KONSELING
INDIVIDU
A.
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Bimbingan dan konseling adalah
pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok
agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi,
sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan
pendukung berdaarkan norma-norma yang berlaku.[1] Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan
sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang
optimal, pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan
peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya.[2] Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses
perkembangan individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan
melalui interaksi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang
tugas dan tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun
interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu
untuk mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku.[3]
Dalam kajian Bimbingan dan Konseling
kita mempelajari banyak hal yang berhubungan dengan bimbingan dari konselor
kepada klien untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh klien. Terlebih
lagi mengenai jenis-jenis layanan dalam bimbingan dan konseling yang terbagi
menjadi beberapa layanan ini memiliki fungsi dan kegiatan yang berbeda-beda.
Dengan perbedaan itu akan dikaji secara mendalam mengenai pengertian
layanan-layanan dalam suatu konteks tertentu sehingga kita dapat memahami makna
layanan-layanan itu.
Sehingga dalam pembahasan
layanan-layanan bimbingan dan konseling ini bertujuan untuk membantu para klien
yang mengalami masalah agar dapat mengambil keputusan secara tepat dan akurat
dengan bantuan konselor. Selain itu, akan dibahas pula mengenai pengertian
masing-masing layanan tersebut sehingga akan jelas tindakan klien jika mereka
mempunyai masalah yang tidak dapat diselesaikan sendiri. Sehingga peran
konselor sangat penting untuk membantu kliennya.
Salah satu jenis layanan bimbingan
konseling adalah layanan konseling individu. Konseling individu merupakan
layanan konseling yang diselenggarakan oleh seorang konselor terhadap seorang
klien dalam rangka pengentasan masalah pribadi klien. Dalam konsleing
individu pemberian bantuan dilakukan secara face to face
relationship antara konselor dengan individu (konseli).[4] Dalam
konseling ini teori yang digunakan adalah konseling berpusat pada person
yaitu yang memandang klien sebagai partner dan perlu adanya keserasian
pengalaman baik pada klien mapun konselor dan keduanya perlu mengemukakan
pengelamannya pada saat hubungan konseling berlangsung. Secara ideal
konseling yang berpusat pada person tidak terbatas oleh tercapainya
pribadi yang kongruensi saja.[5]
Menurut Rogers tujuan konseling pada
dasarnya sama dengan tujuan kehidupan ini yaitu apa yang disebut
dengan full functioning person yaitu pribadi yang
berfungsi sepenuhnya.[6]
Dalam suasana tatap muka dilaksanakan interaksi langsung antara klien dan
konselor, membahas berbagai hal tentang masalah yang dialami klien. Pembahasan
tersebut bersifat mendalam menyentuh hal-hal penting tentang diri klien (bahkan
sangat penting yang boleh jadi penyangkut rahasia pribadi klien). Masalah
tersebut bisa meluas meliputi berbagai sisi yang menyangkut permasalahan klien,
namun juga bersifat spesifik menuju ke arah pengentasan masalah. Dalam layanan
konseling individu konselor memberikan ruang dan suasana yang memungkinkan
klien membuka diri setransparan mungkin. Lebih lengkap lagi mengenai
pengertian, teknik dan tujuan layanan konseling individu akan dibahas dalam
makalah ini.[7]
2.
Rumusan
Masalah
a. Bagaimanakah
definisi dari konseling individu?
b. Apa
saja tujuan layanan konseling individu?
c. Bagaimana
teknik yang digunakan dalam layanan konseling individu?
d. Bagaimana
prosedur pelaksanaan konseling individu?
e. Bagaimana
konseling individu diimplementasikan dalam studi kasus?
3.
Tujuan Pembahasan
a. Mengetahui
definisi dari konseling individu.
b. Mengetahui
tujuan layanan konseling individu.
c. Mengetahui
teknik yang digunakan dalam layanan konseling individu.
d. Mengetahui
prosedur pelaksanaan konseling individu dan contoh kasusnya.
e. Mengetahui
contoh kasus yang diselesaikan menggunakan layanan konseling individu
B.
PEMBAHASAN
1.
Definisi
dari Konseling Individu
Konseling individu terjadi ketika seorang
konselor bertemu secara pribadi dengan seorang siswa untuk tujuan
konseling.[8]
Ini adalah interaksi antara konselor dan konseli dimana banyak yang
berpikir bahwa ini adalah esensi dari pekerjaan konselor. [9]Layanan
konseling individu merupakan bentuk layanan bimbingan dan konseling khusus
antara peserta didik (klien) dengan konselor dan mendapat layanan langsung
tatap muka (secara perorangan) dalam rangka pembahasan dan pengentasan
permasalahan pribadi yang diderita peserta didik (klien).[10]
Konseling individu merupakan bentuk
layanan yang paling utama dalam peaksanaan fungsi pengentasan masalah klien.
Dengan demikian konseling perorangan merupakan “jantung hati”.[11]
Implikasi lain pengertian “jantung hati” adalah apabila seorang
konselor telah menguasai dengan baik apa, mengapa dan bagaimana pelayanan
konseling itu (memahami, menghayati dan menerapkan wawasan, pengetahuan dan
ketrampilan dengan berbagai teknik dan teknologinya), maka diharapkan ia dapat
menyelenggarakan layanan-layanan bimbingan lainnya tanpa mengalami banyak
kesulitan.
Banyak peserta didik yang tidak mau
membicarakan masalah pribadi atau urusan pribadi mereka dalam diskusi
kelas dengan guru. Beberapa dari mereka ragu untuk berbicara di depan
kelompok-kelompok kecil. Oleh karena itu, konseling individu dalam
sekolah-sekolah, tidak terlepas dari psikoterapi, didasarkan pada
asumsi bahwa konseli itu akan lebih suka berbicara sendirian dengan seorang
konselor.[12]
Selain itu, kerahasiaan, selalu dianggap sebagai dasar konseling.
Akibatnya, muncul asumsi bahwa siswa membutuhkan pertemuan pribadi
dengan seorang konselor untuk mengungkapkan pikiran mereka dan untuk
meyakinkan bahwa pengungkapan mereka akan dilindungi.
Tidak ada yang lebih aman daripada
konseling individu. Konseling individu sebagai intervensi mendapatkan
popularitas dari pemikiran teoritis dan filosofis yang menekankan
penghormatan terhadap nilai individu, perbedaan, dan hak-hak. Hubungan
konseling bersifat pribadi. Hal ini memungkinkan beberapa jenis
komunikasi yang berbeda terjadi antara konselor dan
konseli, perlindungan integritas dan kesejahteraan konseli
dilindungi.[13]
Konseling telah
dianggap sangat rumit, dengan setiap kata, infleksi sikap, dan
keheningan yang dianggap penting, yang hanya bisa terjadi antara
konselor yang terampil dan konseli yang berminat.
Bersama-sama mereka mencari makna tersembunyi di balik perilaku. Seperti
pemeriksaan pribadi memerlukan sikap permisif dan kebebasan
untuk mengeksplorasi ide-ide secara mendalam, di bawah pengawasan ketat dari
konselor. Selama bertahun-tahun, telah diasumsikan bahwa pengalaman
ini hanya bisa terjadi dalam interaksi antara dua orang. Materi yang
dapat diangkat melalui layanan konseling perorangan ini ada berbagai macam,
yang pada dasarnya tidak terbatas. Layanan ini dlilaksanakan untuk seluruh
masalah peserta didik secara perorangan (dalam berbagai bidang bimbingan, yaitu
bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karier).
2.
Tujuan
Konseling Individu
Tujuan dari
layanan konseling individu dibedakan menjadi dua bagian.[14] yaitu:
1.
Tujuan Umum
Tujuan umum layanan
konseling individu adalah terentasinya masalah yang dialami klien. Apabila
masalah klien itu dicirikan sebagai:
(a) sesuatu yang tidak disukai
adanya,
(b) suatu yang ingin dihilangkan
(c) sesuatu yang dapat menghambat
atau menimbulkan kerugian
Maka upaya pengentasan masalah klien
melalui konseling individu akan mengurangi intensitas ketidaksukaan atas
keberadaan sesuatu yang dimaksud atau meniadakan keberadaan sesuatu yang
dimaksud atau bisa jadi mengurangi intensitas hambatan kerugian yang
ditimbulkan oleh suatu yang dimaksudkan itu. Dengan layanan konseling individu
beban klien diringankan, kemampuan klien ditingkatkan, potensi klien
dikembangkan. Tujuan umum layanan konseling individu adalah pengentasan masalah
klien dengan demikian, fungsi pengentasan sangat dominan dalam layanan ini.
2.
Tujuan Khusus
Dalam kerangka
tujuan umum itu, tujuan khusus layanan konseling individu dapat dirinci dan
secara langsung dikaitkan dengan fungsi-fungsi konseling yang secara menyeluruh
diembannya, antara lain:
a. Melalui
layanan konseling individu klien memahami seluk-beluk masalah yang dialami
secara mendalam dan komprehensif, serta positif dan dinamis (fungsi pemahaman).
b. Pemahaman
itu mengarah kepada dikembangkannya persepsi dan sikap serta kegiatan demi
terentaskannya secara spesifik masalah yang dialami klien itu (fungsi
pengentasan). Pemahaman dan pengentasan masalah merupakan fokus yang sangat
khas, kongkrit dan langsung ditangani dalam layanan konseling individu.
c. Pengembangan
dan pemeliharaan potensi klien dan berbagai unsur positif yang ada pada dirinya
merupakan latar belakang pemahaman dan pengentasan masalah klien dapat dicapai
(fungsi pengembangan atau pemeliharaan). Bahkan, secara tidak langsung, layanan
konseling individu sering kali menjadikan pengembangan atau pemeliharaan
potensi dan unsur-unsur positif klien sebagai fokus dan sasaran layanan.
d. Pengembangan
atau pemeliharan potensi dan unsur-unsur positif yang ada pada diri klien,
diperkuat oleh terentaskannya masalah, akan merupakan kekuatan bagi tercegah
menjalarnya masalah yang sekarang sedang dialami itu, serta (diharapkan)
tercegah pula masalah-masalah baru yang mungkin timbul (fungsi pencegahan).
e. Apabila
masalah yang dialami klien menyangkut dilanggarnya hak-hak klien sehingga klien
teraniaya dalam kadar tertentu, layanan konseling individu dapat menangani
sasaran yang bersifat advokasi (fungsi advokasi). Melalui layanan konseling
individu klien memiliki kemampuan untuk membela diri sendiri menghadapi
keteraniayaan itu. Kelima sasaran yang merupakan wujud dari keseluruhan fungsi
konseling itu, secara langsung mengarah kepada dipenuhinya kualitas untuk
keperikehidupan sehari-hari yang efektif (effective daily living).
Gabungan capaian tujuan umum dan
tujuan khusus yang dapat diraih melalui layanan konseling individu
memperlihatkan betapa layanan konseling individu dapat disebut sebagai “jantung
hatinya” seluruh pelayanan konseling. Dengan kemampuan layanan konseling
individu, konselor dapat menjangkau keseluruhan daerah pelayanan konseling.
3.
Teknik
Konseling Individu
Pengembangan
proses layanan konseling individu oleh konselor dilandasi oleh dan sangat
pengaruhi oleh suasana penerimaan, posisi duduk, dan hasil penstrukturan. Lebih
lanjut, Konselor menggunakan berbagai teknik untuk mengembangkan proses
konseling individu yang efektif dalam mencapai tujuan layanan.[15]
Teknik-teknik tersebut meliputi:
1. Kontak
mata
2. Kontak
psikologis
3. Ajakan
untuk berbicara
4. Tiga
M (mendengar dengan cermat, memahami secara tepat, merespon secara tepat dan
positif)
5. Keruntutan
6. Pertanyaan
terbuka
7. Dorongan
minimal
8. Refleksi
(isi dan perasaan)
9. Penyimpulan
10. Penafsiran
11. Konfrontasi
12. Ajakan untuk memikirkan
sesuatu yang lain
13. Peneguhan hasrat
14. “Penfrustrasian” klien
15. Strategi “tidak memaafkan
klien”
16. Suasana diam
17. Transferensi dan
kontra-transferensi
18. Teknik eksperiensial
19. Interprestasi
pengalaman masa lampau
20. Asosiasi
bebas
21. Sentuhan
jasmaniah
22. Penilaian
23. Pelaporan
Penerapan teknik-teknik tersebut di atas dilakukan secara
eklektik, dalam arti tidak harus berurutan satu persatu yang satu mendahului
yang lain, melainkan terpilih dan terpadu mengacu kepada kebutuhan proses
interaksi efektif sesuai dengan objek yang direncanakan dan susana proses
pembentukan yang berkembang.[16]
Kontak psikologis dibina sejak awal-awal proses layanan
yang di dalamnya ada ajakan untuk berbicara, selanjutnya berkembanglah
interaksi intensif antara klien dan Konselor melalui pertanyaan terbuka,
refleksi, penyimpulan, penafsiran, yang kadang-kadang (sesuai dengan keperluan)
diselingi konfrontasi, ajakan untuk memikirkan sesuatu yang lain, dan peneguhan
hasrat. Dalam pada itu, kontak mata, tiga-m, keruntutan dan dorongan minimal
selalu mewarnai dan menyertai seluruh dinamika interaksi.
Teknik “menfrukstrasikan” dan
strategi “tiada maaf” hanya digunakan secara benar-benar terpilih untuk
membangkitkan dan menyadarkan klien akan tantangan yang harus ia hadapi serta
meninggikan motivasi dan semangat dalam memasuki dan menggapai kesempatan yang
terbuka. Kedua teknik ini, dan juga teknik konfrontasi, seringkali
diikuti oleh “suansana diam”.
Teknik berkenaan dengan transferensi
dan kontra-tranferensi dapat dimunculkan dalam proses layanan dengan kontak
psikolgis yang benar-benar intens. Intensitas proses layanan dapat ditempuh
lebih jauh melalui teknik-teknik eksperimensial, analisis pengalaman masa
lampau, dan asosiasi bebas. Teknik-teknik yang disebut terakhir ini hanya
dilakukan untuk keperluan pendalaman yang khas sesuai dengan permasalahan
klien. Untuk pendalaman yang dimaksudkan itu, dan untuk memberikan nuansa yang
lebih bersifat afektif, sentuhan jasmaniah dapat dilakukan. Proses layanan
konseling individu diakhiri dengan kegiatan penilaian dan pelaporan. Kegiatan
ini dilaksanakan pada setiap kali sesi layanan konseling individu, khususnya
untuk kegiatan penilaian segera.
4.
Prosedur
Pelaksanaan Konseling Individu
Secara
umum, proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap
mendefinisikan masalah); (2) tahap inti (tahap kerja); dan (3) tahap akhir
(tahap perubahan dan tindakan).[17]
1. Tahap Awal
Tahap ini terjadi dimulai
sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan
masalah klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya:
a.
Membangun hubungan
konseling yang melibatkan klien (rapport). Kunci
keberhasilan membangun
hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling terutama azas kesukarelaan,
keterbukaan, kerahasiaan dan kegiatan.
b.
Memperjelas dan
mendefinisikan masalah. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri,
maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien.
c.
Membuat penaksiran
dan perjajagan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah
dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua
potensi klien, dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah.
d.
Menegosiasikan kontrak.
Membangun perjanjian antara konselor dengan klien, berisi:
1)
Kontrak waktu, yaitu
berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak
berkebaratan.
2) Kontrak tugas, yaitu berbagi tugas antara konselor
dan klien.
3) Kontrak
kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan tanggung\jawab
bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling.
2. Inti (Tahap Kerja)
Setelah
tahap Awal dilaksanakan dengan baik, proses konseling selanjutnya adalah
memasuki tahap inti atau tahap kerja. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang
harus dilakukan, diantaranya:
a.
Menjelajahi dan
mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Penjelajahan
masalah dimaksudkan agar
klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang
dialaminya.
b. Konselor
melakukan reassessment (penilaian kembali), bersama-sama klien
meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien.
c. Menjaga agar hubungan
konseling tetap terpelihara. Hal ini bisa terjadi jika:
1) Klien merasa
senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling,
serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri
dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
2) Konselor
berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan
dapat menunjukkan pribadi yang jujur, ikhlas dan benar-benar peduli terhadap
klien.
3) Proses
konseling agar berjalan sesuai kontrak. Kesepakatan yang telah dibangun pada
saat kontrak tetap dijaga, baik oleh pihak konselor maupun klien.
3. Akhir
(Tahap Tindakan)
Pada tahap akhir
ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu:
a. Konselor
bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proseskonseling.
b. Menyusun
rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah
terbangun dari proses konseling sebelumnya.
c. Mengevaluasi
jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).
d. Membuat
perjanjian untuk pertemuan berikutnya.
Pada tahap akhir
ditandai beberapa hal, yaitu:
a. Menurunnya
kecemasan klien
b. Perubahan
perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat dan dinamis
c. Pemahaman
baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya
d. Adanya
rencana hidup masa yang akan datang dengan program yangjelas.
5. Skenario Studi Kasus Konseling Individu
1. Kasus 1 (Dituduh Menjadi Pemakai NAPZA). [18]
Konselor : (Sedang di depan pintu
hendak keluar,melihat seorang siswa berdiri diam didepan pintu masuk ruang
BK,lantas….). Kamu Siska kan? Kok berdiri disini, apa ada perlu sama
Ibu?
Konseli
:Iya Bu, sebenarnya saya mau jumpa Ibu, tapi saya malu.
Konselor :Mau
jumpa Ibu?Ayo masuk….(sambil menuntun siswa masuk). silakan
duduk! Ada yang biasa Ibu bantu?
Konseli :Iya
Bu,…..saya lagi……
Konselor :lagi
apa..?!?!? sama Ibu kok malu-malu.
Konseli :Begini
Bu….!saya lagi bingung!
Konselor :Bingung……?Iya..ya..coba
!kamu cerita ke Ibu.
Konseli :…………!?!?!?
Konselor :Ayo,.katanya
mau jumpa Ibu?
Konseli :Saya
dituduh Bu!
Konselor :di
tuduh?....maksudnya?
Konseli :Saya
di tuduh pemakai Bu.
Konseli :Ibu kurang jelas,bisa kamu ceritakan sama
Ibu apa yang sebenarnya terjadi?
Konselor
:Persisnya begini Bu!
Konseli :Hari
senin lalu, belum habis upacara bendera, karena saya
sangat lemas, saya pergi ke kamar mandi. Perut
saya sakit sekali.
Konselor :Ya, lalu?
Konseli :Buk Tumorang yang kebetulan mengawasi siswa
di barisan, jalan kebelakang dan menjumpai saya ada di kamar mandi. Dia
langsung memeriksa saya. Di kantong saya ia temukan pil yang bentuknya bulat
agak besar. Lantas dia bilang,”Siska ! kamu pasti nge-pil, ngaku”
Konselor :Siska jawab apa?
Konseli :Saya
jawab, “Nggak buk itu obat saya, mana mungkin saya nge-pil”. Tapi Buk Tumorang
terus ngotot. Katanya,”Kalau kamu nggak ngaku, saya lapor polisi” gitu
katanya Bu.
Konselor :Sis,
kalau kamu tidak keberatan,Ibu boleh tau?. Memang obat itu obat apa? Maaf
ya! Ibu tidak curiga sama kamu.Tidak! sama sekali tidak.
Konseli :Saya
juga kurang tau Bu. Saya baru di kasih ayah tadi pagi sebelum berangkat
ke sekolah. Kata Ayah ”Sis, perut kamu kan sakit, kamu perlu obat ini. Nanti
kira-kira jam 10, kamu makan ya!”. cuma itu Bu.
Konselor :Ya,,ya, Ibu
bisa mengerti, tentu masalah ini yang menjadi beban fikiran kamu.Apa benar
begitu?
Konseli
:Iya Bu, saya sedih dan juga
bingung.
Konselor
:Siapapun yang mengalaminya,pasti akan
sama seperti kamu.
Konseli :Iya Bu, saya harus bagaimana?
Konselor
:Boleh Ibu
tahu, Ayahnya Siska kerja dimana?
Konseli :Jangan Bu, Ayah saya jangan
dipanggil. Ayah saya kerjanya di Kantor Departemen Agama. Kalau dia
nanti dipanggil ke sekolah, nanti dia malu.
Konselor
:Kamu salah sangka nak,Ibu bukan mau manggil orangtua kamu. Tapi nggak apa,
dari jawaban kamu tadi Ibu sudah dapat jawabannya.
Konseli
:Maksud Ibu?
Konselor :Menurut Siska, dengan keberadaan orangtua
kamu kerjanya di Kantor Departemen Agama, apa iya Ayah kamu diberi sesuatu yang
akan mencelakakan kamu?
Konseli :Tentu
saja tidak ya! Iya kan Bu? Tapi saya takut Bu?. Pil nya sekarang masih ada
sama Buk Tumorang,saya takut nanti dia kasi tau sama guru-guru atau kawan saya
di kelas.
Konselor :Menurut Ibu,sebaiknya jangan menduga-duga
dulu. Nah! sekarang menurut kamu sebaiknya bagaimana?
Konseli :Bagaiman kalau begini Bu? Saya telepon Ayah saya, saya ceritakan
kejadiannya,supaya nanti Ayah saya yang menjelaskan sama Buk
Tumorang. Saya takut,kalau makin lama nanti beritanya tersebar.
Konselor :Kalau menurut kamu itu bisa membantu kenapa
tidak?
Konseli :Terimakasih
Bu, saya agak merasa lega, mudah-mudahan tuduhan Bu Tumorang itu
tidak benar ya Bu!
Konselor :Ibu juga berharap begitu,dan berharap
masalah kamu segera bisa kamu selesaikan.
Konseli :Iya Bu.
Konselor :Ibu senang sekali.Dan Ibu bangga sama Siska.
Konseli :Saya permisi ya Bu,dan sekali lagi
terimakasih.
Konselor :Sama-sama, Ibu juga
terimakasih. Jangan segan, jika masih butuh bantuan Ibu,Ibu
akan dengan senang hati membantu. (sambil mengiringi siswa
keluar,menjabat erat tangan Siska) semangat!
2. Kasus
2 (Orang Tua Cerai). [19]
Konselor :(Duduk
tenang diruang BK sambil membaca buku)
Konseli
:(mengetuk pintu) Selamat pagi bu,saya boleh masuk?
Konselor :Selamat
pagi nak,oh iya Budi…apa kabarnya pagi ini? Baik-baik saja kan? Ayo
sini….(sambil menuntun siswa kearah tempat duduk,lalu) silakan duduk!
Konseli :Kabar
baik Bu,…..tapi…..
Konselor :tapi…? Wah
kelihatannya ada yang dipikirkan,kira-kira bisa Ibu bantu….?
Konseli :Begini
bu….!saya lagi bingung!
Konselor :Bingung……?
Iya..ya..coba kamu teruskan.
Konseli :Bagaimana
tidak bingung bu,sebentar lagi saya akan menghadapi ujian UN. Sedangkan
saya tidak pernah bisa konsentrasi untuk belajar.
Konselor :Tidak
bisa konsentrasi belajar; iya..ya..ya. Ini tidak seperti
biasanya,karena Ibu tau selama ini kamu tetap juara di kelasmu.
Konseli :Sekarang
tidak lagi bu.
Konselor :Persisnya
sejak kapan, apa Ibu boleh tau?
Konseli :Ya
itu lah bu, sejak orangtua saya cerai 2 bulan lalu?
Konselor :Ya,,ya, Ibu
bisa mengerti, tentu masalah ini yang menjadi beban fikiran kamu.Apa
benar begitu?
Konseli :Iya bu, saya
sedih dan juga bingung.
Konselor :Siapapun
yang mengalaminya, pasti akan sama seperti kamu.
Konseli :Begitulah
bu, jadinya belajarpun saya tidak bisa konsentrasi.
Konselor
:Sekarang Budi tinggal sama siapa?
Konseli
:Sekarang saya tinggal bersama Ibu.
Konselor
:Bagaimana, Ibu sayang sama Budi?
Konseli :Tinggal
itu lah bu,makanya saya masih bertahan. Ibu sangat menyayangi saya dan
sering menasehati saya supaya rajin sekolah. Katanya rajin belajar ya
nak, tinggal kamu harapan Ibu.
Konselor :Ibu
begitu menyayangi kamu, menurut kamu, kamu harus bagaimana?
Konseli :Tentu
saya juga harus sayang Ibu, saya tidak mau Ibu sedih.
Konselor :Caranya?
Konseli
:Saya tidak tau bu, Saya harus bagaimana ya bu? saya tidak punya
apa-apa yang bisa saya persembahkan untuk Ibu, dan ini yang sering membuat
saya bingung dan tidak konsentrasi belajar.
Konselor :Tadi
kalau Ibu tidak salah, Ibu ada pesan buat kamu.
Konseli :….???
Oh iya bu, dia pesan supaya saya rajin belajar, rajin sekolah.
Konselor :Iya
betul..!,menurut kamu bagaimana…?
Konseli :Apa
menurut Ibu kalau itu saya turuti, maka Ibu saya akan senang?
Konselor :Menurut
Ibu begitu.
Konseli :Mungkin
juga ya bu? Sebab kalau Ibu melihat saya
termenung, Ibu malah semakin tampak sedih.
Konselor :Nah…itu
dia.
Konseli :Maksud
Ibu?
Konselor :Kalau
ibu melihat kamu rajin belajar, bagaimana reaksi Ibu.
Konseli :Ibu
pernah bilang, ”Ibu senang, kamu harapan Ibu”
Konselor :Lalu
menurut kamu apa artinya?
Konseli :Saya
mengerti bu, berarti kalau saya rajin belajar, rajin sekolah, berarti
saya sudah membahagiakan Ibu. Ibu tidak meminta lebih dari
itu. Saya tidak perlu memikirkan apa yang harus saya berikan pada
Ibu.
Konselor :Tepat
sekali,…Ibu setuju, lantas?
Konseli :Mungkin
Ibu akan lebih bahagia lagi kalu saya bisa lulus UN ya bu?
Konselor :Kamu
benar, sekarang bagaimana?
Konseli :Iya
bu….! Saya mengerti sekarang. Saya berjanji akan rajin belajar dan
rajin sekolah, dan saya akan persembahkan bukan cuma sekedar lulus UN
pada Ibu tapi juga nilai terbaik.
Konselor :Ibu
senang sekali. Dan Ibu bangga sama kamu.
Konseli :Bu, saya
sudah lega. Saya sangat berterimaksih sama Ibu. Kalau begitu saya
permisi dulu ya bu,sebentar lagi jam pelajaran Bahasa Inggris.
Konselor
:Sama-sama,Ibu juga terimakasih. Jangan segan, jika masih butuh
bantuan Ibu,Ibu akan dengan senang hati membantu. (sambil mengiringi
siswa keluar) selamat pagi……….!
C. PENUTUP
Kesimpulan
a. Layanan
konseling individu merupakan bentuk layanan bimbingan dan konseling khusus
antara peserta didik (klien) dengan konselor dan mendapat layanan langsung
tatap muka (secara perorangan) dalam rangka pembahasan dan pengentasan
permasalahan pribadi yang diderita peserta didik (klien).
b. Tujuan umum
layanan konseling individu adalah terentasnya masalah yang
dialami klien.
c. Pengembangan
proses layanan konseling individu oleh konselor dilandasi oleh dan sangat
pengaruhi oleh suasana penerimaan, posisi duduk, dan hasil penstrukturan. Lebih
lanjut, Konselor menggunakan berbagai teknik untuk mengembangkan proses
konseling individu yang efektif dalam mencapai tujuan layanan.
d. Proses
konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan
masalah); (2) tahap inti (tahap kerja); dan (3) tahap akhir (tahap perubahan
dan tindakan).
DAFTAR RUJUKAN
Desmita,
Psikologi Perkembangan, ( Bandung : Remaja
Rosdakarya ), 2006.
--------------,
Psikologi Perkembangan Pesreta Didik , (
Bandung : Remaja Rosdakarya ), 2009.
Departeman Pendidikan dan Kebudayaan
: Materi Dasar Pendidikan Program Bimbingan dan Konseling di
Perguruan Tinggi Metode dan Teknik Bimbingan dan Konseling Buku III B, 1983
Departeman Pendidikan Kebudayaan :Penataran Pendidikan Profesional Konselor
dan layanan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal, 2008
Natawidjaja,
R. Pendekatan-pendekatan dalam Penyuluhan Kelompok I.
(
Bandung: CV. Diponegoro ), 1987.
Sukardi. Proses Bimbingan dan Penyuluhan. ( Tabanan: Rineka Cipta ), 1993.
---------------,
Pengantar Pelaksanaan BK di Sekolah. (
Tabanan: Rineka Cipta ), 1996.
Walgito,
Bimo. Bimbingan dan Konseling (Studi dan
Karir,( Bandung : Andi Offset ), 2005.
Winkel.
(1978). Bimbingan dan Penyuluhan di
Sekolah Menengah. ( Jakarta: Gramedia ), 1978
---------------, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan.( Jakarta: PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia) 1978
---------------,
Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan.
(Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.), 1997.
Materi
Tambahan
Layanan Konseling Individual
Layanan Konseling
Individual yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan
masalah pribadinya. Layanan konseling individual merupakan layanan yang
diselenggarakan oleh seorang guru Bimbingan dan Konseling (konselor) terhadap
seorang konseli (dibaca: siswa) dalam rangka pengentasan masalah pribadi
konseli. Dalam suasana tatap muka dilaksanakan interaksi langsung antara
konseli dan konselor, membahas berbagai hal tentang masalah yang dialami
konseli. Pembahasan tersebut bersifat mendalam menyentuh hal-hal penting tentang
diri konseli (bahkan sangat penting yang boleh jadi menyangkut rahasia pribadi
konseli) bersifat meluas meliputi berbagai sisi yang menyangkut permasalahan
konseli, namun juga bersifat spesifik menuju kearah pengentasan masalah.
Dalam konseling individual guru BK (konselor)
memberikan ruang dan suasana yang memungkinkan konseli membuka diri
setransparan mungkin. Dalam suasana seperti itu, ibaratnya konseli sedang
berkaca. Melalui “kaca” itu konseli memahami kondisi diri sendiri dan
lingkungannya serta permasalahan yang dialami, kekuatan dan kelemahan yang
dimiliki, serta kemungkinan upaya untuk mengatasi masalahnya itu. Hasil
“berkaca” itu mengarahkan dan menggerakkan konseli untuk segera dan secermat
mungkin melakukan tindakan pengentasan atas kekurangan dan kelemahan yang ada
pada dirinya. Menciptakan suasana “berkaca” dan membawa konseli ke hadapan kaca
sehingga konseli memahami kondisi diri dan mengupayakan perbaikan bagi dirinya,
seringkali tidak mudah. Untuk itu guru BK perlu melengkapi diri dengan berbagai
teknik konseling, baik itu teknik umum untuk pengembangan proses konseling
maupun teknik khusus untuk intervensi dan pengubahan tingkah laku konseli.
Teknik-teknik tersebut disinergikan dengan asas-asas konseling, akan membentuk
operasional layanan konseling individual oleh guru BK yang professional.
1.
Tujuan Konseling Individual
Tujuan layanan konseling individual adalah
terentaskannya masalah yang dialami konseli. Apabila masalah konseli itu
dicirikan sebagai: (a) sesuatu yang tidak disukai adanya, (b) suatu yang ingin
dihilangkan, dan/atau (c) sesuatu yang dapat menghambat atau menimbulkan
kerugian, maka upaya pengenatasan masalah konseli melalui konseling individual
akan mengurangi intensitas ketidaksukaan atas keberadaan sesuatu yang dimaksud
atau meniadakan keberadaan sesuatu yang dimaksud, dan/atau mengurangi
intensitas hambatan dan/atau kerugian yang ditimbulkan oleh suatu yang
dimaksudkan itu. Dengan layanan konseling individual beban konseli diringankan,
kemampuan konseli ditingkatkan, potensi konseli dikembangkan.
2.
Fungsi Layanan Konseling Individual
Fungsi utama layanan konseling individual yang
sangat dominan adalah fungsi pengentasan. Namun secara menyeluruh konseling
individual meliputi juga fungsi-fungsi lainnya: pemahaman. (b) fungsi
pengembangan/pemeliharaan, (c) fungsi pencegahan, (d) fungsi advokasi.
3. Komponen Konseling Individual
Dalam layanan konseling individual berperan dua
pihak, yaitu seorang konselor dan seorang konseli. Konselor adalah seorang ahli
dalam bidang konseling yang memiliki kewenangan dan mandat secara profesional
untuk melaksanakan kegiatan pelayanan konseling. Dalam layanan konseling
individual konselor menjadi aktor yang secara aktif mengembangkan proses
konseling melalui dioperasionalkannya pendekatan, teknik dan asas-asas
konseling terhadap konseli. Dalam proses konseling selain media pembicaraan
verbal, konselor juga dapat menggunakan media tulisan, gambar, media
elektronik, dan media pembelajaran lainnya, serta media pengembangan tingkah
laku. Semua hal itu diupayakan konselor dengan cara-cara yang cermat dan tepat,
demi terentaskannya masalah yang dialami konseli.
Konseli adalah seorang individu yang sedang
mengalami masalah, atau setidak-tidaknya sedang mengalami sesuatu yang ingin ia
sampaikan kepada orang lain. Konseli menanggung semacam beban, atau mengalami
suatu kekurangan yang ia ingin isi, atau ada sesuatu yang ingin dan/atau perlu
dikembangkan pada dirinya, semuanya itu agar ia mendapatkan suasana fikiran
dan/atau peerasaan yang lebih ringan, memperoleh nilai tambah, hidup lebih
berarti, dan hal-hal positif lainnya dalam menjalani hidup sehari-hari dalam
rangka kehidupan dirinya secara menyeluruh.
Konseli datang dan
bertemu konselor dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang datang sendiri dengan kemauan
yang kuat untuk menemui konselor (selfreferal), ada
yang datang dengan perantaraan orang lain, bahkan ada yang datang (mungkin
terpaksa) karena didorong atau diperintah oleh pihak lain. Kedatangan konseli
menemui konselor disertai dengan kondisi tertentu yang ada pada diri konseli
itu sendiri. Dalam proses itu apapun latar belakang kedatangan konseli, dan
bagaimanapun juga kondisi diri konseli sejak paling awal pertemuannya dengan
konselor, semuanya itu harus disikapi oleh konselor dengan penerapan asas
kekinian dan prinsip “konseli tidak pernah salah” (KTPS).
Apapun latar belakang dan kondisi konseli yang
datang menemui konselor, semuanya itu perlu mendapatkan perhatian dan
penanganan sepenuhnya oleh konselor. Melalui proses layanan konseling individual,
konseli bersama konselor melakukan upaya tersinergikan untuk mencapai tujuan
layanan. Tahapan keefektipan layanan konseling individual bisa terpenuhi
apabila:
·
Konseli menyadari bahwa dirinya bermasalah
·
Konseli menyadari bahwa dirinya memerlukan
bantuan untuk mengentaskan masalah yang dialaminya.
·
Konseli mencari sumber (dalam hal ini
konselor) yang dapat memberikan bantuan.
·
Konseli terlibat secara aktif dalam proses
perbantuan (dalam hal ini konseling individual)
·
Konseli mengharapkan hasil upaya perbantuan.
4.
Asas Konseling Individual
Asas-asas dalam konseling individual dimaksud untuk
memperlancar proses dan memperkuat bangunan hubungan antara konselor dan
konseli. Asas-asas konseling itu meliputi :
·
Kerahasiaan
·
Kesukarelaan dan keterbukaan
·
Keputusan diambil oleh konseli sendiri
·
Kekinian dan kegiatan
·
Kenormatifan dan keahlian
Gibson,
Mitchell & Basile (dalam Gibson & Mitchell, 1995:142) menyebutkan
tujuan konseling perorangan sebagai berikut:
Developmental Goals: developmental goals are those wherein the
client is asissted in meeting or advancing her or his anticipated human growth
and development (that is socially, personally, emotionally, cognitively,
physical wellness, and so on); Preventive goals: prevention is a goal in which
the counselor helps the client avodi some undesire outcome; Enhancement goals:
if the client possesses special skills and abilities, enhancement means they
can be identified and/or further developed through the assistancte of a
counselor; Remedial goals: remediation involves assisting a client to overcome
and/or treat an undesirable development; Exploratory goals: exploration
represent goals appropriate to the examining of options, testing of skills, and
trying new and different activities, environments, relationships, and so on;
Reinforcement goals: reinforcement is used in those instances where clients
need help in recognizing that what they are doing, thinking, and/or feeling is
okay; Cognitive goals: cognition involves acquiring the basic foundations of learning
and cognitive skills; Physiological goals: physiology involves acquiring the
basic understanding and habits for good health; Psychological goals: psycology
aids in developing good social interaction skills learning emotional control,
developing a positive self concept, and so on.
…tujuan perkembangan: tujuan-tujuan pembangunan adalah mereka dimana
klien asissted dalam memenuhi atau memajukan dirinya atau pertumbuhan manusia
nya diantisipasi dan pengembangan (yang secara sosial, pribadi, emosional, kognitif,
fisik, dan sebagainya); tujuan pencegahan: pencegahan adalah tujuan di mana
konselor membantu klien menghindari hasil yang tidak diinginkan; tujuan
tambahan: jika klien memiliki keterampilan dan kemampuan khusus, peningkatan
berarti mereka dapat diidentifikasi dan / atau dikembangkan lebih lanjut
melalui assistancte dari konselor; tujuan Remedial: remediasi melibatkan
membantu klien untuk mengatasi dan / atau mengobati pembangunan yang tidak
diinginkan; tujuan eksplorasi: eksplorasi merupakan tujuan yang tepat untuk
memeriksa pilihan, pengujian keterampilan, dan mencoba kegiatan baru dan
berbeda, lingkungan, hubungan, dan sebagainya; tujuan penguatan: penguatan
digunakan dalam contoh-contoh di mana klien membutuhkan bantuan dalam mengakui
bahwa apa yang mereka lakukan, pemikiran, dan / atau perasaan apa-apa; tujuan
kognitif: kognisi melibatkan memperoleh fondasi dasar pembelajaran dan
keterampilan kognitif; tujuan fisiologis: fisiologi melibatkan memperoleh
pemahaman dasar dan kebiasaan untuk kesehatan yang baik; tujuan psikologis:
bantu Psikologi dalam mengembangkan keterampilan interaksi sosial yang baik
belajar pengendalian emosi, mengembangkan konsep diri yang positif, dan
sebagainya.
Gustad’s (dalam Gibson & Mitchell,
1995:43) menyebutkan definisi konseling sebagai berikut:
Counseling is a learning-oriented process, carried on in a simple,
one-to-one social environment, in which a counselor, professionally competent
in relevant psychological skill and knowledge, seeks to assist the client, by
methods appropriate to the latter’s needs and within the context of the total
personnel program, to learn more about himself and to accept himself, to learn
how to put such understanding into effect in relation to more clearly
perceived, realisticaly defined goals to the end that the client may become a
happier and more productive member of his society.
DCounseling
adalah proses belajar yang berorientasi, dijalankan dalam, satu-ke-satu
lingkungan sosial yang sederhana, di mana seorang konselor, profesional yang
kompeten dalam keterampilan psikologis yang relevan dan pengetahuan, berusaha
untuk membantu klien, dengan metode yang tepat dengan kebutuhan yang terakhir
dan dalam konteks program jumlah personil, untuk mempelajari lebih lanjut
tentang dirinya dan menerima dirinya, untuk belajar bagaimana untuk menempatkan
pemahaman seperti berlaku dalam kaitannya dengan lebih jelas dirasakan, tujuan
yang ditetapkan realisticaly sampai akhir bahwa klien dapat menjadi lebih
bahagia dan lebih anggota masyarakat yang produktif nya.
Dasar Etika
Konseling
Sebagai rambu-rambu
pokok dalam pelaksanaan layanan konseling. Munro, Manthei & Small (alih
bahasa oleh Erman Amti, 1979:11) mengemukakan bahwa ada tiga dasar etika
konseling yaitu kerahasiaan, keterbukaan dan pengambilan keputusan oleh klien
sendiri. Mengenai asas kerahasiaan menekankan bahwa segenap rahasia
pribadi klien menjadi tanggung jawab konselor untuk merahasiakannya dari
siapapun juga. Keyakinan klien bahwa adanya perlindungan terhadap kerahasiaan
diri dan segala hal yang diungkapkan menjadi jaminan untuk suksesnya layanan
konseling perorangan.
Tahapan
Konseling Individual
Oleh
: Akhmad Sudrajat
Dari beberapa jenis
layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik, tampaknya
untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. Karena
layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan
bimbingan dan konseling, yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus
Dalam praktiknya, memang strategi layanan bimbingan
dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang
bersifat pencegahan dan pengembangan, namun tetap saja layanan yang bersifat
pengentasan pun masih diperlukan. Oleh karena itu, guru BK maupun konselor
seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling, sehingga
bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya
dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Secara umum, proses konseling terdiri dari tiga
tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah); (2) tahap inti
(tahap kerja); dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan).
A.
Tahap Awal
Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui
konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien.
Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya :
·
Membangun hubungan konseling yang
melibatkan klien (rapport). Kunci keberhasilan
membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan
konseling, terutama asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan; dan kegiatan.
·
Memperjelas dan mendefinisikan masalah.
Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan
diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien.
·
Membuat penaksiran dan perjajagan.
Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang
bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien,
dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai, untuk mengantisipasi masalah
yang dihadapi klien.
·
Menegosiasikan kontrak. Membangun
perjanjian antara konselor dengan klien, berisi: (1) Kontrak waktu, yaitu
berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak
berkebaratan; (2) Kontrak tugas, yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien;
dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan
tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian
kegiatan konseling.
B.
Inti (Tahap Kerja)
Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik, proses
konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja.
Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus
dilakukan, diantaranya:
·
Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah
klien lebih dalam. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai
perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya.
·
Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali), bersama-sama
klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien.
·
Menjaga agar hubungan konseling tetap
terpelihara.
Hal ini bisa terjadi jika :
·
Klien merasa senang terlibat dalam
pembicaraan atau waancara konseling, serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan
diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
·
Konselor berupaya kreatif mengembangkan
teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang
jujur, ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien.
·
Proses konseling agar berjalan sesuai
kontrak. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga, baik
oleh pihak konselor maupun klien.
C.
Akhir (Tahap Tindakan)
Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang
perlu dilakukan, yaitu :
·
Konselor bersama klien membuat kesimpulan
mengenai hasil proses konseling.
·
Menyusun rencana tindakan yang akan
dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling
sebelumnya.
·
Mengevaluasi jalannya proses dan hasil
konseling (penilaian segera).
·
Membuat perjanjian untuk pertemuan
berikutnya
Pada tahap akhir ditandai beberapa hal, yaitu ; (1)
menurunnya kecemasan klien; (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih
positif, sehat dan dinamis; (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang
dihadapinya; dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program
yang jelas.
Haji karim.
1.
Siapa
yg bertindak menyelesaikan maslah dalam sebuah dinimika organisasi?
2.
Cara
menyelesaikannya seperti apa?
Irwan.
1. Bagaimana cara kita merasakan apa
yang dirasakan oleh klien dan pendekatannya seperti apa?
Sulistyaningsih.
1.
Bagaimana
jika seorang konselor meminta bantuan orang lain untuk membantu menyelesaikan
masalah kilen?
2.
Bagaimana
solusi ketika ada interfensi pihak lain jika ada maslah dlm sekolah?
Repan
1. Manusia diciptakan dalam kondisi
sempurna?
Zainudin.
1.
Bagaiamana
menyikapi tugas kita sebagai guru PAI dan fungsi kita sebagai konselor?
2.
Triknya
seperti apa?
Mansur.
1.
Bagaiamana
cara menyelesaikan masalah psikis kepada sorang criminal?
2.
Bagaimana
sorang konselor membendung dirinya dari tekanan psikologis personal terhadap
klien?
M. lutfi.
1.
apakah ada methode2 dlm konseling?
2.
mengapa yg tdk mengalami kasus tdk di konseling?
Ngatiyem.
1.
Apakah
di sekolah yang paling bagus konseling individu atau kelompok
2.
Tekniknya
seperti apa?
3.
Apakah
membocorkan rahasia klien ada sangsinya?
[1] Surat Keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.
025/D/1995.
[2] Departeman
Pendidikan Kebudayaan : Penataran
Pendidikan Profesional Konselor dan layanan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur
Pendidikan Formal, 2008 , hlm.52
[3] Walgito, Bimo. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karir,
2005 ( Bandung : Andi Offset ), hlm. 7
[4] Walgito, Bimo. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karir,2005
( Bandung : Andi Offset ), hlm. 10
[5] Walgito, hlm. 12
[6]
Sukardi. Proses Bimbingan dan
Penyuluhan. 2012 ( Tabanan: Rineka Cipta), hlm. 12
[7] Winkel. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah.1997
( Jakarta: Gramedia ) hlm. 18
[8] Departeman
Pendidikan Kebudayaan : Penataran
Pendidikan Profesional Konselor dan layanan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur
Pendidikan Formal, 2008
[9] Natawidjaja,
R. Pendekatan-pendekatan dalam Penyuluhan Kelompok I. 1987 ( Bandung: CV.
Diponegoro ), hlm. 28
PT.
Gramedia Widiasarana Indonesia.), hlm. 87
[11]
Desmita, Psikologi Perkembangan, 2006 ( Bandung : Remaja Rosdakarya ), hlm. 71
[12]
Winkel. Bimbingan dan Penyuluhan di
Sekolah Menengah.1997 ( Jakarta: Gramedia ) hlm. 18
[13]
Natawidjaja, R. Pendekatan-pendekatan dalam Penyuluhan Kelompok I. 1987 (
Bandung: CV. Diponegoro ), hlm. 29
[15]
Winkel, W.S. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. 1997
(Jakarta:
PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.), 187
PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.), 190
[17]
Natawidjaja, R. Pendekatan-pendekatan dalam Penyuluhan Kelompok I.
1987 ( Bandung: CV. Diponegoro ), hlm. 87
[19] Walgito, Bimo. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karir, 2005 ( Bandung : Andi Offset ), hlm. 189
Tidak ada komentar:
Posting Komentar