Rabu, 06 April 2016

EPISTEMOLOGI IRFANI

Oleh: Sanusi Hamzah Al-Yasin

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ilmu pengetahuan dan teknologi yang hingga saat ini menjadi kunci yang paling mendasar dari kemajuan yang diraih umat manusia, tentunya tidak datang begitu saja tanpa ada sebuah dinamika atau diskursus ilmiah. Proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan itulah lazim dikenal dengan istilah epistemologis.
Secara etimologis, Epistemologi merupakan bentukan dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu Episteme yang berarti pengetahuan dan Logos yang juga berarti pengetahuan atau informasi. Dari pengertian secara etimologis tersebut di atas dapatlah dikatakan bahwa Epistemologi merupakan pengetahuan tentang pengetahuan.
Pengertian dari segi terminologi, The Liang Gie dalam bukunya Pengantar Filsagfat Ilmu mendefenisikan bahwa:
“Epistemologi adalah teori pengetahuan yang membahas berbagai segi pengetahuan seperti kemungkinan, asal mula sifat alami, batas-batas, asumsi dan landasan, validitas dan realibilitas sampai soal kebenaran”.[1]
Lebih lanjut Ahmad Tafsir mengungkapkan bahwa Epistemologi membicarakan sumber ilmu pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan.[2]
Oleh karena itu, epistemologis ini menempati posisi yang sangat strategis, karena ia membicarakan tentang cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Mengetahui cara yang benar dalam mendapatkan ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan hasil yang ingin dicapai yaitu berupa ilmu pengetahuan. Pada kelanjutannya kepiawaian dalam menentukan epistimologis, akan sangat berpengaruh pada warna atau jenis ilmu pengetahuan yang dihasilkan.
Sejarah telah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan dunia sekitar abad ke-7 sampai abad ke-15. Setelah itu, masa keemasan itu mulai melayu, statis, bahkan mundur hingga abad ke-21 ini.[3]
Fasilitas pengetahuan manusia meliputi panca indera yang dapat mengamati objek-objek fisik, akal/rasionalitas yang mampu mengenal objek fisik dan nonfisik dengan menyimpulkan dari yang telah diketahui menuju yang tidak diketahui dan hati (qalb) yang menangkap nonfisik atau metafisika melalui kontak langsung dengan objek yang hadir dalam jiwa.[4] Fasilitas-fasilitas tersebut yang yang memungkinkan manusia mengetahui realitas alam semesta yang bertingkat-tingkat wujudnya dalam suatu hirarkis. Oleh karena itu, dalam epistemologi Islam, dikenal realitas fisik dan non-fisik, baik berupa realitas imajinal (mental) maupun realitas metafisika.[5]
Hal tersebut ditegaskan dalam al-Qur’an QS. Al-Sajadah: 7-9:
üÏ%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&yt/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ   ¢OèO Ÿ@yèy_ ¼ã&s#ó¡nS `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ä!$¨B &ûüÎg¨B ÇÑÈ   ¢OèO çm1§qy yxÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ¾ÏmÏmr ( Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur 4 WxÎ=s% $¨B šcrãà6ô±n@ ÇÒÈ  
Artinya: “Dia memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam (tubuh manusia) dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati tetapi kamu sedikit sekali bersyukur”.[6]
Ketiga organ tubuh disebutkan secara khusus karena itulah yang akan berguna kepada manusia dalam kehidupan duniawi dan agama, sekaligus alat atau media dalam memperoleh ilmu pengetahuan.[7] Dengan demikian, Sebuah pengetahuan akan diperoleh melalui pendengaran atau  bisa disebut bayani yakni mengandalkan pendengaran akan teks-teks yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, atau melalui penglihatan dengan menganalisa apa yang dilihat dan apa yang dilakukan oleh Rasulullah, sahabat dan para pengikutnya, sedangkan hati dapat mengantarkan seseorang untuk menimbang mana yang terbaik untuk diterapkan.     
Hal itu terjadi, karena Islam dalam kajian pemikirannya paling tidak menggunakan beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi). Setidaknya ada tiga model sistem berpikir dalam Islam, yakni bayani, irfani dan burhani yang masing-masing mempunyai pandangan yang berbeda tentang pengetahuan. Ketiga sistem atau pendekatan tersebut dikenal juga tiga aliran pemikiran epistemologi Barat dengan bahasa yang berbeda, yakni empirisme, rasionalisme dan intuitisme. Sementara itu, dalam pemikiran filsafat Hindu dinyatakan bahwa kebenaran bisa didapatkan dari tiga macam, yakni teks suci, akal dan pengalaman pribadi.[8]
Selain sebagai instrumen untuk mencari kebenaran, ketiga epistemologi tersebut juga bisa digunakan sebagai sarana identifikasi cara berfikir seseorang. Pemahaman paling sederhana pada ketiga epistemologi ini adalah jawaban dari pertanyaan, “Dengan apakah manusia mendapatkan kebenaran?”.[9]
Seorang filosof dengan corak berfikir burhani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari akal atau panca indera. Dengan kedua sarana ini manusia memunculkan dua dikotomi antara apa yang disebut rasional dan irrasional. Rasional adalah sebuah kebenaran, sebaliknya irrasional adalah sebuah kesalahan.[10]
Selanjutnya orang yang memiliki corak berfikir bayani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari teks. Rasio tidak memiliki tempat dalam pembacaan mereka terhadap kebenaran. Ketercukupan golongan ini terhadap teks memasukkan mereka pada golongan fundamental literalis. Sedangkan orang yang memiliki corak berfikir irfani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari wahyu, ilham, wangsit dan sejenisnya. Pola berfikir demikian akan membangun sebuah struktur masyarakat yang memiliki hirarki atas bawah.[11] . Namun pada kesempatan ini  Penulis hanya membahas Epistemologi Irfani saja karena sesuai dengan ruang lingkup pembahasan yang dapat Penulis kaji dan analisis.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa sebenarnya yang dimaksud dengan epistemologi irfani?
2.      Bagaimana sejarah kemunculan dan perkembangan epistemologi irfani?
3.      Apa saja keunggulan dan keterbatasan epistemologi irfani?
4.      Apa konstruksi epistemologi irfani ?
5.      Implikasi epistimologi irfani terhadap perubahan mindset pengawas pendidikan.

