sebagainya yang mengusung psikologi dengan pendekatan tasawwuf. Dalam
pola ini, psikologi muncul dalam struktur al-qalb atau al-dzauq yang puncaknya
mampu mencapai ma’rifah, mahabbah, ittihad, hulul, wihdatul wujud dan al-isyraq
kepada Allah.
Untuk wilayah Indonesia, pada tahun
1970, Zakiah Drajat menulis buku dengan judul Ilmu Jiwa Agama (1970), Peranan
Agama dalam Kesehatan Mental. Selanjutnya, pada tahun 1996, Ramayulis
menulis buku yang berjudul Psikologi Agama. Pada tahun 2003, Jalauddin Rakhmat
menulis buku Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. Dengan karya-karya tersebut,
psikologi agama mulai ramai dibicarakan di Indonesia dalam hubungannya dengan
studi Islam.
D. Problematika Pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
Teori-teori psikologi kontemporer
banyak dikembangkan di negara-negara Barat yang mayoritas penduduknya adalah
penganut agama Kristen. Teori-teori ini lah yang kemudian diadopsi ke dalam
psikologi agama yang digunakan dalam mengkaji studi Islam. Teori-teori
psikologi kontemporer yang berasal dari Barat dapat mengurangi pengertian Islam
dari keseluruhan pengertiannya, hingga menampilkan Islam secara parsial atau
tidak utuh. Selain itu, kerena titik berangkatnya pembahasan ini adalah konsep
psikologi, sehingga sering kali membuat kita terjebak, yaitu memandang
persoalan lebih berangkat dari pemahaman terhadap psikologi dari pada
Islamnya.
Sebagai ilmu pengetahuan yang berkembang dan menemukan wujud epistemologi dan metodologinya di Barat, psikologi agama yang berkembang sekarang, tidak mengambil sumber dari Alquran atau sumber-sumber pengetahuan lain yang khusus diakui oleh Islam. Karena perbedaan metodologi dan sumber, teori-teori psikologi agama masih belum cukup untuk menjelaskan fenomena keberagamaan masyarakat Muslim yang dipengaruhi oleh berbagai aspek yang berpengaruh kepada jiwa.
Sebagai ilmu pengetahuan yang berkembang dan menemukan wujud epistemologi dan metodologinya di Barat, psikologi agama yang berkembang sekarang, tidak mengambil sumber dari Alquran atau sumber-sumber pengetahuan lain yang khusus diakui oleh Islam. Karena perbedaan metodologi dan sumber, teori-teori psikologi agama masih belum cukup untuk menjelaskan fenomena keberagamaan masyarakat Muslim yang dipengaruhi oleh berbagai aspek yang berpengaruh kepada jiwa.
Sebagai ilmu yang dibangun dan
dikembangkan dalam masyarakat dan budaya Barat, maka sangat mungkin kerangka
pikir psikologi agama ini dipenuhi dengan pandangan-pandangan atau nilai-nilai
hidup masyarakat Barat. Kenyataan yang sulit dibantah adalah psikologi lahir
dengan didasarkan pada paham-paham masyarakat Barat yang sekularistik. Tak
jarang kita temui pandangan-pandangan psikologi berbeda bahkan bertentangan
dengan pandangan Islam. Karena itu perlu dirumuskan teori-teori yang
lebih utuh, sesuai dengan epitemologi dan metodologi ilmu pengatahuan dalam
Islam. Perumusan ini tidak melarang adopsi teori-teori yang telah ada dalam
psikologi agama konvensional.
E. Contoh Studi Islam Dengan Pendekatan Psikologis
Pendekatan psikologis adalah
pendekatan yang memfokuskan pencarian terhadap masalah kejiwaan manusia. Karena
itu, psikologi agama mencari tahu masalah kejiwaan dalam hubungannya dengan
agama. Ada beberapa contoh studi Islam yang dapat didekati dengan pendekatan
psikologis, antara lain:
1.
Tentang masalah perasaan seorang ahli tasawwuf yang merasa
bahwa Allah selalu
dekat dengannya dan hadir dalam
hatinya dan ia melakukan zikir secara terus menerus dan secara sadar. Masalah
pokok dalam kajian ini adalah perasaan (dekat dengan Allah) manusia ( ahli tasawwuf ) dan bagaimana
perasaan tersebut muncul.
