EPISTEMOLOGI
IRFANI
Oleh:
Sanusi Hamzah Al-Yasin
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ilmu pengetahuan dan
teknologi yang hingga saat ini menjadi kunci yang paling mendasar dari kemajuan
yang diraih umat manusia, tentunya tidak datang begitu saja tanpa ada sebuah
dinamika atau diskursus ilmiah. Proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
itulah lazim dikenal dengan istilah epistemologis.
Secara
etimologis, Epistemologi merupakan bentukan dari dua kata dalam bahasa Yunani,
yaitu Episteme yang berarti pengetahuan dan Logos yang juga berarti pengetahuan
atau informasi. Dari pengertian secara etimologis tersebut di atas dapatlah
dikatakan bahwa Epistemologi merupakan pengetahuan tentang pengetahuan.
Pengertian
dari segi terminologi, The Liang Gie dalam bukunya Pengantar Filsagfat Ilmu
mendefenisikan bahwa:
“Epistemologi adalah teori pengetahuan yang
membahas berbagai segi pengetahuan seperti kemungkinan, asal mula sifat alami,
batas-batas, asumsi dan landasan, validitas dan realibilitas
sampai soal kebenaran”.[1]
Lebih
lanjut Ahmad Tafsir mengungkapkan bahwa Epistemologi membicarakan sumber ilmu
pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan.[2]
Oleh
karena itu, epistemologis ini menempati posisi yang sangat strategis, karena ia
membicarakan tentang cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Mengetahui
cara yang benar dalam mendapatkan ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan hasil
yang ingin dicapai yaitu berupa ilmu pengetahuan. Pada kelanjutannya kepiawaian
dalam menentukan epistimologis, akan sangat berpengaruh pada warna atau jenis
ilmu pengetahuan yang dihasilkan.
Sejarah
telah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan
dunia sekitar abad ke-7 sampai abad ke-15. Setelah itu, masa keemasan itu mulai
melayu, statis, bahkan mundur hingga abad ke-21 ini.[3]
Fasilitas
pengetahuan manusia meliputi panca indera yang dapat mengamati objek-objek
fisik, akal/rasionalitas yang mampu mengenal objek fisik dan nonfisik dengan
menyimpulkan dari yang telah diketahui menuju yang tidak diketahui dan hati (qalb)
yang menangkap nonfisik atau metafisika melalui kontak langsung dengan objek
yang hadir dalam jiwa.[4] Fasilitas-fasilitas tersebut yang yang
memungkinkan manusia mengetahui realitas alam semesta yang bertingkat-tingkat
wujudnya dalam suatu hirarkis. Oleh karena itu, dalam epistemologi Islam,
dikenal realitas fisik dan non-fisik, baik berupa realitas imajinal (mental)
maupun realitas metafisika.[5]
Hal
tersebut ditegaskan dalam al-Qur’an QS. Al-Sajadah: 7-9:
üÏ%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&yt/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ ¢OèO @yèy_ ¼ã&s#ó¡nS `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ä!$¨B &ûüÎg¨B ÇÑÈ ¢OèO çm1§qy yxÿtRur ÏmÏù `ÏB ¾ÏmÏmr ( @yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur 4 WxÎ=s% $¨B crãà6ô±n@ ÇÒÈ
Artinya:
“Dia memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menyempurnakannya dan
meniupkan ruh-Nya ke dalam (tubuh manusia) dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, pengelihatan dan hati tetapi kamu sedikit sekali bersyukur”.[6]
Ketiga
organ tubuh disebutkan secara khusus karena itulah yang akan berguna kepada
manusia dalam kehidupan duniawi dan agama, sekaligus alat atau media dalam
memperoleh ilmu pengetahuan.[7]
Dengan demikian, Sebuah pengetahuan akan diperoleh melalui pendengaran
atau bisa disebut bayani yakni
mengandalkan pendengaran akan teks-teks yang datang dari Allah dan Rasul-Nya,
atau melalui penglihatan dengan menganalisa apa yang dilihat dan apa yang dilakukan
oleh Rasulullah, sahabat dan para pengikutnya, sedangkan hati dapat
mengantarkan seseorang untuk menimbang mana yang terbaik untuk diterapkan.
Hal itu
terjadi, karena Islam dalam kajian pemikirannya paling tidak menggunakan
beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi).
Setidaknya ada tiga model sistem berpikir dalam Islam, yakni bayani, irfani dan
burhani yang masing-masing mempunyai pandangan yang berbeda tentang
pengetahuan. Ketiga sistem atau pendekatan tersebut dikenal juga tiga aliran
pemikiran epistemologi Barat dengan bahasa yang berbeda, yakni empirisme, rasionalisme
dan intuitisme. Sementara itu, dalam pemikiran filsafat Hindu dinyatakan bahwa
kebenaran bisa didapatkan dari tiga macam, yakni teks suci, akal dan pengalaman
pribadi.[8]
Selain
sebagai instrumen untuk mencari kebenaran, ketiga epistemologi tersebut juga
bisa digunakan sebagai sarana identifikasi cara berfikir seseorang. Pemahaman
paling sederhana pada ketiga epistemologi ini adalah jawaban dari pertanyaan,
“Dengan apakah manusia mendapatkan kebenaran?”.[9]
Seorang
filosof dengan corak berfikir burhani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu
dari akal atau panca indera. Dengan kedua sarana ini manusia memunculkan dua
dikotomi antara apa yang disebut rasional dan irrasional. Rasional adalah
sebuah kebenaran, sebaliknya irrasional adalah sebuah kesalahan.[10]
Selanjutnya
orang yang memiliki corak berfikir bayani akan menjawab bahwa sumber kebenaran
itu dari teks. Rasio tidak memiliki tempat dalam pembacaan mereka terhadap
kebenaran. Ketercukupan golongan ini terhadap teks memasukkan mereka pada
golongan fundamental literalis. Sedangkan orang yang memiliki corak berfikir
irfani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari wahyu, ilham, wangsit dan sejenisnya.
Pola berfikir demikian akan membangun sebuah struktur masyarakat yang memiliki
hirarki atas bawah.[11] . Namun pada kesempatan ini Penulis hanya membahas Epistemologi Irfani
saja karena sesuai dengan ruang lingkup pembahasan yang dapat Penulis kaji dan
analisis.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, dapat dibuat rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apa
sebenarnya yang dimaksud dengan epistemologi irfani?
2. Bagaimana
sejarah kemunculan dan perkembangan epistemologi irfani?
3. Apa saja
keunggulan dan keterbatasan epistemologi irfani?
4. Apa konstruksi epistemologi irfani ?
5. Implikasi
epistimologi irfani terhadap perubahan mindset pengawas pendidikan.
C. Tujuan Pembahasan
Adapun
tujuan yang dicapai dalam pembahasan makalah ini adalah:
1. Untuk memahami dan menganalisis apa yang
dimaksud dengan epistimologi irfani
2. Untuk mengetahui dan menganalisis sejarah
kemunculan dan perkembangan epistimologi irfani
3. Dapat mengidentifikasi dan menganalisis keunggulan dan keterbatasan epistimologi
irfani
4. Untuk mengetahui Apa konstruksi epistemologi irfani ?
5. Implikasi
epistimologi irfani terhadap perubahan mindset pengawas pendidikan
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Irfani
Irfani merupakan bahasa
Arab yang terdiri dari huruf ع- ر-ف memiliki dua makna asli,
yaitu sesuatu yang berurutan yang sambung satu sama lain dan bermakna diam dan
tenang.[12] Namun
secara harfiyah al-‘irfan adalah mengetahui sesuatu dengan berfikir dan
mengkaji secara dalam. Dengan demikian al-‘irfan lebih khusus dari pada al-‘ilm.[13]
Secara termenologi, irfani adalah pengungkapan
atas pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakikat oleh Tuhan kepada
hambanya (al-kasyf) setelah melalui riyadah.
Contoh konkrit dari pendekatan 'irfani lainnya
adalah falsafah isyraqi yang memandang pengetahuan diskursif (al-hikmah
al-batiniyyah) harus dipadu secara
kreatif harmonis dengan pengetahuan intuitif (al-hikmah al-zawqiyah).
Dengan pemaduan tersebut pengetahuan yang diperoleh menjadi pengetahuan yang
mencerahkan, bahkan akan mencapai al-hikmah al-haqiqiyyah. Pengalaman
batin Rasulullah saw. dalam menerima wahyu al-Qur'an merupakan contoh konkrit
dari pengetahuan irfani.
Dapat dikatakan, meski pengetahuan irfani
bersifat subyekyif, namun semua orang dapat merasakan kebenarannya. Artinya,
setiap orang dapat melakukan dengan tingkatan dan kadarnya sendiri-sendiri,
maka validitas kebenarannya bersifat intersubyektif dan peran akal bersifat
partisipatif.
Implikasi dari pengetahuan 'irfani dalam
konteks pemikiran keislaman, adalah menghampiri agama-agama pada tataran
substantif dan esensi spiritualitasnya, dan mengembangkannya dengan penuh
kesadaran akan adanya pengalaman keagamaan orang lain (the otherness) yang
berbeda aksidensi dan ekspresinya, namun memiliki substansi dan esensi yang
kurang lebih sama.