C.    Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan yang dicapai dalam pembahasan makalah ini adalah:
1.      Untuk memahami dan menganalisis apa yang dimaksud dengan epistimologi irfani
2.      Untuk mengetahui dan menganalisis sejarah kemunculan dan perkembangan epistimologi irfani
3.      Dapat mengidentifikasi dan menganalisis  keunggulan dan keterbatasan epistimologi irfani
4.    Untuk mengetahui Apa konstruksi epistemologi irfani ?
5.    Implikasi epistimologi irfani terhadap perubahan mindset pengawas pendidikan




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian  Irfani
Irfani merupakan bahasa Arab yang terdiri dari huruf ع- ر-ف  memiliki dua makna asli, yaitu sesuatu yang berurutan yang sambung satu sama lain dan bermakna diam dan tenang.[12] Namun secara harfiyah al-‘irfan adalah mengetahui sesuatu dengan berfikir dan mengkaji secara dalam. Dengan demikian al-‘irfan lebih khusus dari pada al-‘ilm.[13]        
Secara termenologi, irfani adalah pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakikat oleh Tuhan kepada hambanya (al-kasyf) setelah melalui riyadah.
Contoh konkrit dari pendekatan 'irfani lainnya adalah falsafah isyraqi yang memandang pengetahuan diskursif (al-hikmah al-batiniyyah)  harus dipadu secara kreatif harmonis dengan pengetahuan intuitif (al-hikmah al-zawqiyah). Dengan pemaduan tersebut pengetahuan yang diperoleh menjadi pengetahuan yang mencerahkan, bahkan akan mencapai al-hikmah al-haqiqiyyah. Pengalaman batin Rasulullah saw. dalam menerima wahyu al-Qur'an merupakan contoh konkrit dari pengetahuan irfani.
Dapat dikatakan, meski pengetahuan irfani bersifat subyekyif, namun semua orang dapat merasakan kebenarannya. Artinya, setiap orang dapat melakukan dengan tingkatan dan kadarnya sendiri-sendiri, maka validitas kebenarannya bersifat intersubyektif dan peran akal bersifat partisipatif.
Implikasi dari pengetahuan 'irfani dalam konteks pemikiran keislaman, adalah menghampiri agama-agama pada tataran substantif dan esensi spiritualitasnya, dan mengembangkannya dengan penuh kesadaran akan adanya pengalaman keagamaan orang lain (the otherness) yang berbeda aksidensi dan ekspresinya, namun memiliki substansi dan esensi yang kurang lebih sama.
Dalam filsafat, irfani lebih dikenal dengan istilah intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. Ciri khas intuisi antara lain; zauqi (rasa) yaitu melalui pengalaman langsung, ilmu hudur yaitu kehadiran objek dalam diri subjek, dan eksistensial yaitu tanpa melalui kategorisasi akan tetapi mengenalnya secara intim. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat personal.[14]
Dalam surah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw., dijelaskan bahwa ada dua cara mendapatkan pengetahuan. pertama melalui "pena" (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah 'llm Ladunny seperti ilmu yang diperoleh oleh Nabi Haidir:
#yy`uqsù #Yö6tã ô`ÏiB !$tRÏŠ$t6Ïã çm»oY÷s?#uä ZpyJômu ô`ÏiB $tRÏZÏã çm»oY÷K¯=tæur `ÏB $¯Rà$©! $VJù=Ïã  
Artinya: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.[15]
Pengetahuan intuisi ada yang berdasar pengalaman indrawi seperti aroma atau warna sesuatu, ada yang langsung diraih melalui nalar dan bersifat aksioma seperti A adalah A, ada juga ide cemerlang secara tiba-tiba seperti halnya Newton ( 1642-1727 M) menemukan gaya gravitasi setelah melihat sebuah apel yang terjatuh tidak jauh dari tempat ia duduk dan ada juga berupa mimpi seperti mimpi Nabi Yusuf as. dan Nabi Ibrahim as.[16] 
Mengenai taksonomi epistemologi pengetahuan irfani adalah dari segi sumber pengetahuan, ia bersumber dari kedalaman wujud sangarif  itu sendiri; dari segi media/alat pengetahuan, ia bersumber dari kedalaman-kesejatian wujud sang arif; dari segi objek pengetahuan, ia menjadikan wujud sebagai objek kajiannya; dari segi cara memperoleh pengetahuan, ia diperoleh dengan cara menyelami wujud kedirian melalui metode riyadah.