2.
Masalah lainnya
adalah masalah kepuasan seorang hamba terhadap kehidupannya. Di mana bisa
dibandingkan antara dua gejala yakni seorang yang sederhana tapi mempunyai
tingkat ibadah yang lebih tinggi dengan seorang yang cukup tapi mempunyai
tingkat ibadah yang rendah. Masalah
pokok yang dicari adalah pengaruh tingkat ibadah tersebut terhadap rasa puas
dalam kehidupan.
F.
Signifikasi Dan Kontribusi
Pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
Pertanyaan tentang pengaruh kejiwaan
terhadap kehidupan beragama atau sebaliknya, pengaruh agama terhadap kejiwaan
penganutnya tidak bisa dijelaskan kecuali oleh psikologi agama. Tujuan dari
pendekatan piskologis adalah mencari bagaimana pengaruh keberagamaan terhadap
proses dan kehidupan kejiwaan sehingga terlihat dalam sikap dan tingkah laku
lahir (sikap dan tindakan serta cara bereaksi) serta sikap, dan tingkah laku
batin (cara berfikir, merasa atau sikap emosi) atau sebaliknya.
Dengan demikian, penggunaan
pendekatan psikologis dalam studi Islam telah menyumbang bagi perkembangan
kebudyaaan dan ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh umat Islam untuk
memberikan penjelasan ilmiah terhadap berbagai problema dan untuk meningkatkan
sumber daya manusia Muslim.
Banyak gejala keberagamaan
masyarakat Muslim tidak bisa dijelaskan dengan pendekatan hukum, teologis atau
pendekatan lainnya. Kasus-kasus teorisme misalnya. Kasus ini bila didekati
dengan pendekatan hukum, hanya akan menghasilkan kesimpulan benar atau tidaknya
aksi teror dalam hukum Islam. Pendekatan ini tidak memberikan solusi bagi
penyelesaian masalah terorisme hingga akarnya. Pendekatan yang lebih sesuai
adalah pendekatan teologis, dengan membandingkan ideologi para teroris dengan
teologi Islam pada umumnya. Akan tetapi pendekatan ini juga tidak sempurna dalam
menjelaskan masalah, karena masalah teorisme tidak murni masalah teologi, akan
tetapi psikologi. Pendekatan-pendekatan lain tidak bisa menjelaskan
mengapa para teroris berani untuk melakukan bom bunuh diri, bagaimana seseorang
bisa direkrut untuk dimasukkan ke dalam jaringan. Pertanyaan-pertanyaan
tersebut hanya bisa dijawab oleh pendekatan psikologis.
Pendekatan psikologi agama mempunyai
peranan penting dan memberikan banyak sumbangan dalam studi Islam. Psikologi
agama berguna untuk mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, difahami, dan
diamalkan seseorang muslim, misalnya kita dapat mengetahui pengaruh dari ibadah
shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya dalam kehidupan
seseorang. Pendekatan psikologis juga dapat digunakan sebagai alat untuk
mengidentifikasi kadar dan tingkat ajaran Islam yang sesuai dengan tingkat umur
seseorang. Hingga ajaran Islam tidak berubah menjadi semata-mata sistim-sistim
nilai tanpa teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun kontribusi pendekatan
psikologi agama dalam studi Islam adalah:
1.
Untuk membantu di dalam meneliti bagaimana latar belakang
keyakinan
beragama seorang muslim.
2. Untuk membantu
menyelesaikan masalah-masalah keberagamaan seorang muslim, seperti
penyakit mental dan hubungannya dengan keyakinan beragama.
3. Untuk mengetahui bagaimana
hubungan manusia dengan Tuhannya dan bagaimana pengaruh hubungan tersebut
terhadap prilaku dan cara berpikir.
Selain itu, psikologi agama juga telah digunakan sebagai cara pengobatan sakit jiwa dan mental di rumah sakit dan lembaga pemasyarakatan. Hal itu dikarenakan psikologi agama dapat digunakan sebagai alat pembina jiwa dan mental manusia.
Selain itu, psikologi agama juga telah digunakan sebagai cara pengobatan sakit jiwa dan mental di rumah sakit dan lembaga pemasyarakatan. Hal itu dikarenakan psikologi agama dapat digunakan sebagai alat pembina jiwa dan mental manusia.
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Psikologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun
latar belakangnya. Objek formal psikologi adalah jiwa manusia, sedangkan
objek materilnya adalah sikap dan tingkah-laku manusia yang dianggap sebagai
cermin atau perwujudan dari jiwa manusia itu sendiri. Sedangkan psikologi agama
adalah ilmu yang mengkaji kehidupan beragama pada manusia dan pengaruh
keyakinan agama tersebut dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup
pada umumnya.
Pendekatan psikologis adalah
pendekatan yang menggunakan cara pandang ilmu psikologi, yakni pendekatan yang
melihat kajian pada jiwa manusia. Pendekatan psikologis dalam kajian agama
merupakan pendekatan yang bertujuan untuk melihat keadaan jiwa pribadi-pribadi
yang beragama. Pendekatan ini mengambil jiwa manusia yang dilihat dalam
hubungannya dengan agama sebagai objek.
Ada beberapa pendekatan dalam ilmu
psikologi, yakni:
1.
Pendekatan Struktural.
2. Pendekatan
Fungsional.
3. Pendekatan
Psiko-analisis.
Meskipun psikologi berkembang di
Barat, hingga terpengaruh pada cara-pandang kehidupan dan keberagamaan mereka,
pendekatan psikologis memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kehidupan
masyarakat Muslim.
B.
Saran
Penulisan makalah ini tentu masih
jauh dari kesempurnaan, oleh karennya bagi para pembaca kiranya dapat
memberikan kritikan dan masukan demi kesempurnaan makalah ini. Atas saran dan
kritik dari pembaca sekalian penulis terlebih dahulu menyampaikan banyak
terikasih.
DAFTAR RUJUKAN
Ahmadi, Abu, Psikologi Umum. Jakarta : Rineka Cipta,
2003.
Ancok,
Djamaluddin dan Fuat Anshori Suroso,
Psikologi Islami : Solusi Islam atas Problema-Problema Psikologi, cet II.
Yogyakarta:pustaka Pelajar, 1995.
Darajat,
Zakiah, Ilmu Jiwa Agama. Jakarta :
Bulan Bintang, 1979.
Dingagunasa,
Singgih, Pengantar Ilmu Psikologi.
Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1996.
Hidayat,
Komaruddin, et.al., Perkembangan
Psikologi Agama dan Pendidikan Islam Di Indonesia. Ciputat : Logos Wacana
Ilmu, 1999.
Rakhmat,
Jalaluddin. Psikologi Agama: Sebuah
Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002.
Mujib,
Abdul dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa
Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.
Ramayulis,
Ilmu Jiwa Agama. Jakarta :
Kalam Mulia, 1996
___________,
Pengantar Psikologi Agama. Jakarta :
Kalam Mulia, 1996.
Rahmat,
Jalaluddin, Psikologi Agama: Sebuah
Pengantar. Bandung : Mizan , 2003
Wirawan,
Surlito, Pengantar Ilmu Psikologi,
cet II. Jakarta : Bulan Bintang, 1982
[3] Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. 2002 (
Jakarta : Raja Grafindo Persada ), hlm. 7
[5] Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. 2002 (
Jakarta : Raja Grafindo Persada ), hlm. 7
[10] Mujib & Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam. 2002 ( Jakarta: Raja Grafindo
Persada ), hlm. 12
[11] Hidayat, Komaruddin, Perkembangan Psikologi Agama dan Pendidikan
Islam Di Indonesia. 1999 ( Ciputat : Logos Wacana Ilmu ), hlm. 41
[12] Ancok, Djamaluddin dan Fuat Anshori
Suroso, Psikologi Islami : Solusi Islam
atas Problema Problema Psikologi, cet II. 1995 ( Yogyakarta:pustaka Pelajar
), hlm. 76
Tidak ada komentar:
Posting Komentar