Dalam filsafat, irfani lebih dikenal dengan
istilah intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara
tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. Ciri khas intuisi antara
lain; zauqi (rasa) yaitu melalui pengalaman langsung, ilmu hudur
yaitu kehadiran objek dalam diri subjek, dan eksistensial yaitu tanpa melalui
kategorisasi akan tetapi mengenalnya secara intim. Henry Bergson menganggap
intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat
personal.[14]
Dalam surah pertama yang diturunkan kepada
Rasulullah saw., dijelaskan bahwa ada dua cara mendapatkan pengetahuan. pertama
melalui "pena" (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia dan yang
kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini
dikenal dengan istilah 'llm Ladunny seperti ilmu yang diperoleh oleh
Nabi Haidir:
#yy`uqsù #Yö6tã ô`ÏiB !$tRÏ$t6Ïã çm»oY÷s?#uä ZpyJômu ô`ÏiB $tRÏZÏã çm»oY÷K¯=tæur `ÏB $¯Rà$©! $VJù=Ïã
Artinya: “Lalu mereka bertemu dengan seorang
hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari
sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.[15]
Pengetahuan intuisi ada yang berdasar
pengalaman indrawi seperti aroma atau warna sesuatu, ada yang langsung diraih
melalui nalar dan bersifat aksioma seperti A adalah A, ada juga ide cemerlang
secara tiba-tiba seperti halnya Newton ( 1642-1727 M) menemukan gaya gravitasi
setelah melihat sebuah apel yang terjatuh tidak jauh dari tempat ia duduk dan ada
juga berupa mimpi seperti mimpi Nabi Yusuf as. dan Nabi Ibrahim as.[16]
Mengenai taksonomi epistemologi
pengetahuan irfani adalah dari segi sumber pengetahuan, ia bersumber dari kedalaman wujud sang ‘arif itu sendiri; dari
segi media/alat pengetahuan, ia bersumber dari
kedalaman-kesejatian wujud sang ‘arif; dari segi objek pengetahuan, ia menjadikan wujud sebagai objek kajiannya; dari segi cara
memperoleh pengetahuan, ia diperoleh dengan cara
menyelami wujud kedirian melalui metode riyadah.
B.
Asal Usul Epistemologi Irafani
Di penghujung abad pertama
Hijriyah, telah terjadi pemindahan ilmu-ilmu kuno dari Iskandaria, pusat
perkembangan filsafat Hermes ke dalam kebudayaan Islam Arab. Kehadiran
ilmu-ilmu nonArab Islam ini mengundang sikap anti pati ulama ahl al-sunnah awal
karena dianggap bertentangan dengan aqidah Islam. Ilmu-ilmu tersebut memasuki
wilayah kebudayaan Islam melalui penerjemahan.
Kemapanan Pemerintahan
Islam, terutama pada masa pemerintahan Abbasiyah, memberi peluang yang luas
bagi komunitas Muslim untuk berkenalan dengan kebudayaan luar. Hal ini atas
dukungan Khalifah al-Mansur yang sangat respek terhadap ilmu pengetahuan. Sejak
itu, Baghdad telah banyak bersinggungan dengan filsafat Yunani. Ibnu Nadim
dalam al-Fihrisat (pada masa kekuasaan al-Makmun; 811-833.M) banyak
sekali mengalihbahasakan tulisan Aristoteles. Ini merupakan awal gerakan
keilmuan yang menduduki posisi puncak dalam pengalihbahasaan filsafat Yunani ke
dalam bahasa Arab (al-ta'rib), bahkan di dalam kebudayaan Arab Islam tulisan
Aristoteles dianggap sebagai kitab induk sehingga dalam Dar al-Hikmah
banyak sekali terkumpul manuskrip (makhtutat) di dalamnya.[17]
Para pakar berbeda pendapat tentang asal mula
sumber irfani. Pendapat tersebut dapat diklasifikasi dalam beberapa poin sebagai
berikut:
1. Sebagian
golongan menganggap bahwa irfani berasal dari Persia dan Majusi seperti yang
disampaikan oleh Dozy dan Thoulk. Alasannya bahwa sejumlah orang-orang besar
sufi berasal dari Khurasan dan kelompok Majusi.
2. Sebagian
yang lain mengatakan bahwa irfani bersumber dari Kristen sebagaimana yang
diungkapkan oleh Von Kramer, Ignaz Goldziher, Nicholson dan yang lain. Alasan
mereka paling tidak dapat dikelompokkan dalam dua poin, yaitu:
a. Interaksi
yang terjadi antara orang Arab dan kaum Nasrani pada masa jahiliyah dan Islam.
b. Kesamaan
kehidupan antara sufi dan Yesus dan Rahib dalam masalah ajaran, tata cara riyadah,
ibadah dan tata cara berpakaian.