B.   Asal Usul Epistemologi Irafani
Di penghujung abad pertama Hijriyah, telah terjadi pemindahan ilmu-ilmu kuno dari Iskandaria, pusat perkembangan filsafat Hermes ke dalam kebudayaan Islam Arab. Kehadiran ilmu-ilmu nonArab Islam ini mengundang sikap anti pati ulama ahl al-sunnah awal karena dianggap bertentangan dengan aqidah Islam. Ilmu-ilmu tersebut memasuki wilayah kebudayaan Islam melalui penerjemahan.
Kemapanan Pemerintahan Islam, terutama pada masa pemerintahan Abbasiyah, memberi peluang yang luas bagi komunitas Muslim untuk berkenalan dengan kebudayaan luar. Hal ini atas dukungan Khalifah al-Mansur yang sangat respek terhadap ilmu pengetahuan. Sejak itu, Baghdad telah banyak bersinggungan dengan filsafat Yunani. Ibnu Nadim dalam al-Fihrisat (pada masa kekuasaan al-Makmun; 811-833.M) banyak sekali mengalihbahasakan tulisan Aristoteles. Ini merupakan awal gerakan keilmuan yang menduduki posisi puncak dalam pengalihbahasaan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab (al-ta'rib), bahkan di dalam kebudayaan Arab Islam tulisan Aristoteles dianggap sebagai kitab induk sehingga dalam Dar al-Hikmah banyak sekali terkumpul manuskrip (makhtutat) di dalamnya.[17]
Para pakar berbeda pendapat tentang asal mula sumber irfani. Pendapat tersebut dapat diklasifikasi dalam beberapa poin sebagai berikut:
1.   Sebagian golongan menganggap bahwa irfani berasal dari Persia dan Majusi seperti yang disampaikan oleh Dozy dan Thoulk. Alasannya bahwa sejumlah orang-orang besar sufi berasal dari Khurasan dan kelompok Majusi.
2.   Sebagian yang lain mengatakan bahwa irfani bersumber dari Kristen sebagaimana yang diungkapkan oleh Von Kramer, Ignaz Goldziher, Nicholson dan yang lain. Alasan mereka paling tidak dapat dikelompokkan dalam dua poin, yaitu:
a.   Interaksi yang terjadi antara orang Arab dan kaum Nasrani pada masa jahiliyah dan Islam.
b.   Kesamaan kehidupan antara sufi dan Yesus dan Rahib dalam masalah ajaran, tata cara riyadah, ibadah dan tata cara berpakaian.
3.  Sebagian yang lain berpendapat bahwa irfani bersumber dari India seperti pendapat Horten dan Hartman. Alasan yang diajukan adalah:
a.   Kemunculan dan penyebaran irfani pertama dari Khurasan.
b.   Kebanyakan para sufi angkatan pertama bukan dari kalangan Arab.
c.  Turkistan adalah pusat agama dan kebudayaan timur dan barat sebelum Islam   yang sedikit banyak memberi pengaruh mistisisme.
d.  Konsep dan metode irfani seperti keluasan hati dan pemakaian tasbih merupakan praktik-praktik dari India. 
4.   Sebagian yang lain berpendapat bahwa irfan berasal dari Yunani, khususnya neo-platonisme dan Hermes. Alasannya sederhana bahwa theologi Aristoteles merupakan paduan antara sistem porphiry dan proclus yang sudah dikenal dalam Islam.[18]              
Namun demikian, penulis cenderung berpendapat bahwa irfani tidak berasal dari luar Islam sebab kehidupan Rasulullah saw. para sahabat dan tabiin menunjukkan bahwa mereka dalam suatu waktu akan menggunakan irfani bahkan mempraktikkan irfani, meskipun penamaannya belum ada.
Salah satu bukti bahwa Rasulullah saw. membenarkan bahkan mengakui akan keberadaan makna irfani adalah hadisnya yang berbunyi:
إن الله قال من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها وإن سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه.[19][36]
Artinya: Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang menyakiti seorang wali maka aku mengumandangkan perang dengannya, hambaku tidaklah mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang paling aku cintai melainkan apa yang aku wajibkan padanya dan hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan hal-hal yang sunnah hingga aku mencintainya. Jika aku sudah mencintainya maka akulah pendengaran yang digunakan mendengar, penglihatan yang digunakan melihat, tangan yang digunakan memukul dan kaki yang digunakan berjalan, Jika dia meminta padaku aku akan memberikannya dan jika dia berlindung kepadaku maka aku akan melindunginya”.
Sedangkan riyadah dalam irfani sering kali dilakukan oleh Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya seperti khulwah (penyepian), tinggal di mesjid Nabawi dan prilaku individu sahabat.     
Pada perkembangan berikutnya istilah yang dapat mewakili makna irfani mulai beragam. Dalam filsafat misalnya dikenal istilah intuisi sedangkan dalam tafsir dikenal istilah isyari.  

C.   Keunggulan dan Keterbatasan Epistimologi Irfani
Pada prinsipnya, Islam telah memiliki epistemologi yang komprehensif sebagai kunci untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Hanya saja dari tiga kecenderungan epistemologis irfani, dalam perkembangannya lebih didominasi oleh corak berpikir bayani yang sangat tekstual dan corak berpikir irfani (kasyf) yang sangat sufistik. Kedua kecenderungan ini kurang begitu memperhatikan pada penggunaan rasio secara optimal.[20]
1.             Keunggulan irfani adalah bahwa segala pengetahuan yang bersumber dari intuisi-intuisi, musyahadah, dan mukasyafah lebih dekat dengan kebenaran dari pada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal. Bahkan kalangan sufi menyatakan bahwa indra-indra manusia dan fakultas akalnya hanya menyentuh wilayah lahiriah alam dan manifestasi-manifestasinya, namun manusia dapat berhubungan secara langsung (immediate) yang bersifat intuitif dengan hakikat tunggal alam (Allah) melalui dimensi-dimensi batiniahnya sendiri dan hal ini akan sangat berpengaruh ketika manusia telah suci, lepas, dan jauh dari segala bentuk ikatan-ikatan dan ketergantungan-ketergantungan lahiriah.[21]
2.             keterbatasan irfani antara lain adalah bahwa ia hanya dapat dinikmati oleh segelintir manusia yang mampu sampai pada taraf pensucian diri yang tinggi. Di samping itu, irfani sangat subjektif menilai sesuatu karena ia berdasar pada pengalaman individu manusia.
Metode kasyf dalam kritik epistemologi, bukanlah suatu pola yang berada di atas akal, seperti yang diklaim irfaniyyun. Bahkan ia tidak lebih dari sekedar pemikiran yang paling rendah dan bentuk pemahaman yang tidak terkendali. Irfaniyyun masuk ke alam mistis yang telah ada dalam pemikiran agama-agama Persi kuno, yang dikembangkan pemikir-pemikir Hermeticism. Apa yang mereka alami “ mungkin  benar “ atau barangkali “kebenaran karena kebetulan “, akan tetapi tidak akan dapat menyelesaikan masalah.[22]
Pendekatannya yang supra-rasional, menafikan kritik atas nalar, serta pijakannya pada logika paradoksal yang segalanya bisa diciptakan tanpa harus berkaitan dengan sebab-sebab yang mendahuluinya, mengakibatkan epistemologi ini kehilangan dimensi kritis dan terjebak pada nuansa magis yang berandil besar pada kemunduran pola pikir manusia.

D.         Konstruksi Epistemologi Irfani
1.    Sumber
Epistemologi irfani bersumber dari intuisi-intuisi, musyahadah, dan mukasyafah lebih dekat dengan kebenaran dari pada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal. Bahkan kalangan sufi menyatakan bahwa indra-indra manusia dan fakultas akalnya hanya menyentuh wilayah lahiriah alam dan manifestasi-manifestasinya, namun manusia dapat berhubungan secara langsung (immediate) yang bersifat intuitif dengan hakikat tunggal alam (Allah) melalui dimensi-dimensi batiniahnya sendiri dan hal ini akan sangat berpengaruh ketika manusia telah suci, lepas, dan jauh dari segala bentuk ikatan-ikatan dan ketergantungan-ketergantungan lahiriah.
Mengenai taksonomi epistemologi pengetahuan irfani adalah dari segi sumber pengetahuan yang lain, ia bersumber dari kedalaman wujud sang ‘arif  itu sendiri; dari segi media/alat pengetahuan, ia bersumber dari kedalaman-kesejatian wujud sang ‘arif; dari segi objek pengetahuan, ia menjadikan wujud sebagai objek kajiannya; dari segi cara memperoleh pengetahuan, ia diperoleh dengan cara menyelami wujud kedirian melalui metode riyadah.
Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. Ciri khas intuisi antara lain; zauqi (rasa) yaitu melalui pengalaman langsung, ilmu hudur yaitu kehadiran objek dalam diri subjek, dan eksistensial yaitu tanpa melalui kategorisasi akan tetapi mengenalnya secara intim. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat personal.[23]
2.        Methodenya
Untuk mendapatkan pengetahuan dalam aliran Epistemologi irfani adalah dengan menggunakan ayat-ayat berdasarkan pengalaman pribadinya.
Dalam surah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw., dijelaskan bahwa ada dua cara mendapatkan pengetahuan. pertama melalui "pena" (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah 'llm Ladunny seperti ilmu yang diperoleh oleh Nabi Haidir:
#yy`uqsù #Yö6tã ô`ÏiB !$tRÏŠ$t6Ïã çm»oY÷s?#uä ZpyJômu ô`ÏiB $tRÏZÏã çm»oY÷K¯=tæur `ÏB $¯Rà$©! $VJù=Ïã  
Artinya: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.[24]
Dari penjelasan-penjelasan ayat ini seorang yang menggunakan pendekatan irfani akan dapat memahami pesan-pesan yang tersirat, oleh karenanya ia akan mampu menemukan suatu pengalaman bathin yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah kepada orang lain. Seperti banyak para sufi yang menemukan pengalaman pribadinya dari kajian-kajian ayat yang kemudian ia jadikan dasar untuk menemukan kebenaran dan pengetahuan.
3.    Verifikasi
Untuk menverifikasi kebenaran pengetahuan dari epitemologi irfani adalah dengan cara korensponden. Yaitu  dengan cara melakukan secara berulang-ulang dan terjadi lebih dari satu waktu.

E.         Implikasi Epistimologi Irfani Terhadap Perubahan Mindset Pengawasan Pendidikan
1.    Pengertian Pengawas
Istilah pengawas dalam bahasa inggris disebut dengan supervisor, dan pengawas berarti orang yang diberi tugas untuk mengawasi. Sedangkan jika mengacu pada Surat Keputusan Menteri Negara Aparatur Negara Nomor 118/1996 dan Keputusan Menteri Agama Nomor 381 tahun 1999 dinyatakan bahwa pengawas sekolah atau pengawas pendidikan adalah pegawai negeri sipil yang diberikan tugas, tanggung jawab serta wewenang secara penuh pleh pejabat yang berwenang dalam melaksanakan pengawsan guna melihat bagaimana pelaksanaan, penilaian, serta pembunaan yang berkaitan dengan  tatacara, teknis, administrasi serta pekerjaan sejenis pada satuan pendidikan dasar dan menengah [25].
2.     Definisi Pengawasan Pendidikan
Seperti yang diungkapkan Weihrich dan Koontz (2005) dalam Nur Aedi (2014) mengatakan bahwa; ada lima fungsi manajemen, yaitu planning, organizing, staffing, leading, and controlling. Namun pada kesempatan ini kita akan membahas salah satu fungsi yaitu controlling (pengawasan) dalam konteks administrasi dan manajemen pendidikan yang kemudian dikenal dengan istilah pengawasan pendidikan.
Weihrich dan Koontz (2005) dalam Nur Aedi (2014)  mengatakan bahwa; pengawasan (controlling) adalah salah satu fungsi manajemen yang mengukur dan melakukan koreksi atas kinerja atau upaya yang sedang dilakukan dalam rangka meyakinkan atau memastikan tercapainya tujuan dan rencana yang telah ditetapkan.
Sutisna (1989;240) dalam Nur Aedi (2014), mengatakan bahwa; pengawasan ialah fungsi administrative di mana administrator memastikan bahwa apa yang dikerjakan sesuai dengan yang dikehendaki. Pengawasan di dalamnya terdapat aktifitas pemeriksaan apakah semua berjalan sesuai dengan renca yang dibuat, instruksi yang dikeluarkan dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Selain itu pengawsan juga dimaksudkan untuk menunjukan kelemahan yang ada dalam pelaksanaan serta upaya melakukan peerbaikan serta pencegahan agar kelemahan atau kesahan tersebut tidak terulang kembali. Pengertian pengawasan yang lebih lengkap dikemukakan oleh Machler (1972:2) dalam Nur Edi (2014), mengatakan bahwa pengawsan sebagai usaha sistematik mentapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar, menentukan dan mengukur deviasi-deviasi dan mengambil tindakan koreksi yang menjamin bahwa semua sumber daya yang dimiliki telah dipergunakan dengan efektif dan efisien. Dari penegrtian yang telah dikemukan oleh Machler di atas, jelaslah bahwa kegiatan pengawasan bukan hanya memonitor pelaksanaan pekerjaan atau program melainkan pengawasan dimulai dari penetapan standar pelaksanaan, dengan kata lain pengawasan terintegrasi dengan kegiatan perencanaan.
Dalam konteks manajemen pendidikan, pengawasan bukanlah sekedar control untuk melihat apakah pelaksanaan kegiatan telah dilakukan susai dengan rencana, melainkan lebih dari itu. Yaitu penajaman oreantasi[26]. Pengawasan dalam pendidikan memiliki pengertian yang lebih luas. Kegiatan pengawasan dalam manajemen pendidikan meliputi penentuan syarat-syarat personal dan usha untuk memenuhi syarat-syrata tersebut.
Dalam konteks persekolahan, pengawasan mempunyai kawasan tugas sebagai bagian dari kegiatan sekolah yang langsung berhubungan dengan pengajaran tetapi tidak langsung berhubungan dengan siswa, oleh karena itu pengawasan tidak dapat diartikan sebagai proses untuk mengawasi dan usaha memperbaiki pengawsan saja namun lebih luas dari itu. Kegiatan  pengawasan bertujuan untuk memperbaiki proses hasil belajar mengajar[27].
Penulis dapat menyimpulkan lebih lanjut bahwa proses sistematis tersebut di mulai dari penentuan standar kinerja, dan indicator kinerja, penyusunan instrument pengawasan yang tepat, pengumpulan data dengan instrument pengawsan yang telah dibuat, pegolahan data, analisis data, pengambilan keputusan/ tindakan, atau pemberian umpan balik berdasarkan analisi data hasil pengasawan guna mengambil langkah berikutnya untuk dapat melaksnakan perbaikan berkelanjutan.
3.        Fungsi pengawasan pendidikan
Nur Aedi (2014) . mengemukakan ada beberapa fungsi kepengawasan yaitu;
a.       Fungsi informatif-progresif
Yaitu pimpinan atau manajer pendidikan  berbagai starta  membutuhkan informasi tentang program, kegiatan atau proses pendidikan yang sedang berlangsung. Informasi tersebut diperlukan untuk mengetahui perkembangan kearah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Misalnya melalui pengawasan dapat diketahui kesiapan siswa menghadapi ujian nasional. Dan lain-lain.
b.      Fungsi pengecekan-prefentif
Yaitu langkah pengecekan dan pencegahan agar pelaksanaan program menjalankan program sesuai dengan rencana, petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis, ketentuan atau stadar pelaksanaan program yang telah ditetapkan.
c.       Fungsi korektif
Yaitu bila terjadi kesalahan atau penyimpangan dalam pelaksanaan program/kegiatan, maka pengawas dalam batas tertentu diberikan kewenagan untuk mengarahkan atau melakukan tindakan perbaikan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya
4.    Tujuan pengawasan pendidikan
Yudha (2009:53) dalam Nur Aedi (2014) . Menegmukan ada beberapa tujuan pengawasan pendidikan yaitu;
a.       Untuk memastikan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan;
b.      Memastikan tujuan, target dan sasaran dari program kegiatan atau kebijakan pendidikan dapat tercapai
c.       Untuk mengetahui kesulitan-kesulitan apa yang di jumpai oleh para pelaksana sehingga dengan demikian dapat di ambil langkah-langkah perbaikan di kemudian hari;
d.      Mempermudah atau memperingan tugas pelakasna,karena pelakasana tidak mungkin dapat melihat kemungkinan-kemungkinan kesalahan yang dibuatnya karena kesibukan sehari-hari dan;
e.       Pengawasan bukanlah untuk mencari-cari kesalahan tetapi untuk memperbaiki kesalahan.
Dari semua penjelasan baik dari aspek teoritis maupun praktisnya tentang pengawas, dapat penulis jelaskan inplikasinya dari epistimologi irfani adalah;
1)        Dalam pelaksanaan tugas dan wewenang pengawas di hadapakan pada dua aspek penting yaitu manusia dan program kerja. Ketika berhadapan dengan manusia atau pelaksana program itu maka seorang pengawas harus mampu memahami karakter dan kondisi rill dari pribadi tesebut, karena setiap maniusia tentunya memiliki karakter dan latar belakang problem yang berbeda-beda, oleh karenya seorang pengawas tidak boleh menilai sesorang atau pelaksna program dengan pendekatan kontekstual tampa memahami kondisi baik secara psikologis maupun sosiologinya. Menurut penulis disinilah fungsi epistimologis irfani tersebut, karena konsep dasar irfani adalah dengan menggunakan hati atau rasa. Artinya manusia atau seseorang walaupun dia malekukan keslahan sebesar apapun namun tetap saja dia memiliki perasaan yang jika kita meyentuh pada wilayah rasa, hal ini dapat merubah pribadi tersebut bisa berdampak lebih baik dan bias lebih buruk.contoh kongkritnya adalah jika seorang kepala sekolah atau guru bersalah maka pengawas tidak serta merta memarahi atau menghukumnya didepan siswa atau guru-guru lain. Hal ini kalau dilakukan tentu dampak negatiflah yang didapat, bukan solusi namun problem baru  yang diperoleh.
2)        Ketika pengawas menilai sebuah program kerja apakah terlaksana dengan baik atau tidak tentunya pengawas tidak serta merta langsung menyalahkan pelaku atau pembuat program tersebut, seorang pengawas dengan pendekatan epistimologi irfani harus mampu menilai semua kelemahan dan kekurangan dari program itu dengan sangat arif. Yang penulis maksudkan adalah pengawas tidak boleh megambil kesimpulan dari kegagalan program hanya dari aspek materinya saja, namun pengawas harus dapat melihat dari aspek non materinya, karena kegagalan sesuatu bukan semata-mata factor manusia atau tidak baiknya sebuah program kerja tetapi bias juga  karena factor-faktor lain. Misalnya karena lingkungan yang tidak medukung atau karena geoghrafis, interpertasi yang bias dalam tataran aplikasi lapangan atara stakeholder pendidikan yang semua itu dapat menjadi factor-faktor kegagalan dalam sebuah program kerja, sehingga tidak terlaksana dengan efektif atau bahkan tidak terlaksana sama sekali.
3)        Epistimologi irfani menurut penulis sangat dapat merubah mindset para pengawas dari mindset instan dan materialistic berubah menjadi mindset lebih arif dan bijak dengan menggunakan hati dan rasa. Sehingga menurut penulis kalau saja selama ini seorang pengawas pendidikan dapat mengolah mindsetnya dengan methodology irfani pendidikan kita tentunya akan lebih maju, problem-problem lapangan akan tertasi dengan cepat, solusi-solusi solutif dan  konstruktif akan mudah di peroleh.
   

BAB III
PENUTUP


A.   Kesimpulan
Bertolak dari pemaparan dan penjelasan yang telah diuraikan di atas, dapat ditarik beberpa poin sebagai kesimpulan pembahasan sebagai berikut:
1.             Epistemologi irfani adalah epistemologi yang beranggapan bahwa ilmu pengetahuan adalah kehendak (iradah). Epistemologi ini memiliki metode yang khas dalam mendapatkan pengetahuan, yaitu kasyf. Metode ini sangat unique karena tidak bisa dirasionalkan dan diperdebatkan. Penganut epistemologi ini adalah para sufi, oleh karenanya teori-teori yang dikomunikasikan menggunakan metafora dan tamsil, bukan dengan mekanisme bahasa yang definite (nyata).
2.             Keunggulan irfani adalah bahwa segala pengetahuan yang bersumber dari intuisi-intuisi, musyahadah, dan mukasyafah lebih dekat dengan kebenaran dari pada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal.
3.             keterbatasan irfani antara lain adalah bahwa ia hanya dapat dinikmati oleh segelintir manusia yang mampu sampai pada taraf pensucian diri yang tinggi. Di samping itu, irfani sangat subjektif menilai sesuatu karena ia berdasar pada pengalaman individu manusia.
4.             Epistimologi irfani sangat diperlukan oleh seorang pengawas pendidikan guna merubah mindsetnya untuk lebih arif dan bijaksana, dan lebih jauh dari itu pengawas dalam menghadapi problem lapangan tidak serta merta menilai dan mengambil kesimpulan dari factor materinya tetapti harus melihat dari aspek-aspek lain yang bersifat non materi.





DAFTAR  RUJUKAN

Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Hingga Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.
A.  Khudori Soleh, Model-model Epistemologi Islam , www.lowcostprepaid.com, (di Donload pada tanggal 12 Nopember  2015).
A. Khudori Soleh, Epistemologi Bayani, www.id.shvoong.com/tags/episemologi-bayani,(di Donload pada tanggal 12 Nopember  2015) 
A. Khudori Soleh, Epistemologi Irfani, www.khudorisoleh.blogspot.com., (di Donload pada tanggal 12 Nopember  2015)
Hujair AH Sanaky, Dinamika Pemikiran dalam Islam, www.sanaky.staff.uii.ac.id, (13 Nopember  2015).
M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an tentang Epistemologi, www.i.epistemology.net,( 12 Nopember 2015). 
Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi  Islam. Bandung: Mizan. 2003.
Mohammad Adlany, Esensi Pengetahuan dalam Irfan, www.teosophy.wordpress.com (13 Nopember 2015).
Muhammad Kurdi, Pendekatan Bayani, Burhani dan Irfani dalam Ranah Ijtihadi Muhammadiyah, www.muhammad-kurdi.blogspot.com (13 Nopember 2015).   
Muslimindonesia, Pemahaman Sederhana terhadap Tiga Epistemologi, www.muslimindonesia.wordpress.com, (13 Nopember 2015).
Sejarah Tafsir dan Perkembangannya, www.abusalma.wordpress.com (12 Nopember 2015).
The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu.Bandung : The Science and Tecnolody Stues Foundation, 1987.
Wahib Wahab, Rekonstruksi Epistemologi Burhani Penyelarasan Metodologi Dalam Perspektif Al-Jabiri. www.bahrudinonline.netne.net, (12 Nopember 2015).






[1] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu (Bandung : The Science and Tecnolody Stues Foundation, 1987), h. 83. 
[2]  Amad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Hingga Capra  (Cet. VIII; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 23.
[3] Syamsul Ma’arif, Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), h. 18.
[4] Mulyadi Kartanegara, Menembus Batas Waktu Panorama Filsafat Islam (Cet. II; Bandung: Mizan Pustaka, 2005), h. 66. 
[5]  Mulyadi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam (Cet: I; Bandung: Mizan, 2002) h. 58.
[6]  Al-Qur’an dan Terjemah.
[7]  Mulyadi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam (Cet: I; Bandung: Mizan, 2002) h. 59
[8]  A. Khudori Soleh, Model-model Epistemologi Islam , www.lowcostprepaid.com, (12 Nopember  2015).
[9] Ahmad Muslim, Pemahaman Sederhana terhadap Tiga Epistemologi, www.muslimindonesia.wordpress.com, (12 Nopember 2015). 


[12] A. Khudori Soleh, Epistemologi Irfani, www.khudorisoleh.blogspot.com., (12 Nopember 2015).
[13] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an tentang Epistemologi, www.i.epistemology.net, (12 Nopember 2015). 

[14] Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi  Islam; Bandung: Mizan, 2003( h. 60-61)
[15]  QS: Al-Kahfi: 65.
[16] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an tentang Epistemologi, www.i.epistemology.net, (12 November 2015). 
[17] Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi  Islam (Cet. I; Bandung: Mizan, 2003), h. 62-63.

[18] A. Khudori Soleh, Epistemologi Irfani, www.khudorisoleh.blogspot.com., (12 Nopember 2015).
[19] Abu Abdillah Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Juz. V (Cet. III; Bairut: Dar Ibnu Kasir, 1407 H./1987 M.), h. 2384.
20 Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi  Islam (Cet. I; Bandung: Mizan, 2003), h. 62-63.
[21] Mohammad Adlany, Esensi Pengetahuan dalam Irfan, www.teosophy.wordpress.com ( 13 Nopember 2015).
[22] Mohammad Adlany, Esensi Pengetahuan dalam Irfan, www.teosophy.wordpress.com (13 Nopember 2015).

[23] Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi  Islam; Bandung: Mizan, 2003( h. 60-61)
[24]  QS: Al-Kahfi: 65.
[25] Aedi,Nur.Pengawsan Pendidikan Tinjauan Teori  dan Praktik.Jakarta: Rajawai Pers, 2014.(hal vii )
[26] Aedi,Nur.Pengawsan Pendidikan Tinjauan Teori  dan Praktik.Jakarta: Rajawai Pers, 2014.
[27] Aedi,Nur.Pengawsan Pendidikan Tinjauan Teori  dan Praktik.Jakarta: Rajawai Pers, 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar