Sabtu, 17 Desember 2016

KONSELING INDIVIDU

A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdaarkan norma-norma yang berlaku.[1]  Bimbingan dan konseling merupakan  upaya proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya.[2] Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui interaksi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu untuk mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku.[3]
Dalam kajian Bimbingan dan Konseling kita mempelajari banyak hal yang berhubungan dengan bimbingan dari konselor kepada klien untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh klien. Terlebih lagi mengenai jenis-jenis layanan dalam bimbingan dan konseling yang terbagi menjadi beberapa layanan ini memiliki fungsi dan kegiatan yang berbeda-beda. Dengan perbedaan itu akan dikaji secara mendalam mengenai pengertian layanan-layanan dalam suatu konteks tertentu sehingga kita dapat memahami makna layanan-layanan itu.
Sehingga dalam pembahasan layanan-layanan bimbingan dan konseling ini bertujuan untuk membantu para klien yang mengalami masalah agar dapat mengambil keputusan secara tepat dan akurat dengan bantuan konselor. Selain itu, akan dibahas pula mengenai pengertian masing-masing layanan tersebut sehingga akan jelas tindakan klien jika mereka mempunyai masalah yang tidak dapat diselesaikan sendiri. Sehingga peran konselor sangat penting untuk membantu kliennya.
Salah satu jenis layanan bimbingan konseling adalah layanan konseling individu. Konseling individu merupakan layanan konseling yang diselenggarakan oleh seorang konselor terhadap seorang klien dalam rangka pengentasan masalah pribadi klien. Dalam konsleing individu pemberian bantuan dilakukan secara face to face relationship antara konselor dengan individu (konseli).[4] Dalam konseling ini teori yang digunakan adalah konseling berpusat pada person yaitu yang memandang klien sebagai partner dan perlu adanya keserasian pengalaman baik pada klien mapun konselor dan keduanya perlu mengemukakan pengelamannya pada saat hubungan konseling berlangsung. Secara ideal konseling yang berpusat pada person tidak terbatas oleh tercapainya pribadi yang kongruensi saja.[5]
Menurut Rogers tujuan konseling pada dasarnya sama dengan tujuan kehidupan ini yaitu apa yang disebut dengan full functioning person yaitu pribadi yang berfungsi sepenuhnya.[6] Dalam suasana tatap muka dilaksanakan interaksi langsung antara klien dan konselor, membahas berbagai hal tentang masalah yang dialami klien. Pembahasan tersebut bersifat mendalam menyentuh hal-hal penting tentang diri klien (bahkan sangat penting yang boleh jadi penyangkut rahasia pribadi klien). Masalah tersebut bisa meluas meliputi berbagai sisi yang menyangkut permasalahan klien, namun juga bersifat spesifik menuju ke arah pengentasan masalah. Dalam layanan konseling individu konselor memberikan ruang dan suasana yang memungkinkan klien membuka diri setransparan mungkin. Lebih lengkap lagi mengenai pengertian, teknik dan tujuan layanan konseling individu akan dibahas dalam makalah ini.[7]


2.      Rumusan Masalah
a.       Bagaimanakah definisi dari konseling individu?
b.      Apa saja tujuan layanan konseling individu?
c.       Bagaimana teknik yang digunakan dalam layanan konseling individu?
d.      Bagaimana prosedur pelaksanaan konseling individu?
e.       Bagaimana konseling individu diimplementasikan dalam studi kasus?
3.       Tujuan Pembahasan
a.       Mengetahui definisi dari konseling individu.
b.       Mengetahui tujuan layanan konseling individu.
c.       Mengetahui teknik yang digunakan dalam layanan konseling individu.
d.      Mengetahui prosedur pelaksanaan konseling individu dan contoh kasusnya.
e.       Mengetahui contoh kasus yang diselesaikan menggunakan layanan konseling individu

B.     PEMBAHASAN
1.      Definisi dari Konseling Individu
Konseling individu terjadi ketika seorang konselor bertemu secara pribadi dengan seorang siswa untuk tujuan konseling.[8] Ini adalah interaksi antara konselor dan konseli dimana banyak yang berpikir bahwa ini adalah esensi dari pekerjaan konselor. [9]Layanan konseling individu merupakan bentuk layanan bimbingan dan konseling khusus antara peserta didik (klien) dengan konselor dan mendapat layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang diderita peserta didik (klien).[10]
Konseling individu merupakan bentuk layanan yang paling utama dalam peaksanaan fungsi pengentasan masalah klien. Dengan demikian konseling perorangan merupakan “jantung hati”.[11] Implikasi lain pengertian “jantung hati” adalah apabila seorang konselor telah menguasai dengan baik apa, mengapa dan bagaimana pelayanan konseling itu (memahami, menghayati dan menerapkan wawasan, pengetahuan dan ketrampilan dengan berbagai teknik dan teknologinya), maka diharapkan ia dapat menyelenggarakan layanan-layanan bimbingan lainnya tanpa mengalami banyak kesulitan.
Banyak peserta didik yang tidak mau membicarakan masalah pribadi atau urusan pribadi mereka dalam diskusi kelas dengan guru. Beberapa dari mereka ragu untuk berbicara di depan kelompok-kelompok kecil. Oleh karena itu, konseling individu dalam sekolah-sekolah, tidak terlepas dari psikoterapi, didasarkan pada asumsi bahwa konseli itu akan lebih suka berbicara sendirian dengan seorang konselor.[12] Selain itu, kerahasiaan, selalu dianggap sebagai dasar konseling. Akibatnya, muncul asumsi bahwa siswa membutuhkan pertemuan pribadi dengan seorang konselor untuk mengungkapkan pikiran mereka dan untuk meyakinkan bahwa pengungkapan mereka akan dilindungi.
Tidak ada yang lebih aman daripada konseling individu. Konseling individu sebagai intervensi mendapatkan popularitas dari pemikiran teoritis dan filosofis yang menekankan penghormatan terhadap nilai individu, perbedaan, dan hak-hak. Hubungan konseling bersifat pribadi. Hal ini memungkinkan beberapa jenis komunikasi yang berbeda terjadi antara konselor dan konseli, perlindungan integritas dan kesejahteraan konseli dilindungi.[13]
Konseling telah dianggap sangat rumit, dengan setiap kata, infleksi sikap, dan keheningan yang dianggap  penting, yang  hanya bisa terjadi antara konselor yang terampil dan konseli yang berminat. Bersama-sama mereka mencari makna tersembunyi di balik perilaku. Seperti pemeriksaan pribadi memerlukan sikap permisif dan kebebasan untuk mengeksplorasi ide-ide secara mendalam, di bawah pengawasan ketat dari konselor. Selama bertahun-tahun, telah diasumsikan bahwa pengalaman ini hanya bisa terjadi dalam interaksi antara dua orang. Materi yang dapat diangkat melalui layanan konseling perorangan ini ada berbagai macam, yang pada dasarnya tidak terbatas. Layanan ini dlilaksanakan untuk seluruh masalah peserta didik secara perorangan (dalam berbagai bidang bimbingan, yaitu bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karier).
2.      Tujuan Konseling Individu
Tujuan dari layanan konseling individu dibedakan menjadi dua bagian.[14] yaitu:
1.            Tujuan Umum
Tujuan umum layanan konseling individu adalah terentasinya masalah yang dialami klien. Apabila masalah klien itu dicirikan sebagai:
(a) sesuatu yang tidak disukai adanya,
(b) suatu yang ingin dihilangkan
(c) sesuatu yang dapat menghambat atau menimbulkan kerugian
Maka upaya pengentasan masalah klien melalui konseling individu akan mengurangi intensitas ketidaksukaan atas keberadaan sesuatu yang dimaksud atau meniadakan keberadaan sesuatu yang dimaksud atau bisa jadi mengurangi intensitas hambatan kerugian yang ditimbulkan oleh suatu yang dimaksudkan itu. Dengan layanan konseling individu beban klien diringankan, kemampuan klien ditingkatkan, potensi klien dikembangkan. Tujuan umum layanan konseling individu adalah pengentasan masalah klien dengan demikian, fungsi pengentasan sangat dominan dalam layanan ini.



2.      Tujuan Khusus
Dalam kerangka tujuan umum itu, tujuan khusus layanan konseling individu dapat dirinci dan secara langsung dikaitkan dengan fungsi-fungsi konseling yang secara menyeluruh diembannya, antara lain:
a.       Melalui layanan konseling individu klien memahami seluk-beluk masalah yang dialami secara mendalam dan komprehensif, serta positif dan dinamis (fungsi pemahaman).
b.      Pemahaman itu mengarah kepada dikembangkannya persepsi dan sikap serta kegiatan demi terentaskannya secara spesifik masalah yang dialami klien itu (fungsi pengentasan). Pemahaman dan pengentasan masalah merupakan fokus yang sangat khas, kongkrit dan langsung ditangani dalam layanan konseling individu.
c.       Pengembangan dan pemeliharaan potensi klien dan berbagai unsur positif yang ada pada dirinya merupakan latar belakang pemahaman dan pengentasan masalah klien dapat dicapai (fungsi pengembangan atau pemeliharaan). Bahkan, secara tidak langsung, layanan konseling individu sering kali menjadikan pengembangan atau pemeliharaan potensi dan unsur-unsur positif klien sebagai fokus dan sasaran layanan.
d.      Pengembangan atau pemeliharan potensi dan unsur-unsur positif yang ada pada diri klien, diperkuat oleh terentaskannya masalah, akan merupakan kekuatan bagi tercegah menjalarnya masalah yang sekarang sedang dialami itu, serta (diharapkan) tercegah pula masalah-masalah baru yang mungkin timbul (fungsi pencegahan).
e.       Apabila masalah yang dialami klien menyangkut dilanggarnya hak-hak klien sehingga klien teraniaya dalam kadar tertentu, layanan konseling individu dapat menangani sasaran yang bersifat advokasi (fungsi advokasi). Melalui layanan konseling individu klien memiliki kemampuan untuk membela diri sendiri menghadapi keteraniayaan itu. Kelima sasaran yang merupakan wujud dari keseluruhan fungsi konseling itu, secara langsung mengarah kepada dipenuhinya kualitas untuk keperikehidupan sehari-hari yang efektif (effective daily living).
               Gabungan capaian tujuan umum dan tujuan khusus yang dapat diraih melalui layanan konseling individu memperlihatkan betapa layanan konseling individu dapat disebut sebagai “jantung hatinya” seluruh pelayanan konseling. Dengan kemampuan layanan konseling individu, konselor dapat menjangkau keseluruhan daerah pelayanan konseling.
3.      Teknik Konseling Individu
Pengembangan proses layanan konseling individu oleh konselor dilandasi oleh dan sangat pengaruhi oleh suasana penerimaan, posisi duduk, dan hasil penstrukturan. Lebih lanjut, Konselor menggunakan berbagai teknik untuk mengembangkan proses konseling individu yang efektif dalam mencapai tujuan layanan.[15] Teknik-teknik tersebut meliputi:
1.      Kontak mata
2.      Kontak psikologis
3.      Ajakan untuk berbicara
4.      Tiga M (mendengar dengan cermat, memahami secara tepat, merespon secara tepat dan positif)
5.      Keruntutan
6.      Pertanyaan terbuka
7.      Dorongan minimal
8.      Refleksi (isi dan perasaan)
9.    Penyimpulan
10.  Penafsiran
11.  Konfrontasi
12.  Ajakan untuk memikirkan sesuatu yang lain
13.  Peneguhan hasrat
14.  “Penfrustrasian” klien
15.  Strategi “tidak memaafkan klien”
16.  Suasana diam
17.  Transferensi dan kontra-transferensi
18.  Teknik eksperiensial
19.  Interprestasi pengalaman masa lampau
20.  Asosiasi bebas
21.  Sentuhan jasmaniah
22.  Penilaian
23.  Pelaporan
      Penerapan teknik-teknik tersebut di atas dilakukan secara eklektik, dalam arti tidak harus berurutan satu persatu yang satu mendahului yang lain, melainkan terpilih dan terpadu mengacu kepada kebutuhan proses interaksi efektif sesuai dengan objek yang direncanakan dan susana proses pembentukan yang berkembang.[16]
           Kontak psikologis dibina sejak awal-awal proses layanan yang di dalamnya ada ajakan untuk berbicara, selanjutnya berkembanglah interaksi intensif antara klien dan Konselor melalui pertanyaan terbuka, refleksi, penyimpulan, penafsiran, yang kadang-kadang (sesuai dengan keperluan) diselingi konfrontasi, ajakan untuk memikirkan sesuatu yang lain, dan peneguhan hasrat. Dalam pada itu, kontak mata, tiga-m, keruntutan dan dorongan minimal selalu mewarnai dan menyertai seluruh dinamika interaksi.
Teknik “menfrukstrasikan” dan strategi “tiada maaf” hanya digunakan secara benar-benar terpilih untuk membangkitkan dan menyadarkan klien akan tantangan yang harus ia hadapi serta meninggikan motivasi dan semangat dalam memasuki dan menggapai kesempatan yang terbuka. Kedua teknik ini, dan juga teknik konfrontasi,  seringkali diikuti oleh “suansana diam”.
Teknik berkenaan dengan transferensi dan kontra-tranferensi dapat dimunculkan dalam proses layanan dengan kontak psikolgis yang benar-benar intens. Intensitas proses layanan dapat ditempuh lebih jauh melalui teknik-teknik eksperimensial, analisis pengalaman masa lampau, dan asosiasi bebas. Teknik-teknik yang disebut terakhir ini hanya dilakukan untuk keperluan pendalaman yang khas sesuai dengan permasalahan klien. Untuk pendalaman yang dimaksudkan itu, dan untuk memberikan nuansa yang lebih bersifat afektif, sentuhan jasmaniah dapat dilakukan. Proses layanan konseling individu diakhiri dengan kegiatan penilaian dan pelaporan. Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap kali sesi layanan konseling individu, khususnya untuk kegiatan penilaian segera.
4.      Prosedur Pelaksanaan Konseling Individu
Secara umum, proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah); (2) tahap inti (tahap kerja); dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan).[17]
1. Tahap Awal
Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya:
a.    Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Kunci
keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan   konseling terutama azas kesukarelaan, keterbukaan, kerahasiaan dan kegiatan.
b.   Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Jika hubungan konseling sudah terjalin  dengan baik dan klien telah melibatkan diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien.
c.     Membuat penaksiran dan perjajagan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien, dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah.
d.      Menegosiasikan kontrak. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien, berisi:
1)         Kontrak waktu, yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan.
2)     Kontrak tugas, yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien.
 3)     Kontrak kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan tanggung\jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling.
2.  Inti (Tahap Kerja)
Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik, proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya:
a.          Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Penjelajahan
masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya.
b. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali), bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien.
c.      Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. Hal ini bisa terjadi jika:
1)      Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling,
serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
2)      Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur, ikhlas dan benar-benar peduli terhadap klien.
3)      Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga, baik oleh pihak konselor maupun klien.
3.  Akhir (Tahap Tindakan)
Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu:
a.       Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proseskonseling.
b.      Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya.
c.      Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).
d.      Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya.
Pada tahap akhir ditandai beberapa hal, yaitu:
a.  Menurunnya kecemasan klien
b.  Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat dan dinamis
c.  Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya
d. Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yangjelas.
5.  Skenario Studi Kasus Konseling Individu
1. Kasus 1 (Dituduh Menjadi Pemakai NAPZA). [18]
Konselor   : (Sedang di depan pintu hendak keluar,melihat seorang siswa berdiri diam didepan pintu masuk ruang BK,lantas….). Kamu Siska kan? Kok berdiri disini, apa ada perlu sama Ibu?
Konseli           :Iya Bu, sebenarnya saya mau jumpa Ibu, tapi saya malu.
Konselor         :Mau jumpa Ibu?Ayo masuk….(sambil menuntun siswa   masuk). silakan duduk! Ada yang biasa Ibu bantu?
Konseli           :Iya  Bu,…..saya lagi……
Konselor         :lagi apa..?!?!? sama Ibu kok malu-malu.
Konseli            :Begini Bu….!saya lagi bingung!
Konselor          :Bingung……?Iya..ya..coba !kamu cerita ke Ibu.
Konseli             :…………!?!?!?
Konselor          :Ayo,.katanya mau jumpa Ibu?
Konseli            :Saya dituduh Bu!
Konselor          :di tuduh?....maksudnya?
Konseli             :Saya di tuduh pemakai Bu.
Konseli           :Ibu kurang jelas,bisa kamu ceritakan sama Ibu apa yang sebenarnya terjadi?
Konselor           :Persisnya begini Bu!
Konseli                  :Hari senin lalu, belum habis upacara bendera, karena saya sangat      lemas, saya pergi ke kamar mandi. Perut saya sakit sekali.
Konselor               :Ya, lalu?
Konseli                  :Buk Tumorang yang kebetulan mengawasi siswa di barisan, jalan kebelakang dan menjumpai saya ada di kamar mandi. Dia langsung memeriksa saya. Di kantong saya ia temukan pil yang bentuknya bulat agak besar. Lantas dia bilang,”Siska ! kamu pasti nge-pil, ngaku”
Konselor               :Siska jawab apa?
Konseli                  :Saya jawab, “Nggak buk itu obat saya, mana mungkin saya nge-pil”. Tapi Buk Tumorang terus ngotot. Katanya,”Kalau  kamu nggak ngaku, saya lapor polisi” gitu katanya Bu.
Konselor               :Sis, kalau kamu tidak keberatan,Ibu boleh tau?. Memang obat itu obat apa? Maaf ya! Ibu tidak curiga sama kamu.Tidak! sama sekali tidak.
Konseli                 :Saya juga kurang tau Bu. Saya baru di kasih ayah tadi pagi sebelum   berangkat ke sekolah. Kata Ayah ”Sis, perut kamu kan sakit, kamu perlu obat ini. Nanti kira-kira jam 10, kamu makan ya!”. cuma itu Bu.
Konselor                :Ya,,ya, Ibu bisa mengerti, tentu masalah ini yang menjadi beban fikiran kamu.Apa benar begitu?
Konseli                   :Iya Bu, saya sedih dan juga bingung.
Konselor                 :Siapapun yang mengalaminya,pasti akan sama seperti kamu.
Konseli                   :Iya Bu, saya harus bagaimana?
Konselor                 :Boleh Ibu tahu, Ayahnya Siska kerja dimana?
Konseli                   :Jangan Bu, Ayah saya jangan dipanggil. Ayah saya kerjanya di Kantor Departemen Agama. Kalau dia nanti dipanggil ke sekolah, nanti dia malu.
Konselor                 :Kamu salah sangka nak,Ibu bukan mau manggil orangtua kamu. Tapi nggak apa, dari jawaban kamu tadi Ibu sudah dapat jawabannya.
Konseli                   :Maksud Ibu?
Konselor                 :Menurut Siska, dengan keberadaan orangtua kamu kerjanya di Kantor Departemen Agama, apa iya Ayah kamu diberi sesuatu yang akan mencelakakan kamu?
Konseli                   :Tentu saja tidak ya! Iya kan Bu? Tapi saya takut Bu?. Pil nya sekarang masih ada sama Buk Tumorang,saya takut nanti dia kasi tau sama guru-guru atau kawan saya di kelas.
Konselor                :Menurut Ibu,sebaiknya jangan menduga-duga dulu. Nah! sekarang menurut kamu sebaiknya bagaimana?
Konseli                     :Bagaiman kalau begini Bu? Saya telepon Ayah saya, saya ceritakan kejadiannya,supaya nanti Ayah saya yang menjelaskan sama Buk Tumorang. Saya takut,kalau makin lama nanti beritanya tersebar.
Konselor                  :Kalau menurut kamu itu bisa membantu kenapa tidak?
Konseli                   :Terimakasih Bu, saya agak merasa lega, mudah-mudahan tuduhan Bu Tumorang itu tidak benar ya Bu!
Konselor                  :Ibu juga berharap begitu,dan berharap masalah kamu segera bisa kamu selesaikan.
Konseli                     :Iya Bu.
Konselor                  :Ibu senang sekali.Dan Ibu bangga sama Siska.
Konseli                     :Saya permisi ya Bu,dan sekali lagi terimakasih.
Konselor                    :Sama-sama, Ibu juga terimakasih. Jangan segan, jika masih butuh bantuan Ibu,Ibu akan dengan senang hati membantu. (sambil mengiringi siswa keluar,menjabat erat tangan Siska) semangat!
2.      Kasus 2 (Orang Tua Cerai). [19]
Konselor                 :(Duduk tenang diruang BK sambil membaca buku)
Konseli                   :(mengetuk pintu) Selamat pagi bu,saya boleh masuk?
Konselor                 :Selamat pagi nak,oh iya Budi…apa kabarnya pagi ini? Baik-baik saja kan? Ayo sini….(sambil menuntun siswa kearah tempat duduk,lalu) silakan duduk!
Konseli                   :Kabar baik Bu,…..tapi…..
Konselor                 :tapi…? Wah kelihatannya ada yang dipikirkan,kira-kira bisa Ibu bantu….?
Konseli                   :Begini bu….!saya lagi bingung!
Konselor                  :Bingung……? Iya..ya..coba kamu teruskan.
Konseli                   :Bagaimana tidak bingung bu,sebentar lagi saya akan menghadapi ujian UN. Sedangkan saya  tidak  pernah bisa konsentrasi untuk belajar.
Konselor                  :Tidak bisa konsentrasi belajar; iya..ya..ya. Ini tidak seperti biasanya,karena Ibu tau selama ini kamu tetap juara di kelasmu.
Konseli                    :Sekarang tidak lagi bu.
Konselor                  :Persisnya sejak kapan, apa Ibu boleh tau?
Konseli                    :Ya itu lah bu, sejak orangtua saya cerai 2 bulan lalu?
Konselor                  :Ya,,ya, Ibu bisa mengerti, tentu masalah ini yang menjadi beban fikiran kamu.Apa benar begitu?
Konseli                    :Iya bu, saya sedih dan juga bingung.
Konselor                  :Siapapun yang mengalaminya, pasti akan sama seperti kamu.
Konseli                    :Begitulah bu, jadinya belajarpun saya tidak bisa konsentrasi.
Konselor                 :Sekarang Budi tinggal sama siapa?
Konseli                   :Sekarang saya tinggal bersama Ibu.
Konselor                 :Bagaimana, Ibu sayang sama Budi?
Konseli                   :Tinggal itu lah bu,makanya saya masih bertahan. Ibu sangat menyayangi saya dan sering menasehati saya supaya rajin sekolah. Katanya rajin belajar ya nak, tinggal kamu harapan Ibu.
Konselor                 :Ibu begitu menyayangi kamu, menurut kamu, kamu harus bagaimana?
Konseli                    :Tentu saya juga harus sayang Ibu, saya tidak mau Ibu sedih.
Konselor                  :Caranya?
Konseli                    :Saya tidak tau bu, Saya harus bagaimana ya bu? saya tidak punya apa-apa yang bisa saya persembahkan untuk Ibu, dan ini yang sering membuat saya bingung dan tidak konsentrasi belajar.
Konselor                  :Tadi kalau Ibu tidak salah, Ibu ada pesan buat kamu.
Konseli                     :….??? Oh iya bu, dia pesan supaya saya rajin belajar, rajin sekolah.
Konselor                 :Iya betul..!,menurut kamu bagaimana…?
Konseli                    :Apa menurut Ibu kalau itu saya turuti, maka Ibu saya akan senang?
Konselor                 :Menurut Ibu begitu.
Konseli                   :Mungkin juga ya bu? Sebab kalau Ibu melihat saya
                                 termenung, Ibu malah semakin tampak sedih.
Konselor                 :Nah…itu dia.
Konseli                   :Maksud Ibu?
Konselor                 :Kalau ibu melihat kamu rajin belajar, bagaimana reaksi Ibu.
Konseli                   :Ibu pernah bilang, ”Ibu senang, kamu harapan Ibu”
Konselor                 :Lalu menurut kamu apa artinya?
Konseli                   :Saya mengerti bu, berarti kalau saya rajin belajar, rajin sekolah, berarti saya sudah membahagiakan Ibu. Ibu tidak meminta lebih dari itu. Saya tidak perlu memikirkan apa yang harus saya berikan pada Ibu.
Konselor                 :Tepat sekali,…Ibu setuju, lantas?
Konseli                   :Mungkin Ibu akan lebih bahagia lagi kalu saya bisa lulus UN ya bu?
Konselor                  :Kamu benar, sekarang bagaimana?
Konseli                    :Iya bu….! Saya mengerti sekarang. Saya berjanji akan rajin belajar dan rajin sekolah, dan saya akan persembahkan bukan cuma sekedar lulus UN pada Ibu tapi juga nilai terbaik.
Konselor                  :Ibu senang sekali. Dan Ibu bangga sama kamu.
Konseli                     :Bu, saya sudah lega. Saya sangat berterimaksih sama Ibu. Kalau begitu saya permisi dulu ya bu,sebentar lagi jam pelajaran Bahasa Inggris.
Konselor                   :Sama-sama,Ibu juga terimakasih. Jangan segan, jika masih butuh bantuan Ibu,Ibu akan dengan senang hati membantu. (sambil mengiringi siswa keluar) selamat pagi……….!

 C. PENUTUP
 Kesimpulan
a.     Layanan konseling individu merupakan bentuk layanan bimbingan dan konseling khusus antara peserta didik (klien) dengan konselor dan mendapat layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang diderita peserta didik (klien).
b.      Tujuan umum layanan konseling individu adalah terentasnya masalah yang
dialami klien.
c.      Pengembangan proses layanan konseling individu oleh konselor dilandasi oleh dan sangat pengaruhi oleh suasana penerimaan, posisi duduk, dan hasil penstrukturan. Lebih lanjut, Konselor menggunakan berbagai teknik untuk mengembangkan proses konseling individu yang efektif dalam mencapai tujuan layanan.
d.      Proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah); (2) tahap inti (tahap kerja); dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan).


DAFTAR  RUJUKAN

Desmita, Psikologi Perkembangan, ( Bandung : Remaja Rosdakarya ), 2006.
--------------, Psikologi Perkembangan Pesreta Didik , ( Bandung : Remaja Rosdakarya ), 2009.
Departeman Pendidikan dan Kebudayaan : Materi Dasar  Pendidikan Program Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Metode dan Teknik Bimbingan dan Konseling Buku III B, 1983
Departeman Pendidikan Kebudayaan :Penataran Pendidikan Profesional Konselor dan layanan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal, 2008
Natawidjaja, R. Pendekatan-pendekatan dalam Penyuluhan Kelompok I.
( Bandung: CV. Diponegoro ), 1987.
Sukardi. Proses Bimbingan dan Penyuluhan.  ( Tabanan: Rineka Cipta ), 1993.
---------------, Pengantar Pelaksanaan BK di Sekolah. ( Tabanan: Rineka Cipta ), 1996.
Walgito, Bimo. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karir,( Bandung : Andi Offset ), 2005.
Winkel. (1978). Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah. ( Jakarta: Gramedia ), 1978
---------------, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan.( Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia) 1978
---------------, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.), 1997.





 Materi Tambahan

Layanan Konseling Individual

Layanan Konseling Individual  yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya. Layanan konseling individual merupakan layanan yang diselenggarakan oleh seorang guru Bimbingan dan Konseling (konselor) terhadap seorang konseli (dibaca: siswa) dalam rangka pengentasan masalah pribadi konseli.  Dalam suasana tatap muka dilaksanakan interaksi langsung antara konseli dan konselor, membahas berbagai hal tentang masalah yang dialami konseli. Pembahasan tersebut bersifat mendalam menyentuh hal-hal penting tentang diri konseli (bahkan sangat penting yang boleh jadi menyangkut rahasia pribadi konseli) bersifat meluas meliputi berbagai sisi yang menyangkut permasalahan konseli, namun juga bersifat spesifik menuju kearah pengentasan masalah.
Dalam konseling individual guru BK (konselor) memberikan ruang dan suasana yang memungkinkan konseli membuka diri setransparan mungkin. Dalam suasana seperti itu, ibaratnya konseli sedang berkaca. Melalui “kaca” itu konseli memahami kondisi diri sendiri dan lingkungannya serta permasalahan yang dialami, kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, serta kemungkinan upaya untuk mengatasi masalahnya itu. Hasil “berkaca” itu mengarahkan dan menggerakkan konseli untuk segera dan secermat mungkin melakukan tindakan pengentasan atas kekurangan dan kelemahan yang ada pada dirinya. Menciptakan suasana “berkaca” dan membawa konseli ke hadapan kaca sehingga konseli memahami kondisi diri dan mengupayakan perbaikan bagi dirinya, seringkali tidak mudah. Untuk itu guru BK perlu melengkapi diri dengan berbagai teknik konseling, baik itu teknik umum untuk pengembangan proses konseling maupun teknik khusus untuk intervensi dan pengubahan tingkah laku konseli. Teknik-teknik tersebut disinergikan dengan asas-asas konseling, akan membentuk operasional layanan konseling individual oleh guru BK yang professional.






1.  Tujuan Konseling Individual
Tujuan layanan konseling individual adalah  terentaskannya masalah yang dialami konseli. Apabila masalah konseli itu dicirikan sebagai: (a) sesuatu yang tidak disukai adanya, (b) suatu yang ingin dihilangkan, dan/atau (c) sesuatu yang dapat menghambat atau menimbulkan kerugian, maka upaya pengenatasan masalah konseli melalui konseling individual akan mengurangi intensitas ketidaksukaan atas keberadaan sesuatu yang dimaksud atau meniadakan keberadaan sesuatu yang dimaksud, dan/atau mengurangi intensitas hambatan dan/atau kerugian yang ditimbulkan oleh suatu yang dimaksudkan itu. Dengan layanan konseling individual beban konseli diringankan, kemampuan konseli ditingkatkan, potensi konseli dikembangkan.
2.  Fungsi Layanan Konseling Individual
Fungsi utama layanan konseling individual yang sangat dominan adalah fungsi pengentasan. Namun secara menyeluruh konseling individual  meliputi juga fungsi-fungsi lainnya:  pemahaman. (b) fungsi pengembangan/pemeliharaan, (c) fungsi pencegahan,  (d) fungsi advokasi.
3. Komponen Konseling Individual
Dalam layanan konseling individual berperan dua pihak, yaitu seorang konselor dan seorang konseli. Konselor adalah seorang ahli dalam bidang konseling yang memiliki kewenangan dan mandat secara profesional untuk melaksanakan kegiatan pelayanan konseling. Dalam layanan konseling individual konselor menjadi aktor yang secara aktif mengembangkan proses konseling melalui dioperasionalkannya pendekatan, teknik dan asas-asas konseling terhadap konseli. Dalam proses konseling selain media pembicaraan verbal, konselor juga dapat menggunakan media tulisan, gambar, media elektronik, dan media pembelajaran lainnya, serta media pengembangan tingkah laku. Semua hal itu diupayakan konselor dengan cara-cara yang cermat dan tepat, demi terentaskannya masalah yang dialami konseli.
Konseli adalah seorang individu yang sedang mengalami masalah, atau setidak-tidaknya sedang mengalami sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada orang lain. Konseli menanggung semacam beban, atau mengalami suatu kekurangan yang ia ingin isi, atau ada sesuatu yang ingin dan/atau perlu dikembangkan pada dirinya, semuanya itu agar ia mendapatkan suasana fikiran dan/atau peerasaan yang lebih ringan, memperoleh nilai tambah, hidup lebih berarti, dan hal-hal positif lainnya dalam menjalani hidup sehari-hari dalam rangka kehidupan dirinya secara menyeluruh.
Konseli datang dan bertemu konselor dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang datang sendiri dengan kemauan yang kuat untuk menemui konselor (selfreferal), ada yang datang dengan perantaraan orang lain, bahkan ada yang datang (mungkin terpaksa) karena didorong atau diperintah oleh pihak lain. Kedatangan konseli menemui konselor disertai dengan kondisi tertentu yang ada pada diri konseli itu sendiri. Dalam proses itu apapun latar belakang kedatangan konseli, dan bagaimanapun juga kondisi diri konseli sejak paling awal pertemuannya dengan konselor, semuanya itu harus disikapi oleh konselor dengan penerapan asas kekinian dan prinsip “konseli tidak pernah salah” (KTPS).
Apapun latar belakang dan kondisi konseli yang datang menemui konselor, semuanya itu perlu mendapatkan perhatian dan penanganan sepenuhnya oleh konselor. Melalui proses layanan konseling individual, konseli bersama konselor melakukan upaya tersinergikan untuk mencapai tujuan layanan. Tahapan keefektipan layanan konseling individual bisa terpenuhi apabila:
·         Konseli menyadari bahwa dirinya bermasalah
·         Konseli menyadari bahwa dirinya memerlukan bantuan untuk mengentaskan masalah yang dialaminya.
·         Konseli mencari sumber (dalam hal ini konselor) yang dapat memberikan bantuan.
·         Konseli terlibat secara aktif dalam proses perbantuan (dalam hal ini konseling individual)
·         Konseli mengharapkan hasil upaya perbantuan.
 4.   Asas Konseling Individual
Asas-asas dalam konseling individual dimaksud untuk memperlancar proses dan memperkuat bangunan hubungan antara konselor dan konseli.  Asas-asas konseling itu meliputi :
·         Kerahasiaan
·         Kesukarelaan dan keterbukaan
·         Keputusan diambil oleh konseli sendiri
·         Kekinian dan kegiatan
·         Kenormatifan dan keahlian







Gibson, Mitchell & Basile (dalam Gibson & Mitchell, 1995:142) menyebutkan tujuan konseling perorangan sebagai berikut:
Developmental Goals: developmental goals are those wherein the client is asissted in meeting or advancing her or his anticipated human growth and development (that is socially, personally, emotionally, cognitively, physical wellness, and so on); Preventive goals: prevention is a goal in which the counselor helps the client avodi some undesire outcome; Enhancement goals: if the client possesses special skills and abilities, enhancement means they can be identified and/or further developed through the assistancte of a counselor; Remedial goals: remediation involves assisting a client to overcome and/or treat an undesirable development; Exploratory goals: exploration represent goals appropriate to the examining of options, testing of skills, and trying new and different activities, environments, relationships, and so on; Reinforcement goals: reinforcement is used in those instances where clients need help in recognizing that what they are doing, thinking, and/or feeling is okay; Cognitive goals: cognition involves acquiring the basic foundations of learning and cognitive skills; Physiological goals: physiology involves acquiring the basic understanding and habits for good health; Psychological goals: psycology aids in developing good social interaction skills learning emotional control, developing a positive self concept, and so on.
…tujuan perkembangan: tujuan-tujuan pembangunan adalah mereka dimana klien asissted dalam memenuhi atau memajukan dirinya atau pertumbuhan manusia nya diantisipasi dan pengembangan (yang secara sosial, pribadi, emosional, kognitif, fisik, dan sebagainya); tujuan pencegahan: pencegahan adalah tujuan di mana konselor membantu klien menghindari hasil yang tidak diinginkan; tujuan tambahan: jika klien memiliki keterampilan dan kemampuan khusus, peningkatan berarti mereka dapat diidentifikasi dan / atau dikembangkan lebih lanjut melalui assistancte dari konselor; tujuan Remedial: remediasi melibatkan membantu klien untuk mengatasi dan / atau mengobati pembangunan yang tidak diinginkan; tujuan eksplorasi: eksplorasi merupakan tujuan yang tepat untuk memeriksa pilihan, pengujian keterampilan, dan mencoba kegiatan baru dan berbeda, lingkungan, hubungan, dan sebagainya; tujuan penguatan: penguatan digunakan dalam contoh-contoh di mana klien membutuhkan bantuan dalam mengakui bahwa apa yang mereka lakukan, pemikiran, dan / atau perasaan apa-apa; tujuan kognitif: kognisi melibatkan memperoleh fondasi dasar pembelajaran dan keterampilan kognitif; tujuan fisiologis: fisiologi melibatkan memperoleh pemahaman dasar dan kebiasaan untuk kesehatan yang baik; tujuan psikologis: bantu Psikologi dalam mengembangkan keterampilan interaksi sosial yang baik belajar pengendalian emosi, mengembangkan konsep diri yang positif, dan sebagainya.




Gustad’s (dalam Gibson & Mitchell, 1995:43) menyebutkan definisi konseling sebagai berikut:
Counseling is a learning-oriented process, carried on in a simple, one-to-one social environment, in which a counselor, professionally competent in relevant psychological skill and knowledge, seeks to assist the client, by methods appropriate to the latter’s needs and within the context of the total personnel program, to learn more about himself and to accept himself, to learn how to put such understanding into effect in relation to more clearly perceived, realisticaly defined goals to the end that the client may become a happier and more productive member of his society.
DCounseling adalah proses belajar yang berorientasi, dijalankan dalam, satu-ke-satu lingkungan sosial yang sederhana, di mana seorang konselor, profesional yang kompeten dalam keterampilan psikologis yang relevan dan pengetahuan, berusaha untuk membantu klien, dengan metode yang tepat dengan kebutuhan yang terakhir dan dalam konteks program jumlah personil, untuk mempelajari lebih lanjut tentang dirinya dan menerima dirinya, untuk belajar bagaimana untuk menempatkan pemahaman seperti berlaku dalam kaitannya dengan lebih jelas dirasakan, tujuan yang ditetapkan realisticaly sampai akhir bahwa klien dapat menjadi lebih bahagia dan lebih anggota masyarakat yang produktif nya.
Dasar Etika Konseling
Sebagai rambu-rambu pokok dalam pelaksanaan layanan konseling. Munro, Manthei & Small (alih bahasa oleh Erman Amti, 1979:11) mengemukakan bahwa ada tiga dasar etika konseling yaitu kerahasiaan, keterbukaan dan pengambilan keputusan oleh klien sendiri.  Mengenai asas kerahasiaan menekankan bahwa segenap rahasia pribadi klien menjadi tanggung jawab konselor untuk merahasiakannya dari siapapun juga. Keyakinan klien bahwa adanya perlindungan terhadap kerahasiaan diri dan segala hal yang diungkapkan menjadi jaminan untuk suksesnya layanan konseling perorangan.

Tahapan Konseling Individual

Oleh : Akhmad Sudrajat
Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik, tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling, yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus
Dalam praktiknya, memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan, namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. Oleh karena itu, guru BK maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling, sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Secara umum, proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah); (2) tahap inti (tahap kerja); dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan).
A. Tahap Awal
Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya :
·         Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling, terutama asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan; dan kegiatan.
·         Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien.
·         Membuat penaksiran dan perjajagan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien, dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai, untuk mengantisipasi masalah yang dihadapi klien.
·         Menegosiasikan kontrak. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien, berisi: (1) Kontrak waktu, yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan; (2) Kontrak tugas, yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien; dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling.
B. Inti (Tahap Kerja)
Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik, proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja.
Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya:
·         Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya.
·         Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali), bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien.
·         Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.
Hal ini bisa terjadi jika :
·         Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling, serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
·         Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur, ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien.
·         Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga, baik oleh pihak konselor maupun klien.
C. Akhir (Tahap Tindakan)
Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu :
·         Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling.
·         Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya.
·         Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).
·         Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya
Pada tahap akhir ditandai beberapa hal, yaitu ; (1) menurunnya kecemasan klien; (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat dan dinamis; (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya; dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.












Haji karim.
1.      Siapa yg bertindak menyelesaikan maslah dalam sebuah dinimika organisasi?
2.      Cara menyelesaikannya seperti apa?
Irwan.
1.   Bagaimana cara kita merasakan apa yang dirasakan oleh klien dan pendekatannya seperti apa?
Sulistyaningsih.
1.      Bagaimana jika seorang konselor meminta bantuan orang lain untuk membantu menyelesaikan masalah kilen?
2.      Bagaimana solusi ketika ada interfensi pihak lain jika ada maslah dlm sekolah?
Repan
1.      Manusia diciptakan dalam kondisi sempurna?
Zainudin.
1.      Bagaiamana menyikapi tugas kita sebagai guru PAI dan fungsi kita sebagai konselor?
2.      Triknya seperti apa?
Mansur.
1.      Bagaiamana cara menyelesaikan masalah psikis kepada sorang criminal?
2.      Bagaimana sorang konselor membendung dirinya dari tekanan psikologis personal terhadap klien?
M. lutfi.
            1. apakah ada methode2 dlm konseling?
            2. mengapa yg tdk mengalami kasus tdk di konseling?
Ngatiyem.
1.      Apakah di sekolah yang paling bagus konseling individu atau kelompok
2.      Tekniknya seperti apa?
3.      Apakah membocorkan rahasia klien ada sangsinya?




[1] Surat Keputusan  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 025/D/1995.
[2] Departeman Pendidikan Kebudayaan : Penataran Pendidikan Profesional Konselor dan layanan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal, 2008 , hlm.52
[3] Walgito, Bimo. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karir, 2005 ( Bandung : Andi Offset ), hlm. 7
[4] Walgito, Bimo. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karir,2005 ( Bandung : Andi Offset ), hlm. 10
[5] Walgito, hlm. 12
[6] Sukardi. Proses Bimbingan dan Penyuluhan. 2012 ( Tabanan: Rineka Cipta), hlm. 12
[7] Winkel. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah.1997 ( Jakarta: Gramedia ) hlm. 18

[8] Departeman Pendidikan Kebudayaan : Penataran Pendidikan Profesional Konselor dan layanan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal, 2008
[9] Natawidjaja, R. Pendekatan-pendekatan dalam Penyuluhan Kelompok I. 1987 ( Bandung: CV. Diponegoro ), hlm. 28
[10] Winkel, W.S. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. 1997 (Jakarta:
PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.), hlm. 87
[11] Desmita, Psikologi Perkembangan,  2006 ( Bandung : Remaja Rosdakarya ), hlm. 71
[12] Winkel. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah.1997 ( Jakarta: Gramedia ) hlm. 18
[13] Natawidjaja, R. Pendekatan-pendekatan dalam Penyuluhan Kelompok I. 1987 ( Bandung: CV. Diponegoro ), hlm. 29

[14] Sukardi. Pengantar Pelaksanaan BK di Sekolah. 1996 ( Tabanan: Rineka Cipta ), hlm. 87

[15] Winkel, W.S. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. 1997 (Jakarta:
  PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.), 187

[16] [16] Winkel, W.S. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. 1997 (Jakarta:
  PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.), 190

[17] Natawidjaja, R. Pendekatan-pendekatan dalam Penyuluhan Kelompok I.
 1987 ( Bandung: CV. Diponegoro ), hlm. 87

[18] Walgito, Bimo. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karir ,2005 ( Bandung : Andi Offset ), 187

[19] Walgito, Bimo. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karir, 2005 ( Bandung : Andi Offset ), hlm. 189

Tidak ada komentar:

Posting Komentar