3. Sebagian
yang lain berpendapat bahwa irfani bersumber dari India seperti pendapat Horten
dan Hartman. Alasan yang diajukan adalah:
a. Kemunculan
dan penyebaran irfani pertama dari Khurasan.
b.
Kebanyakan
para sufi angkatan pertama bukan dari kalangan Arab.
c. Turkistan adalah pusat agama dan kebudayaan timur
dan barat sebelum Islam yang sedikit
banyak memberi pengaruh mistisisme.
d. Konsep
dan metode irfani seperti keluasan hati dan pemakaian tasbih merupakan
praktik-praktik dari India.
4. Sebagian
yang lain berpendapat bahwa irfan berasal dari Yunani, khususnya neo-platonisme
dan Hermes. Alasannya sederhana bahwa theologi Aristoteles merupakan paduan
antara sistem porphiry dan proclus yang sudah dikenal dalam
Islam.[18]
Namun
demikian, penulis cenderung berpendapat bahwa irfani tidak berasal dari luar
Islam sebab kehidupan Rasulullah saw. para sahabat dan tabiin menunjukkan bahwa
mereka dalam suatu waktu akan menggunakan irfani bahkan mempraktikkan irfani,
meskipun penamaannya belum ada.
Salah
satu bukti bahwa Rasulullah saw. membenarkan bahkan mengakui akan keberadaan
makna irfani adalah hadisnya yang berbunyi:
إن الله قال من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب
وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل
حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش
بها ورجله التي يمشي بها وإن سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه.[19][36]
Artinya:
Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang menyakiti seorang wali maka aku
mengumandangkan perang dengannya, hambaku tidaklah mendekatkan diri kepadaku
dengan sesuatu yang paling aku cintai melainkan apa yang aku wajibkan padanya
dan hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan hal-hal yang sunnah
hingga aku mencintainya. Jika aku sudah mencintainya maka akulah pendengaran
yang digunakan mendengar, penglihatan yang digunakan melihat, tangan yang
digunakan memukul dan kaki yang digunakan berjalan, Jika dia meminta padaku aku
akan memberikannya dan jika dia berlindung kepadaku maka aku akan
melindunginya”.
Sedangkan
riyadah dalam irfani sering kali dilakukan oleh Rasulullah saw. dan
sahabat-sahabatnya seperti khulwah (penyepian), tinggal di mesjid Nabawi
dan prilaku individu sahabat.
Pada
perkembangan berikutnya istilah yang dapat mewakili makna irfani mulai beragam.
Dalam filsafat misalnya dikenal istilah intuisi sedangkan dalam tafsir dikenal
istilah isyari.
C.
Keunggulan dan Keterbatasan Epistimologi Irfani
Pada prinsipnya, Islam
telah memiliki epistemologi yang komprehensif sebagai kunci untuk mendapatkan
ilmu pengetahuan. Hanya saja dari tiga kecenderungan epistemologis irfani,
dalam perkembangannya lebih didominasi oleh corak berpikir bayani yang sangat
tekstual dan corak berpikir irfani (kasyf) yang sangat sufistik. Kedua
kecenderungan ini kurang begitu memperhatikan pada penggunaan rasio secara
optimal.[20]
1.
Keunggulan irfani adalah
bahwa segala pengetahuan yang bersumber dari intuisi-intuisi, musyahadah,
dan mukasyafah lebih dekat dengan kebenaran dari pada ilmu-ilmu yang
digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal. Bahkan kalangan sufi
menyatakan bahwa indra-indra manusia dan fakultas akalnya hanya menyentuh wilayah
lahiriah alam dan manifestasi-manifestasinya, namun manusia dapat berhubungan
secara langsung (immediate) yang bersifat intuitif dengan hakikat
tunggal alam (Allah) melalui dimensi-dimensi batiniahnya sendiri dan hal ini
akan sangat berpengaruh ketika manusia telah suci, lepas, dan jauh dari segala
bentuk ikatan-ikatan dan ketergantungan-ketergantungan lahiriah.[21]
2.
keterbatasan irfani antara lain adalah bahwa ia
hanya dapat dinikmati oleh segelintir manusia yang mampu sampai pada taraf
pensucian diri yang tinggi. Di samping itu, irfani sangat subjektif menilai
sesuatu karena ia berdasar pada pengalaman individu manusia.
Metode kasyf dalam
kritik epistemologi, bukanlah suatu pola yang berada di atas akal, seperti yang
diklaim irfaniyyun. Bahkan ia tidak lebih dari sekedar pemikiran yang paling
rendah dan bentuk pemahaman yang tidak terkendali. Irfaniyyun masuk ke alam
mistis yang telah ada dalam pemikiran agama-agama Persi kuno, yang dikembangkan
pemikir-pemikir Hermeticism. Apa yang mereka alami “ mungkin benar “ atau
barangkali “kebenaran karena kebetulan “, akan tetapi tidak akan dapat
menyelesaikan masalah.[22]
Pendekatannya yang
supra-rasional, menafikan kritik atas nalar, serta pijakannya pada logika
paradoksal yang segalanya bisa diciptakan tanpa harus berkaitan dengan
sebab-sebab yang mendahuluinya, mengakibatkan epistemologi ini kehilangan
dimensi kritis dan terjebak pada nuansa magis yang berandil besar pada
kemunduran pola pikir manusia.
D.
Konstruksi Epistemologi
Irfani
1. Sumber
Epistemologi irfani bersumber
dari intuisi-intuisi, musyahadah, dan mukasyafah lebih dekat
dengan kebenaran dari pada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi
rasional dan akal. Bahkan kalangan sufi menyatakan bahwa indra-indra manusia
dan fakultas akalnya hanya menyentuh wilayah lahiriah alam dan
manifestasi-manifestasinya, namun manusia dapat berhubungan secara langsung (immediate)
yang bersifat intuitif dengan hakikat tunggal alam (Allah) melalui
dimensi-dimensi batiniahnya sendiri dan hal ini akan sangat berpengaruh ketika
manusia telah suci, lepas, dan jauh dari segala bentuk ikatan-ikatan dan
ketergantungan-ketergantungan lahiriah.
Mengenai taksonomi epistemologi pengetahuan irfani adalah dari segi sumber
pengetahuan yang lain, ia bersumber dari kedalaman wujud sang ‘arif
itu sendiri; dari segi media/alat pengetahuan, ia bersumber dari
kedalaman-kesejatian wujud sang ‘arif;
dari segi objek pengetahuan, ia menjadikan wujud sebagai objek kajiannya; dari
segi cara memperoleh pengetahuan, ia diperoleh dengan cara menyelami wujud
kedirian melalui metode riyadah.
Dengan
intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses
penalaran tertentu. Ciri khas intuisi antara lain; zauqi (rasa) yaitu
melalui pengalaman langsung, ilmu hudur yaitu kehadiran objek dalam diri
subjek, dan eksistensial yaitu tanpa melalui kategorisasi akan tetapi
mengenalnya secara intim. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari
evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat personal.[23]
2.
Methodenya
Untuk mendapatkan
pengetahuan dalam aliran Epistemologi irfani adalah dengan menggunakan
ayat-ayat berdasarkan pengalaman pribadinya.
Dalam surah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah
saw., dijelaskan bahwa ada dua cara mendapatkan pengetahuan. pertama melalui
"pena" (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua
melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah 'llm
Ladunny seperti ilmu yang diperoleh oleh Nabi Haidir:
#yy`uqsù #Yö6tã ô`ÏiB !$tRÏ$t6Ïã çm»oY÷s?#uä ZpyJômu ô`ÏiB $tRÏZÏã çm»oY÷K¯=tæur `ÏB $¯Rà$©! $VJù=Ïã
Artinya: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di
antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi
kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.[24]
Dari penjelasan-penjelasan ayat ini seorang yang
menggunakan pendekatan irfani akan dapat memahami pesan-pesan yang tersirat,
oleh karenanya ia akan mampu menemukan suatu pengalaman bathin yang tidak dapat
dijelaskan secara ilmiah kepada orang lain. Seperti banyak para sufi yang
menemukan pengalaman pribadinya dari kajian-kajian ayat yang kemudian ia
jadikan dasar untuk menemukan kebenaran dan pengetahuan.
3. Verifikasi
Untuk menverifikasi kebenaran pengetahuan dari
epitemologi irfani adalah dengan cara korensponden. Yaitu dengan
cara melakukan secara berulang-ulang dan terjadi lebih dari satu waktu.
E.
Implikasi Epistimologi Irfani Terhadap
Perubahan Mindset Pengawasan Pendidikan
1. Pengertian
Pengawas
Istilah pengawas dalam bahasa inggris
disebut dengan supervisor, dan pengawas berarti orang yang diberi tugas
untuk mengawasi. Sedangkan jika mengacu pada Surat Keputusan Menteri Negara
Aparatur Negara Nomor 118/1996 dan Keputusan Menteri Agama Nomor 381 tahun 1999
dinyatakan bahwa pengawas sekolah atau pengawas pendidikan adalah pegawai
negeri sipil yang diberikan tugas, tanggung jawab serta wewenang secara penuh
pleh pejabat yang berwenang dalam melaksanakan pengawsan guna melihat bagaimana
pelaksanaan, penilaian, serta pembunaan yang berkaitan dengan tatacara, teknis, administrasi serta pekerjaan
sejenis pada satuan pendidikan dasar dan menengah [25].
2. Definisi Pengawasan Pendidikan
Seperti yang
diungkapkan Weihrich dan Koontz (2005) dalam Nur Aedi (2014) mengatakan bahwa;
ada lima fungsi manajemen, yaitu planning, organizing, staffing, leading,
and controlling. Namun pada kesempatan ini kita akan membahas salah satu
fungsi yaitu controlling (pengawasan) dalam konteks administrasi dan manajemen
pendidikan yang kemudian dikenal dengan istilah pengawasan pendidikan.
Weihrich dan
Koontz (2005) dalam Nur Aedi (2014) mengatakan bahwa; pengawasan (controlling)
adalah salah satu fungsi manajemen yang mengukur dan melakukan koreksi atas
kinerja atau upaya yang sedang dilakukan dalam rangka meyakinkan atau
memastikan tercapainya tujuan dan rencana yang telah ditetapkan.
Sutisna (1989;240)
dalam Nur Aedi (2014), mengatakan bahwa; pengawasan ialah fungsi administrative
di mana administrator memastikan bahwa apa yang dikerjakan sesuai dengan yang
dikehendaki. Pengawasan di dalamnya terdapat aktifitas pemeriksaan apakah semua
berjalan sesuai dengan renca yang dibuat, instruksi yang dikeluarkan dan
prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Selain itu pengawsan juga dimaksudkan
untuk menunjukan kelemahan yang ada dalam pelaksanaan serta upaya melakukan
peerbaikan serta pencegahan agar kelemahan atau kesahan tersebut tidak terulang
kembali. Pengertian pengawasan yang lebih lengkap dikemukakan oleh Machler
(1972:2) dalam Nur Edi (2014), mengatakan bahwa pengawsan sebagai usaha
sistematik mentapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem
informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar, menentukan
dan mengukur deviasi-deviasi dan mengambil tindakan koreksi yang menjamin bahwa
semua sumber daya yang dimiliki telah dipergunakan dengan efektif dan efisien. Dari
penegrtian yang telah dikemukan oleh Machler di atas, jelaslah bahwa kegiatan
pengawasan bukan hanya memonitor pelaksanaan pekerjaan atau program melainkan
pengawasan dimulai dari penetapan standar pelaksanaan, dengan kata lain
pengawasan terintegrasi dengan kegiatan perencanaan.
Dalam konteks
manajemen pendidikan, pengawasan bukanlah sekedar control untuk melihat apakah
pelaksanaan kegiatan telah dilakukan susai dengan rencana, melainkan lebih dari
itu. Yaitu penajaman oreantasi[26]. Pengawasan dalam pendidikan memiliki
pengertian yang lebih luas. Kegiatan pengawasan dalam manajemen pendidikan
meliputi penentuan syarat-syarat personal dan usha untuk memenuhi syarat-syrata
tersebut.
Dalam konteks
persekolahan, pengawasan mempunyai kawasan tugas sebagai bagian dari kegiatan
sekolah yang langsung berhubungan dengan pengajaran tetapi tidak langsung
berhubungan dengan siswa, oleh karena itu pengawasan tidak dapat diartikan
sebagai proses untuk mengawasi dan usaha memperbaiki pengawsan saja namun lebih
luas dari itu. Kegiatan pengawasan
bertujuan untuk memperbaiki proses hasil belajar mengajar[27].
Penulis dapat
menyimpulkan lebih lanjut bahwa proses sistematis tersebut di mulai dari
penentuan standar kinerja, dan indicator kinerja, penyusunan instrument
pengawasan yang tepat, pengumpulan data dengan instrument pengawsan yang telah
dibuat, pegolahan data, analisis data, pengambilan keputusan/ tindakan, atau
pemberian umpan balik berdasarkan analisi data hasil pengasawan guna mengambil
langkah berikutnya untuk dapat melaksnakan perbaikan berkelanjutan.
3.
Fungsi pengawasan pendidikan
Nur Aedi (2014) . mengemukakan ada beberapa fungsi kepengawasan yaitu;
a.
Fungsi informatif-progresif
Yaitu pimpinan atau manajer
pendidikan berbagai starta membutuhkan informasi tentang program, kegiatan
atau proses pendidikan yang sedang berlangsung. Informasi tersebut diperlukan
untuk mengetahui perkembangan kearah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Misalnya melalui pengawasan dapat diketahui kesiapan siswa menghadapi ujian
nasional. Dan lain-lain.
b.
Fungsi pengecekan-prefentif
Yaitu langkah pengecekan dan
pencegahan agar pelaksanaan program menjalankan program sesuai dengan rencana,
petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis, ketentuan atau stadar pelaksanaan
program yang telah ditetapkan.
c.
Fungsi korektif
Yaitu bila terjadi kesalahan atau
penyimpangan dalam pelaksanaan program/kegiatan, maka pengawas dalam batas
tertentu diberikan kewenagan untuk mengarahkan atau melakukan tindakan
perbaikan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya
4. Tujuan
pengawasan pendidikan
Yudha (2009:53) dalam Nur Aedi (2014) . Menegmukan ada
beberapa tujuan pengawasan pendidikan yaitu;
a.
Untuk memastikan pelaksanaan kegiatan sesuai
dengan rencana yang telah ditetapkan;
b.
Memastikan tujuan, target dan sasaran dari
program kegiatan atau kebijakan pendidikan dapat tercapai
c.
Untuk mengetahui kesulitan-kesulitan apa yang di
jumpai oleh para pelaksana sehingga dengan demikian dapat di ambil
langkah-langkah perbaikan di kemudian hari;
d.
Mempermudah atau memperingan tugas
pelakasna,karena pelakasana tidak mungkin dapat melihat kemungkinan-kemungkinan
kesalahan yang dibuatnya karena kesibukan sehari-hari dan;
e.
Pengawasan bukanlah untuk mencari-cari kesalahan
tetapi untuk memperbaiki kesalahan.
Dari semua penjelasan
baik dari aspek teoritis maupun praktisnya tentang pengawas, dapat penulis
jelaskan inplikasinya dari epistimologi irfani adalah;
1)
Dalam pelaksanaan tugas dan wewenang
pengawas di hadapakan pada dua aspek penting yaitu manusia dan program kerja.
Ketika berhadapan dengan manusia atau pelaksana program itu maka seorang
pengawas harus mampu memahami karakter dan kondisi rill dari pribadi tesebut,
karena setiap maniusia tentunya memiliki karakter dan latar belakang problem
yang berbeda-beda, oleh karenya seorang pengawas tidak boleh menilai sesorang
atau pelaksna program dengan pendekatan kontekstual tampa memahami kondisi baik
secara psikologis maupun sosiologinya. Menurut penulis disinilah fungsi
epistimologis irfani tersebut, karena konsep dasar irfani adalah dengan
menggunakan hati atau rasa. Artinya manusia atau seseorang
walaupun dia malekukan keslahan sebesar apapun namun tetap saja dia memiliki
perasaan yang jika kita meyentuh pada wilayah rasa, hal ini dapat merubah
pribadi tersebut bisa berdampak lebih baik dan bias lebih buruk.contoh
kongkritnya adalah jika seorang kepala sekolah atau guru bersalah maka pengawas
tidak serta merta memarahi atau menghukumnya didepan siswa atau guru-guru lain.
Hal ini kalau dilakukan tentu dampak negatiflah yang didapat, bukan solusi
namun problem baru yang diperoleh.
2)
Ketika pengawas menilai sebuah program kerja
apakah terlaksana dengan baik atau tidak tentunya pengawas tidak serta merta
langsung menyalahkan pelaku atau pembuat program tersebut, seorang pengawas
dengan pendekatan epistimologi irfani harus mampu menilai semua kelemahan dan
kekurangan dari program itu dengan sangat arif. Yang penulis
maksudkan adalah pengawas tidak boleh megambil kesimpulan dari kegagalan
program hanya dari aspek materinya saja, namun pengawas harus dapat melihat
dari aspek non materinya, karena kegagalan sesuatu bukan semata-mata factor manusia
atau tidak baiknya sebuah program kerja tetapi bias juga karena factor-faktor lain. Misalnya karena
lingkungan yang tidak medukung atau karena geoghrafis, interpertasi yang bias
dalam tataran aplikasi lapangan atara stakeholder pendidikan yang semua itu
dapat menjadi factor-faktor kegagalan dalam sebuah program kerja, sehingga
tidak terlaksana dengan efektif atau bahkan tidak terlaksana sama sekali.
3)
Epistimologi irfani menurut penulis sangat dapat
merubah mindset para pengawas dari mindset instan dan materialistic berubah
menjadi mindset lebih arif dan bijak dengan menggunakan hati dan rasa.
Sehingga menurut penulis kalau saja selama ini seorang pengawas pendidikan
dapat mengolah mindsetnya dengan methodology irfani pendidikan kita tentunya
akan lebih maju, problem-problem lapangan akan tertasi dengan cepat,
solusi-solusi solutif dan konstruktif
akan mudah di peroleh.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bertolak
dari pemaparan dan penjelasan yang telah diuraikan di atas, dapat ditarik
beberpa poin sebagai kesimpulan pembahasan sebagai berikut:
1.
Epistemologi irfani adalah epistemologi yang
beranggapan bahwa ilmu pengetahuan adalah kehendak (iradah). Epistemologi
ini memiliki metode yang khas dalam mendapatkan pengetahuan, yaitu kasyf.
Metode ini sangat unique karena tidak bisa dirasionalkan dan
diperdebatkan. Penganut epistemologi ini adalah para sufi, oleh karenanya
teori-teori yang dikomunikasikan menggunakan metafora dan tamsil, bukan
dengan mekanisme bahasa yang definite (nyata).
2.
Keunggulan irfani adalah
bahwa segala pengetahuan yang bersumber dari intuisi-intuisi, musyahadah,
dan mukasyafah lebih dekat dengan kebenaran dari pada ilmu-ilmu yang
digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal.
3.
keterbatasan irfani antara lain adalah bahwa ia
hanya dapat dinikmati oleh segelintir manusia yang mampu sampai pada taraf
pensucian diri yang tinggi. Di samping itu, irfani sangat subjektif menilai
sesuatu karena ia berdasar pada pengalaman individu manusia.
4.
Epistimologi irfani sangat diperlukan oleh
seorang pengawas pendidikan guna merubah mindsetnya untuk lebih arif dan
bijaksana, dan lebih jauh dari itu pengawas dalam menghadapi problem lapangan
tidak serta merta menilai dan mengambil kesimpulan dari factor materinya
tetapti harus melihat dari aspek-aspek lain yang bersifat non materi.
DAFTAR RUJUKAN
Ahmad
Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales
Hingga Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.
A. Khudori
Soleh, Model-model Epistemologi Islam , www.lowcostprepaid.com, (di
Donload pada tanggal 12 Nopember 2015).
A. Khudori Soleh, Epistemologi Bayani, www.id.shvoong.com/tags/episemologi-bayani,(di
Donload pada tanggal 12 Nopember 2015)
A. Khudori Soleh, Epistemologi Irfani, www.khudorisoleh.blogspot.com., (di
Donload pada tanggal 12 Nopember 2015)
M.
Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an tentang Epistemologi, www.i.epistemology.net,( 12
Nopember 2015).
Mulyadhi
Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam. Bandung: Mizan. 2003.
Muhammad
Kurdi, Pendekatan Bayani, Burhani dan Irfani dalam Ranah Ijtihadi
Muhammadiyah, www.muhammad-kurdi.blogspot.com (13
Nopember 2015).
Muslimindonesia,
Pemahaman Sederhana terhadap Tiga Epistemologi, www.muslimindonesia.wordpress.com, (13
Nopember 2015).
The
Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu.Bandung : The Science and Tecnolody
Stues Foundation, 1987.
Wahib Wahab, Rekonstruksi Epistemologi
Burhani Penyelarasan Metodologi Dalam Perspektif Al-Jabiri. www.bahrudinonline.netne.net, (12
Nopember 2015).
[1] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu (Bandung
: The Science and Tecnolody Stues Foundation, 1987), h. 83.
[2] Amad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak
Thales Hingga Capra (Cet.
VIII; Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2000), h. 23.
[4] Mulyadi Kartanegara, Menembus
Batas Waktu Panorama Filsafat Islam (Cet. II; Bandung: Mizan Pustaka,
2005), h. 66.
[9] Ahmad Muslim, Pemahaman Sederhana
terhadap Tiga Epistemologi, www.muslimindonesia.wordpress.com, (12 Nopember 2015).
[13]
M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an tentang Epistemologi, www.i.epistemology.net, (12 Nopember
2015).
[14]
Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar
Epistemologi Islam; Bandung: Mizan,
2003( h. 60-61)
[15]
QS: Al-Kahfi: 65.
[16]
M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an tentang Epistemologi, www.i.epistemology.net, (12 November 2015).
[17]
Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam (Cet. I; Bandung: Mizan, 2003), h.
62-63.
[19]
Abu Abdillah Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Juz. V
(Cet. III; Bairut: Dar Ibnu Kasir, 1407 H./1987 M.), h. 2384.
[21]
Mohammad Adlany, Esensi Pengetahuan dalam Irfan, www.teosophy.wordpress.com ( 13
Nopember 2015).
[22]
Mohammad Adlany, Esensi Pengetahuan dalam Irfan, www.teosophy.wordpress.com (13
Nopember 2015).
[23]
Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar
Epistemologi Islam; Bandung: Mizan,
2003( h. 60-61)
[24] QS: Al-Kahfi: 65.
[25]
Aedi,Nur.Pengawsan Pendidikan Tinjauan Teori
dan Praktik.Jakarta: Rajawai Pers, 2014.(hal vii )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar